BRUAK!!! Asti menggebrak meja didepannya. Semua mata diruangan langsung menatap Asti lekat-lekat.
"Kalian ini niat rapat atau enggak sih. Semuanya ribut sendiri-sendiri." sentak Asti yang dengan suksesnya membuat suasana di ruangan itu menjadi hening.
"Hey, kalian yang di pojokan. Ini bukan tempat mesum, tauk. Udah ach, rapat selesai!!!" Dengan sigap, Asti langsung mencangklong tas dan meninggalkan ruang rapat. Para peserta rapat hanya bisa mengantar kepergian Asti dengan pandangan mata bertanya-tanya.
"Asti kenapa sih Ren?" tanya Dika, yang juga termasuk peserta rapat tadi setelah kepergian Asti dari ruangan rapat. Reni yang ditanya pun hanya bisa mengangkat bahu tanda bahwa dia juga gak mengerti dengan keadaan Asti ini.
"Nah kamu kan sahabat kentalnya kan? Masak gak tau sih?" Yogi pun angkat bicara karena dia adalah wakil ketua rapat tadi, sedangkan Ketuanya adalah si Asti, cewek cantik yang akhir-akhir ini sering meluapkan emosi.
"Iya Ren, Asti itu kenapa? Dalam beberapa bulan ini sifatnya berubah 180 derajat" si Mona, cewek yang berada di pojokan saat rapat tadi berlangsung juga ikutan nimbrung.
"Hhhhh...... aku emang sahabatnya, tapi itu sebelum Asti seperti sekarang ini. Sejak ditinggal Nino, Asti jadi aneh. Ya seperti tadi." ucap Reni akhirnya untuk mengklarifikasi keadaan.
"Coba deh kamu ajak Asti bicara, mungkin dia masih terpukul atas kepergian Nino." ucap Yogi bijaksana. Sejenak kelihatan Reni berpikir, tapi kemudian kepalanya bergerak mengangguk. "Akan aku usahain, ini juga demi Majalah Kampus ini."
####################
'Satu persatu telah kuhapus
cerita lalu diantara engkau dan aku.
Dua hati pernah percaya
seribu mimpi tanpa ragu tanpa curiga.'
Terdengar suara Anggun mengalun menyayat hati didalam kamar Asti.
'Ku tak ingin lagi menunggu menanti.
Harapan tuk hidupkan cinta yang telah mati.
Kutak ingin coba, hanya tuk kecewa.
Lelah ku tersenyum, lelah ku bersandiwara.'
Diatas kasur, Asti menatap foto yang terbingkai indah. Foto dirinya bersama Nino, kekasihnya dulu sebelum akhirnya ajal menjemput Nino lewat kecelakaan balapan liar yang diikuti Nino. Asti hanya bisa tersenyum tanpa ada suara, tatapan matanya kosong.
####################
"ASTI" teriak Reni saat melihat Asti berjalan menyusuri parkiran. Asti yang mendengarnya langsung menghentikan langkah dan menoleh.
"Ih waw." Reni hanya bisa melongo melihat Asti hari ini. Asti hanya tersenyum menunggu Reni.
"Kamu beda As?!" kata itulah yang akhirnya keluar dari bibir mungil Reni.
"Beda apanya?" tanya Asti sambil tetap tersenyum.
"Lihat, kamu tersenyum." ucap Reni takjub, seperti terdengar dia sedang mengatakan "Lihat! ada bulan bisa ngomong!!!"
Asti hanya menyunggingkan senyum.
"Oh iya As, aku mau ngomong sama kamu." kata Reni teringat akan pembicaraan bersama anak-anak kemaren.
"Nah, sekalian perutku sedang laper. Mending kita ngobrolnya dikantin ajah yuuk...." ajak Reni sambil menggamit lengan Asti. Asti hanya menurut saja mengikuti langkah Reni yang menuju kanting yang masih lengang.
Setelah memesan nasi goreng, Reni duduk didepan Asti (duduk dibangku depannya Asti maksudnya, bukan di depannya Asti.)
"Kamu yakin gak makan?" tanya Reni sekali lagi, dan Asti hanya menggelengkan kepala untuk kesekian kalinya.
"Aku traktir deh, jarang-jarang loh aku yang nraktir." Asti hanya tersenyum dan menggelengkan kepala lagi.
"Oke deh, terserah kamu. Yang jelas kamu jangan nyesel loh ya."
"Kamu mau ngomongin apa?!" tanya Asti mengingatkan Reni akan tujuannya tadi.
"Tapi kamu janji gak akan marah kan?!" Asti tetap tersenyum dan mengangguk.
"Jadi gini, kemaren anak-anak tanya ke aku secara aku kan sahabat terdekatmu kan As. Mereka itu tanya, kenapa Asti sekarang berubah banget, suka emosian, gak kayak dulu yang sangat murah senyum. Tapi jujur As, hari ini aku seperti melihat Asti yang dulu." Sekali lagi Asti hanya tersenyum.
"Mereka merasa aku berubah?" Reni mengangguk dengan cepat.
"Suatu ketika kalian semua akan mengerti mengapa aku berubah." ucap Asti penuh misteri. Reni bingung mendengar ucapan Asti, tapi waktunya untuk berpikir telah tersita dengan nasi goreng yang kini sudah berada di hadapannya. Reni terlalu lapar untuk memikirkan ucapan Asti, mungkin saja Asti akan mengatakan penyebabnya suatu ketika. Itu pikirnya.
"Eh nanti siang kamu mau kemana As? Kita keluar yuuk, jalan-jalan. Udah lama nih kita gak jalan-jalan. Aku kan kangen." ucap Reni disela-sela sendokan nasi gorengnya.
"Aku ada acara nanti siang." jawaban Asti yang keluar telah membuat Reni sukses kecewa.
"Yaaaahhhh...... emang acara apaan As? Oh iya, Majalah Kampus gimana?"
"Mungkin aku akan lama gak urusin Majalah Kampus." jawab Asti sambil tetap tersenyum.
"LOH kok gitu? Kamu mau pulang kampung?" tebak Reni dan tetap senyumanlah jawaban yang diberikan Asti.
"Ya udah ya Ren, aku mau pergi. Gak ada waktu lagi. Titip kertas ini yach." ucap Asti yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Reni yang terbengong-bengong bersama nasi goreng di mulutnya.
'Mungkin Asti membutuhkan suasana baru dan mungkin itu bisa ia dapatkan dengan pulang kampung. Toh kampungnya di Bandung emang sangat nyaman dengan suasana yang menyejukkan.' begitulah pikir Reni sambil terus melanjutkan ritual makan nasi gorengnya. Namun di detik kesekian, Yogi datang mengagetkan Reni.
"Whei, ini anak malah disini." kejut Yogi yang membuat Reni terlonjak kaget dan menumpahkan nasi goreng di sendoknya yang akan masuk ke mulut mungilnya.
"Apaan sih?!" bentak Reni.
"Jiyaaahhh..... malah bilang apaan sih. Kamu denger kabar? si Asti kecelakaan semalem." Kata-kata Yogi seperti petir menyambar. Pandangan Reni menyiratkan ketidakpercayaan.
"Ha-ha-ha-ha..... Kamu kalau bercanda jangan sepagi ini dong. Gak lucu tauk." Reni pun tertawa sumbang menertawakan Yogi.
"Siapa yang bercanda Ren, aku tadi tuh dapat beritanya dari Rektor. Nah si Rektor ini ditelpon keluarganya, semalem Asti ngebut pulang ke Bandung dan mobilnya masuk jurang. Untung aja identitas............... polisi ................... dan ................. terus .................. Loh Ren." Kaget Yogi melihat Reni limbung dan terjatuh pingsan.
####################
"Reni, udah sadar." terdengar suara Mika.
"Kamu gak pa-pa Ren?!" suara Yogi terdengar gelisah.
"Reni......" panggilan Mona akhirnya membuat Reni sadar seutuhnya.
"Kalian .......... Asti ........" ucapan Reni terbata-bata.
"Sabar ya Ren, semua ini sudah takdir." Mika mencoba menenangkan tapi Reni masih belum bisa menangkap semua kenyataan yang telah terjadi.
"Reni, nanti kita sama-sama mau ke Bandung." ucap Mona
"Jadi berita itu benar, itu tidak mungkin. Asti baru saja tadi pagi cerita-cerita sama aku di kantin. Dia baru mau pulang kampung nanti siang." suara Reni terdengar sangat shock.
"Itu tidak mungkin kan?!" tanya Reni sekali lagi meminta jawaban dari mereka. Tapi Mika, Mona, dan lainnya hanya bisa menatap sedih kearah Reni.
"Kalian emang gak bakalan percaya, tadi......" Reni menghentikan pembicaraan dan teringat akan pemberian Asti. Dirogoh-rogohnya saku celananya dan ketemulah yang dicari.
"Ini buktinya! Asti nitip ini, ini sungguhan!!!" kata Reni sambil menyodorkan kertas pemberian Asti kearah Yogi. Yogi tampak ragu-ragu mengulurkan tangan menerima pemberian Reni.
"Buka Yog, apa isinya?" perintah reni kemudian, Yogi masih ragu-ragu walaupun tangannya mulai membuka kertas itu.
"Yog, apa isinya?" tanya Reni, namun Yogi sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Tatapan matanya menyiratkan ketidakpercayaan, ketakuta, dan kesedihan. "Kamu benar Ren, ini tidak mungkin terjadi." ucap Yogi akhirnya.
###################
Bulan ini Majalah Kampus telah terbit dan khusus edisi Bulan ini terlihat semua mahasiswa-mahasiswinya membeli Majalah Kampus yang bergambar foto Asti yang tersenyum sumringah di cover depannya. Majalah Kampus Bulan ini terjual habis bahkan masih banyak permintaan yang ditolak. Semua itu karena tulisan Asti di kertas yang telah dititipkan lewat Reni.
In Memoriam Asti Mirandah Sari
Berganti Hati - Anggun
Satu persatu telah kuhapus
cerita lalu diantara engkau dan aku.
Dua hati pernah percaya
Seribu mimpi tanpa ragu tanpa curiga.
Kutak ingin lagi
menunggu menanti
Harapan tuk hidupkan cinta yang telah mati
Kutak ingin coba
Hanya tuk kecewa
Lelah ku tersenyum
Lelah kubersandiwara.
Aku ingin pergi........'
Mengapa cinta diciptakan kalau hanya untuk menunggu dipisahkan.
Mengapa harus ada kau dalam cerita hidupku.
Mengapa dirimu tercipta dan bertemu dengan diriku.
Mengapa harus ada cinta diantara kita,
Kalau ternyata kita harus berpisah.
Nino, aku terlalu mencintaimu.
Aku harap bisa bertemu denganmu Nino,
karena aku sangat kangen padamu.
Aku sangat mencintaimu.
Aku bosan dengan semua kehidupan ini, tanpa dirimu semua tak berarti.
Nino aku tidak bisa terus-terusan membohongi perasaanku dan terlihat tidak ada masalah.
Aku ingin selalu bersamamu.
Nino tunggulah disana aku akan datang menemanimu.
PS1: Cerita ini tercipta karena akhir-akhir ini aku sedang merasa bosan dengan kehidupanku, sampat terpikir bagaimana jika aku bunuh diri, tapi akhirnya imajinasiku membawa ketakutan sehingga aku gak jadi bunuh diri dan malah tercipta cerita ini.
PS2: Saat berimajinasi itulah aku mendengarkan lagunya Anggun yang terbaru Berganti Hati dan jadilah cerita ini, bagi yang jeli pasti akan mengerti bahwa setiap ceritaku selalu ada unsur musiknya. Yupz, itu karena aku suka berimajinasi saat aku mendengarkan musik.
PS3: Sebelumnya aku terpikir bagaimana kalau si Asti ini dibuat bunuh diri dengan menyilet pergelangan tangan, tapi akhirnya tidak bisa kulakukan karena aku sudah merasa ngeri duluan saat membayangkannya.
PS4: Keep smile and keep blogging.