11 Nov 2015

Curhat #1

0

Tempat itu bahkan masih terlihat kosong.
Ini cerita tentang Dia. Entah akan kau sebut apa Dia, aku tak peduli. Entah akan kau labeli apa Dia, wanita atau pria, aku juga tidak peduli. Karena dia adalah dia, karena ini adalah cerita tentang dia, duniaku dan dunianya berbeda, namun dia tetaplah dia.


Sebut saja namanya Dia. Anak manusia. Pekerja keras. Bermimpi besar. Mempunyai hati seluas langit. Pandai bercerita. Pintar bicara. dan ahli menganalisa. Jika kau bertemu dengannya, jangan menatap matanya karena aku jamin kau akan jatuh cinta kepadanya karena hanya dia manusia yang pernah aku temui yang masih mempunyai sinar mata yang hidup. Jika kau bertemu dengannya, jangan mendengar ceritanya karena aku jamin kau akan langsung jatuh hati kepadanya karena dia sangat pandai mengolah kalimat menjadi sebuah cerita atau bahkan lelucon yang bisa membuat hatimu yang gundah menjadi riang. Begitulah dia, mudah membuat orang lain menyukainya bahkan membencinya karena rasa iri yang hebat. Tapi dia adalah dia, tidak peduli seberapa banyak orang yang menyukainya ataupun membencinya, dia tetap berada di jalan yang dia pilih, tetap pekerja keras, bermimpi besar, dan pandai bercerita.

Aku? Kau bertanya bagaimana dengan aku? Kau tak akan percaya dengan apa yang akan aku ceritakan nanti. Aku mengenalnya. Berada di sampingnya. Tertawa. Menatap sinar matanya. Tersenyum. Cemburu. Menunggunya. Menemaninya. Menyukainya. Tanpa pernah menyentuhnya.

Kau mungkin mulai berpikir bahwa aku adalah tokoh utama yang menyedihkan. Tidak. Aku bukan tokoh utamanya, tapi Dia. Aku hanyalah tokoh pendukung, peran pembantu dimana perasaan tokoh pendukung tidak terlalu dilibatkan, begitu pun aku. Sedalam apapun aku menyukainya, dia tetaplah dia, seorang pekerja keras dan bermimpi besar. Sekuat apapun aku berdiri menunggunya, dia tetaplah dia, seorang anak manusia yang berada di jalan yang dia pilih. Sebanyak apapun aku berdoa, dia tetaplah dia, tak akan berpaling untuk sekedar menoleh kepadaku. Sejernih apapun suaraku yang mengucapkan kata suka kepadanya, dia tetap tak akan goyah untuk datang kepadaku dan memelukku. Aku hanya bisa menjadi tokoh pendukung, menemaninya, menyemangatinya, mendukungnya, menyukainya.

Ini bukan kisah tentang seorang pemuja rahasia, jika kau berpikir seperti itu maka kau salah besar. Ini juga bukan kisah tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan ataupun kisah sayap-sayap patah, bukan, salah besar jika kau mengambil kesimpulan seperti itu. Aku yakin sekali dia tahu akan perasaanku. Dan aku pun terkadang merasa amat yakin bahwa dia juga punya perasaan yang sama seperti perasaanku. Tapi aku sadar, ini bukan kisah dongeng yang ketika sang lelaki dan wanita saling menyukai lalu mereka hidup berbahagia. Ini adalah kisah nyata, ada banyak hal yang membuatmu harus mengikutsertakan logika saat kau jatuh cinta.

Aku tahu benar apa yang sedang dipikirkannya, tapi aku masih belum tahu apa yang sedang dirasakannya, dan aku tak akan mencari tahu lagi karena kini aku biarkan semua itu menjadi sebuah misteri. Bukankah tidak semua hal yang ada didunia ini perlu untuk kita ketahui, ada hal-hal yang akan menjadi sangat indah ketika hal itu tetap menjadi sebuah rahasia.

Dia adalah seseorang yang mampu aku lihat tanpa pernah bisa aku sentuh, bahkan ke dalam perasaannya sekalipun. Dan ini hanyalah sebuah cerita yang diambil dari sebuah curhat 'aku' kepada 'dia'. Dia, bahkan hatiku menyebut namanya setiap kali kata dia tertuang. Janganlah kau merasa untuk mengasihani aku setelah membaca kisah ini, karena aku sama sekali tidak merasa perlu dikasihani. Kau tahu, orang yang sedang jatuh cinta mempunyai cara sendiri untuk membuat dirinya sendiri bahagia, meskipun itu hanya sapaan "Hai" tak penting dalam sebuah pesan singkat namun hanya orang yang sedang jatuh cinta saja yang mampu tersenyum bahagia setelah membacanya. Dan aku? Aku bahagia, sangat bahagia hingga aku ingin menangis.

Related Posts:

  • Hanya Satu Kamu, satu-satunya alasan untukku tetap bertahan sembari menyeruput secangkir kopi. Aku masih setia mendengarmu bercerita, terkadang diselipi tawa… Read More
  • Desember Berlalu Desember berlalu, dan aku masih menunggu. Aku mohon, menetaplah disini. Desember. Hujan. Aku mohon jangan pergi. Tetaplah bersamaku, atau bawa aku… Read More
  • Bukan Nama Za Nama siapa yang kini engkau gurat di hatimu, Tuan? Za terpaku di tempat duduknya. Dua meja di depannya, duduk seorang lelaki, sendiri, hanya dia… Read More
  • Tiga Menit Kita sudah terbiasa berjalan dalam hening, namun aku tahu hati kita saling berdialog. Perjalanan dari pintu kelas ke pintu gerbang bisa ditempuh d… Read More
  • Senyuman Itu Bahkan hatiku telah patah sebelum aku jatuhkan Lelaki itu berjalan lurus, menghampiri teman-temannya yang berkumpul di depan perpustakaan. Za memp… Read More

0 orang yang sudi mengomentari:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com