Pernah punya pengalaman tentang cinta? Tentu pernah bukan? Cinta itu selalu menghampiri setiap insan didunia tak terkecuali siapapun. Dan tentunya pernah merasakan cinta bukan? Kalau pernah punya pengalaman cinta pasti pernah merasakan cinta.
Showing posts with label cer_pen. Show all posts
Showing posts with label cer_pen. Show all posts
15 Jun 2011
15 May 2011
MALAIKAT YANG SALAH
Aku, Perasaan
“Kata Orang, yang namanya laki-laki itu pasti pakai logika dulu. Kalau perempuan baru pakai perasaan.”
Kata-kata seperti itu sudah berkali-kali kudengar, bahkan sudah merasuk kedalam jiwaku.
Terlebih lagi kata-kata seperti itu sudah kuhapal diluar kepalaku, kata-kata masyarakat kuno yang selalu menganggap kalau laki-laki pasti dominan memakai logikanya sedangkan perempuan dominan memakai perasaannya. Tapi menurutku, kata-kata orang itu 100% salah. Tapi yach… itu cuma menurutku, seorang cewek yang bisa dianggap tak berguna. Siapa sih yang sudi meluangkan waktu untuk mendengar perkataan seorang cewek yang bahkan tak bisa mempertahankan kehidupannya sendiri.
10 Aug 2010
7 Jul 2010
Aku dan Kamu
Aku tak tahu kenapa, ada yang aneh dalam langkah kakiku. Entah kenapa kakiku gak bisa berhenti. Terus berjalan dan berjalan, aku tak bisa menghentikannya. Otakku seakan gak seirama dengan gerak kakiku. Hingga aku melihatmu.
*****************
*****************
17 Dec 2009
Di Bangku Sudut Taman itu
Aku menunggumu, selalu menunggumu, disini di bangku taman ini. Walau hari ini kau tak datang lagi seperti hari-hari sebelumnya, tapi aku tetap keras kepala untuk terus menunggumu. Meski kata orang menunggu itu menyakitkan, tapi bagiku lebih menyakitkan jika aku melihatmu yang menungguku. Kita berjanji untuk tetap menunggu meski salah satu dari kita datang terlambat melebihi waktu yang telah dijanjikan dan aku menyanggupinya karena aku tau terkadang aku yang datang terlambat ke tempat yang dijanjikan. Tapi kali ini aku gak mau terlambat lagi, aku akan menunggumu meski kau terlambat sampai seabad sekalipun, aku tetap akan menunggumu disini.
7 Dec 2009
Rasa itu
Rasanya mati itu seperti apa sih? Kadang aku selalu memikirkan rasanya, apa rasanya seperti digores dengan pisau, atau seperti ditusuk jarum suntik. Ach, kayaknya tidak segampang itu rasanya, kalau tergores pisau saja rasanya hanya perih-perih, apalagi tertusuk jarum suntik, hanya clekit lalu lupa rasanya lagi.
28 Nov 2009
Mama dan Bunda
Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dikala lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.
(Kahlil Gibran)26 Nov 2009
Penghapus itu
Kau menghapusku, menghapus diriku dalam bayanganmu. Dengan mudahnya kau menghapus semua kenangan yang ada, aku gak menyangka bahwa hal ini bisa terjadi pada diriku yang saat ini tengah kau hapus. Begitu mudahnya kenangan itu tak berbekas dalam hidupmu, aku disini masih tak percaya dengan kenyataan yang ada. Kukira kau akan selalu bersamaku, berada disisiku dan menemani diriku.
23 Nov 2009
I'm your guardian angel
Angel yang diartikan sebagai malaikat, selalu digambarkan dengan sosok yang mempunyai sayap putih indah dengan wajah innocent. Angel, sebuah dongeng anak kecil dengan imajinasi yang digambarkan sebagai sosok malaikat yang berhati lembut selembut kapas dan selalu menolong anak-anak yang merasa sedih. Angel atau disebut juga malaikat adalah musuhnya Iblis, semua sudah mengetahuinya, bahkan anak kecil sekalipun. Tapi yang tidak mereka ketahui dan juga tidak kau ketahui bahwa angel pun bisa menjadi iblis.
18 Nov 2009
Ulang Tahunmu
Hari ini 18 November 2009. Ya, hari ini adalah hari yang kau tunggu-tunggu. Hari yang selalu kunantikan, 19 tahun yang lalu kau datang ke bumi ini dengan menghabiskan seluruh energi ibumu. Dengan mempertaruhkan nyawanya, dan membuat dokter kebingungan antara pilihan untuk menyelamatkan dirimu atau ibumu. Hingga akhirnya ibumu memilih dirimu harus hidup karena kau adalah masa depannya. Sungguh dramatis sekali, seandainya kau ada disana saat itu pasti kau akan merasakan kepedihan ayahmu yang harus merelakan kepergian ibumu demi dirimu sang masa depan.
12 Nov 2009
I don't like the rain
November Rain, semua orang mendengung-dengungkan kalimat itu. Bahkan banyak cerpenis memakainya dalam judul ceritanya yang selalu berakhir indah dengan background hujan pertama di Bulan November. Hujan, Rain dalam bahasa inggrisnya, semua orang menyukainya. Tetes-tetes hujan membawa perasaan tersendiri, begitu kata teman-temanku. Bahkan gak sedikit anak-anak kecil bermain-main di bawah guyuran air hujan, dengan senyum mereka tanpa beban, berlari kesana-kemari menyambut datangnya hujan.
21 Oct 2009
Cyber Love
Pertanyaan :
Percayakah kalian kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu datang dari mata turun ke hati?
Cerita :
Kini aku yakin
Kalau perasaan ini terarah padamu
Walau dirimu meragukannya
Tapi aku meyakininya
Meyakini kalau perasaan ini adalah cinta
-By Hamster-
21 Aug 2009
Adegan Terakhir itu
Keisha menatap layar televisi di depannya dengan pandangan kosong. Di layar itu menampilkan acara perpisahan kelas 3 SMA Harapan Bangsa. Keisha mendapatkan CD itu dari sekolahnya, hanya CD-lah kenang-kenangan yang ia dapatkan. Tatapan Keisha menerawang mengingat masa-masa di sekolahnya dulu. Sedikit senyum tersungging di bibir gadis manis itu kala teringat sahabat-sahabatnya yang kini berada di hadapannya, di layar televisi tersebut.
Sejenak terlihat bekas airmata di pipi Keisha yang belum diusap, sudah 3 kalinya di malam ini Keisha memutar CD itu. Matanya masih sulit terpejam, seperti hari-hari sebelumnya dan seperti yang sebelumnya juga Keisha akan terus memutar CD itu sampai matanya merasa capek dan ingin tidur.
Hanya CD itulah kenangan Keisha akan sekolahnya, tentang sahabatnya, dan hanya lewat CD itulah Keisha bisa melihat Yoga mengutarakan cinta untuknya.
“Kei… hari ini ada rapat untuk perencanaan perpisahan loh.” Ujar Mona sang Ketua OSIS mengagetkan Keisha yang membaca buku di sudut taman SMA Harapan Bangsa.
“Yups, aku ingat.”
“Siip deh, ditunggu kedatangannya loh bu sekretaris.” Ujar Mona sambil berlalu pergi. Keisha hanya mengangkat tangannya dan melakukan aksi hormat pada Mona yang sudah berlalu. Saat melihat Mona itulah, tanpa sengaja lirikan mata Keisha mengarah ke sosok laki-laki di seberang yang tengah sibuk menulis sesuatu.
‘Baru kali ini kulihat cowok itu.’ Pikir Keisha dalam hati.
“Kei… makan yuuk, laper nih.” Kaget Dini dan Ita secara tiba-tiba.
“Ach… ngagetin ajah nih.” Ujar Keisha sambil ekor matanya melirik melihat cowok yang tadi dilihatnya beranjak pergi.
“Ehmm… kalian mau ke kantin? Okelaah, yuuk.” Digandengnya Dini dan Ita ke kantin sambil bercerita khas cerita-cerita anak SMA.
“Yoga???” Tanya Keisha pada dua sahabatnya ini ketika dia mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tentang cowok yang dia lihat tadi di taman.
“He’em.” Dengan santainya Dini menjawab sambil mengunyah bakso.
“Kamu gak kenal Yoga Kei?!” Tanya Ita sembari sibuk dengan kacanya, maklum cewek satu ini centil abis dan kemana-mana selalu bawa kaca.
“Enggak.” Jawab Keisha sambil menggelengkan kepala dengan wajah lugu.
“HAH!!! Beneran kamu gak kenal Yoga??” kali ini Dini berkata dengan suara melengking dan mata melotot seperti melihat ‘Sapi yang sedang berjalan dengan 2 kaki’. Ita yang sibuk dengan kacanya sejenak menghentikan aktifitasnya dan menatap Keisha dengan pandangan prihatin.
“Emangnya kenapa sih, emangnya si Yoga ini cowok yang WAW dan harus dikenal gitu, kok kalian sampai segitunya. Apa Yoga ini anaknya Presiden, pejabat, jenderal, menteri, atau artis yang harus setiap orang mengenalnya?? Lebay deh kalian.” Ujar Keisha kemudian.
“Bukannya gitu Kei, kamu beneran gak kenal?” Keisha hanya mengangguk tanda bahwa dia tidak mengenal si ‘Yoga-Yoga’ ini.
“Kebangetan kamu Kei, Yoga itu kan teman sekelas kita.” Ujar Dini yang dengan suksesnya membuat Keisha terperangah tak percaya.
“Emang Yoga jarang masuk Kei, kata orangtuanya sih dari kecil Yoga sering sakit-sakitan, gak bisa capek sedikit. Makanya olahraga pun dia gak bisa ikut.” Terang Dini saat di kantin tadi.
Pikiran Keisha kini dipenuhi dengan fakta-fakta bahwa cowok yang dilihatnya di taman tadi namanya Yoga dan Yoga itu ternyata adalah teman sekelasnya, karena Yoga sakit-sakitan makanya dia jarang masuk.
‘Pantesan ajah aku gak mengenalnya.’ Ucap Keisha dalam hati.
‘Tapi Yoga ternyata cowok yang lemah, gak bisa capek sedikit.’ Ujar Keisha lagi dalam hatinya, pikirannya kini menerawang jauh memikirkan tentang Yoga dan fakta-fakta yang diberitahukan Dini dan Ita padanya.
“Kei… udah dicatat kan hasil rapat kali ini?” Tanya Mona mengagetkan Keisha, seketika semua pikiran-pikiran tentang Yoga menguap.
“Ah… oh…. Ehm, udah-udah.” Jawab Keisha gugup karena sebenarnya daritadi dia tak menghiraukan rapat kali ini.
“Okeh, berarti udah clear kan teman-teman. Khusus tahun ini kita akan buat sebuah film dokumenter tentang sekolah kita khususnya kelas tiga. Dan Ketuanya adalah Keisha.” Ujar Mona lantang sambil menoleh kea rah Keisha yang terbengong-bengong menatap Mona menyebut namanya sebagai Ketua.
“HAH?! Aku Mon?? Kok aku sih kan masih banyak yang…”
“Tadi katanya kamu sanggup?!” potong Mona yang seketika langsung membuat mata Keisha terbelalak sebesar telur mata sapi.
‘Kapan aku menyanggupinya Mon?’ ingin rasanya Keisha bertanya seperti itu, tapi dia tak sanggup dan hanya bisa berkata, “Tapi kan masih ada teman-teman yang lebih pantas jadi Ketua ini.”
“Kei, yang cocok tuh cuma kamu. Diantara kami, cuma kamu yang bersemangat di sekolah ini. Lagipula, anak-anak juga sibuk sama kegiatan-kegiatan ekskul yang juga bakal ngadain perpisahan dan pergantian jabatan.” Terang Mona sabar.
“Tapi bukan karena cuma aku yang gak ikut kegiatan ekskul terus aku dipilih kan?!”
“Bukan Kei” jawab Mona sambil tetap sabar dan tersenyum. Mendengar jawaban Mona dan melihat senyum tulus Mona, mau gak mau Keisha harus menerima tugas sebagai Ketua dalam membuat film dokumenter ini.
“Bagaimana Kei? Udah dapat ide untuk film dokumenter kita?” Tanya Mona dalam perjalanan pulang menuju gerbang sekolah.
“Belum.” Mengingat film dokumenter itu Keisha langsung tak bersemangat.
“Udah 2 minggu loh Kei, ehm… gini ajah kamu kan ketuanya, nah kamu berhak tuh buat milih atau nentuin siapa-siapa yang bisa bantu kamu. Jadinya kan lebih ringan tuh.” Saran Mona kemudian.
“Benar juga tuh, iya deh nanti aku pikirin.”
“Siip deh, aku pulang dulu ya. Udah ditungguin, bubye Kei.” Ujar Mona yang langsung pergi meninggalkan Keisha yang tengah melambaikan tangan padanya. Saat itulah Keisha melihat Yoga tengah berjalan menuju taman sekolah.
“Yoga ngapain lagi ke taman, kayaknya tuh anak sering ke taman deh.” Pikir Keisha dan di detik kemudian diangkatlah kakinya melangkah menuju ke taman sekolah. Dengan bertanya-tanya Keisha melangkah ke taman mengikuti Yoga yang terlihat sedang merenung itu.
“Yoga ngapain aja sih, kok jadi penasaran gini. Samperin gak ya?” bimbang Keisha menatap Yoga yang masih duduk termangu di taman sekolah itu, namun rasa penasaran Keisha memaksa kakinya untuk melangkah menghampiri Yoga.
“Hai… Yog.” Sapa Keisha seolah-olah terkejut melihat Yoga duduk disitu.
“Oh… hai.” Balas Yoga tanpa ekspresi.
“Napain?” Tanya Keisha yang tak bisa menutupi rasa penasarannya.
“Gak ngapa-ngapain, mau pulang.” Jawab Yoga beranjak dari tempat duduknya.
“Oh…”
“Pulang dulu ya.” Ucap Yoga sembari meninggalkan Keisha yang masih penasaran.
“Ehm, Yog…” ujar Keisha yang dengan suksesnya mencegat langkah Yoga.
“Apa?” Tanya Yoga sambil berbalik.
“Emm… kamu mau bantuin aku gak?!” Tanya Keisha gugup. Yoga hanya diam menatap Keisha, Keisha yang ditatapnya itu semakin gelisah dan gugup.
“Emm… gini. Kita kan mau ngadain perpisahan, nah OSIS rencananya mau ngadain kenang-kenangan seperti film dokumenter gitu. Kebetulan yang jadi ketuanya aku, tapi… emm gimana ya. Aku masih belum ada ide, masih bingung. Jadi gini deh, aku mau minta bantuan kamu. Bisa?!” ucap Keisha tak beraturan.
‘Keisha bodoh amat sih kamu, tinggal ngomong minta bantuan aja ribetnya minta mampus.’ Caci makinya dalam hati.
“Kenapa mesti aku?” Tanya Yoga masih tetap tanpa ekspresi.
‘Mampus lo, kenapa mesti dia. Apa jawabannya coba.’ suara di hati Keisha mengolok-oloknya.
“Emm…. Kenapa ya…” pikir Keisha garuk-garuk kepala.
‘Mampus-mampus-mampus kamu Kei, bego dipelihara.’ Ucapnya dalam hati.
“Gak ada alasan kan, berarti aku gak harus ngebantuin kamu.” Ujar Yoga dan berlalu pergi.
“Emang gak harus sih, tapi ini untuk kepentingan kita semua, untuk perpisahan, untuk kenang-kenangan, untuk kebersamaan kita. Dan ini satu-satunya kesempatan terakhir kita kalau kita semua itu bangga sekolah disini.” Teriak Keisha
“Yoga, kalau kamu masih punya perasaan sama sekolah ini, besok kutunggu di rapat OSIS.” Masih tetap berteriak, Keisha mencoba memberitahu Yoga yang sudah menghilang di koridor sekolah.
“Kei… kok kelihatannya lemas gitu sih, belum makan ya?” Tanya Ita yang sebangku dengannya.
“Hhhh….”
“Iiihhh…. Ditanya malah menghela napas gitu. Gak sopan lo, eh gimana? Udah dapat ide?” Tanya Ita lagi sambil membuka bukunya.
“Hhh….”
“Keisha ditanyain kok cuma menghela napas terus sih daritadi. Yaaahhhhh malah ngeliatin lagi, iihhh…. Jijay ach kamu liatin gitu. Kamu normal kan Kei?” diletakkannya tangan Ita di dahi Keisha untuk mendeteksi kewarasan Keisha.
“Hari ini rapat OSIS.” Akhirnya Keisha menjawab dengan tanpa semangat.
“Terus…”
“Belum dapat ide.”
“So?”
“Gak tau.”
“Ya kan di rapat entar bisa didiskusikan tuh.”
“Kemarin aku minta bantuan Yoga.”
“Yoga?” kaget Ita mendengar kata Yoga, Keisha yang sedang tidur-tiduran di meja langsung tegak duduknya.
“He’em” jawab Keisha sambil manggut-manggut mengiyakan.
“Terus??”
“Aku suruh datang ke rapat.”
“Dia mau?”
“Don’t know.” Jawab Keisha sok cuek dan dilanjutkannya lagi bermalas-malasan tidur di meja.
“Gimana nih Kei? Udah 1 jam kita nungguin Yoga, tapi anaknya gak datang-datang?” Tanya Mona gak sabar. Sore ini anak-anak OSIS menunggu kedatangan Yoga yang telah dijamin oleh Keisha bahwa dia akan datang.
“Bentar lagi deh, aku yakin pasti dia datang.” ujar Keisha sambil melirik jam dinding dengan gelisah.
“Bentar lagi? Nungguin sampai kapan? Sampai besok?” Dido yang sudah gak sabar pun ikut bicara.
“Udahlah. Kei… Yoga mungkin gak bisa bantuin kita. Ehm, teman-teman rapat ditunda besok, sekarang kalian boleh pulang deh.” Ujar Mona akhirnya. Anak-anak OSIS pun keluar ruangan dengan tidak rela, rapat yang seharusnya telah selesai hari ini akhirnya batal dan ditunda esok harinya. Mereka keluar dengan muka kecewa.
“Kei gak pulang?” Tanya Mona sambil membereskan kertas-kertas berserakan di meja.
“Eh… iya deh.”
“Udah jangan dipikirin, kita bahas konsepnya film dokumenter itu. Yaaa…. Mungkin Yoga emang gak bisa bantu.”
“Tapi, aku yakin dia mau bantu kita. Mungkin dia lupa akan rapat OSIS ini.”
“Kamu udah bilang sama Yoga kemarin?” Tanya Mona lagi dengan senyum khasnya dan duduk di sebelah Keisha.
“Udah.”
“Dia bersedia?”
“Emm… dia belum bilang apa-apa sih, tapi Mon aku yakin dia mau kok bantuin kita.”
“Alasannya?” Keisha hanya bisa diam tertunduk ditanya seperti itu oleh Mona.
“Gak bisa jawab kan?! Kei… itu bukan yakin, tapi kamu hanya mencoba meyakinkan dirimu sendiri. Udahlah, inilah kenyataannya. Yoga gak bisa bantu kita, besok kita rapat dan membahas konsepnya.” Setelah mengatakan itu, Mona pun beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan ruang OSIS.
‘Mungkin benar kata Mona, kemarin kan Yoga bilang sendiri kalau dia gak mau bantu. Begonya diriku.’ Maki Keisha dalam hati sambil membereskan bukunya kedalam tas. Dengan pasrah Keisha bangkit dari tempat duduknya dan ketika menuju pintu ruangan OSIS muncullah sesosok manusia yang sangat diharapkan kedatangannya di rapat tadi.
“Maaf.” Ujar Yoga sambil mengatur nafasnya.
“Kamu datang.” Keisha sangat tak percaya apa yang dilihatnya sampai-sampai dia bingung apa yang harus diucapkannya.
“Ehm… tadi kebetulan dari ruang guru terus iseng kesini.” Ucap Yoga salah tingkah dan beranjak pergi dari ruangan itu.
“Rapat ditunda besok, besok kamu bisa datang. Kami menunggu kedatanganmu.” Setelah mendengar ucapan Keisha, Yoga pun pergi dari ruangan OSIS. Keisha hanya bisa tersenyum dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Kurang seminggu lagi nih kita ngerayain tahun baru.” Ujar Mona mengawali pembicaraan di rapat OSIS.
“Rekaman semua kegiatan-kegiatan pas perayaan Ulang Tahun Sekolah kemaren sudah selesai kan Yog?” Tanya Vicky wakil ketua OSIS.
“Udah, udah selesai diedit juga kok dibantu sama anak-anak mading.” Ujar Yoga sembari menyerahkan beberapa kaset rekaman.
“Okeh… ini entar biar diedit lagi terus dimasukin ke CD.” Terang Vicky kemudian.
“Eh… biasanya pas tahun baru bukannya ada kembang api tuh.” Ujar Mona dengan sikap seriusnya.
“Bener juga!” ucap Natalia mengiyakan.
“Setiap tahun emang gitu kan, ada kembang api. Emang kenapa?” Feri pun keluar suara.
“Gimana kalau kita buat sesuatu yang beda di film ini.” Ujar Mona yang membuat semua anggota OSIS diruangan itu menjadi bingung.
“Jadi gini, diakhir film ini gimana kalau kita masukin rekaman kembang api. Menurut kamu gimana Yog?” ujar Mona lagi.
“Emm… bagus juga. Udah gitu, ending dari semua film ini lebih bagusan lagi kalau kita ambil sudut-sudut dari sekolah ini, lorong-lorongnya, koridor, ruang kelas. Apalagi kalau pas sore hari, hasilnya pasti bagus.” Ucap Yoga yang kemudian disetujui oleh anggota OSIS.
“Nah keren tuh… entar biar kamu sama Keisha yang merekam ya?” ujar Mona lagi membuat Keisha terbelalak kesekian kalinya.
“Oke deh, rapat selesai. Mulai besok, selamat berlibur semuanya dan selamat Tahun Baru.” Ucap Mona mengakhiri rapat hari ini.
“Teman-teman! Hari ini kita bebas selama 4 jam pelajaran.” Teriak Doni didepan kelas.
“Kenapa?” Tanya Indah
“Pak Agus gak masuk, katanya sih sakit. Sakit ambeien kali.” Uajr Doni yang membuat seisi kelas tertawa gaduh.
“Huh… ngapain enaknya sekarang ya Kei.” Keluh Ita sambil tiduran di Meja, tak dipedulikannya keluhan Ita. Saat ini, saat jam pelajaran kosong, saat ruang kelas berubah menjadi pasar, saat para penghuni kelas berlomba-lomba mengeluarkan suara, hanya Keisha yang termenung melamunkan sesuatu. Tangannya menopang dagu di meja, 2 bangku didepannya sosok Yoga juga kelihatan terdiam mencorat-coret buku.
‘Selama ini Yoga gak pernah terekam, jadi gak ada gambar Yoga sama sekali.’ Ujar Keisha dalam hati sambil tetap menatap sosok Yoga yang masih sibuk menulis sesuatu. Dihampirinya tempat duduk Yoga sambil menenteng handycam mencoba merekam aktifitas Yoga saat ini.
“Jangan rekam aku.” Ucap Yoga sambil tangannya menutupi handycam saat dia tahu Keisha tengah sibuk merekamnya.
“Kenapa??” Tanya Keisha.
“Aku gak suka direkam atau difoto.”
“Ohh…”
“Eh, bagaimana kalau kita rekam sekolah ini?” usul Yoga kemudian.
“HAH?!”
“Dasar lemot, bawa handycamnya. Jam segini ada sudut-sudut disekolah ini yang bagus buat diambil gambarnya.” Ujar Yoga yang kemudian ditariknya tangan Keisha keluar kelas.
“WOW!!! Tak kusangka cahaya matahari di sore hari membuat tamannya jadi indah.” Keisha terkagum-kagum melihat pantulan sinar matahari.
“Dari aula ini, tamannya terlihat seperti sebuah lukisan kan dengan background sinar matahari senja.” Jelas Yoga, namun Keisha terlalu mengagumi keindahan sore ini hingga dia tak terlalu mempedulikan apa yang dikatakan Yoga.
“Aku yakin kamu mencintai sekolah ini walaupun kamu sering absen.”
“Bagiku suka gak suka, hidup ini hanya sebuah film.” Jawab Yoga pelan, Keisha yang mengagumi keindahan sore itu seketika menoleh menatap Yoga.
‘Yoga kelihatan cakep, sinar matahari itu memantul dari rambutnya, bajunya, jam tangannya. Aku benar-benar melihat keindahan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.’ Ucap Keisha dalam hati ketika ditatapnya Yoga yang kelihatan muram itu.
“Kenapa?”
“HAH… oh… ehm, enggak apa-apa kok.” Seketika Keisha menjadi gagu saat terpergok memandangi Yoga.
“Loh kalian disini. Aku cariin di kelas tadi, ternyata di aula.” Suara Vicky menggema mengagetkan Keisha dan Yoga. Yoga hanya tersenyum menyapa Vicky.
“Ada apa?” Tanya Keisha akhirnya.
“Gini Yog, ternyata semua komputer di sekolah ini dipakai. Jadi kita gak bisa ngedit atau masukin rekaman ke CD. Mau pinjam pihak mading gak bisa, ruang audio-visual gak bisa juga, lab. komputer sama aja. Padahal waktu kita mepet banget, habis tahun baru harus udah selesai. Abis itu, persiapan buat Ujian. Yaa… mungkin kamu punya masukan?” jelas Vicky panjang lebar.
“Aku bawa aja kasetnya, aku punya teman yang bisa kok.” Usul Yoga kemudian sambil tetap tersenyum.
“Hufz… untunglah. Makasih ya, untung aja kamu mau bantuin kita.”
“Sama-sama.”
Selasa, 01 Januari 2007
Dear Diary
Semalam aku pergi sama Yoga nonton kembang api dimalam tahun baru, tentunya sambil merekam untuk film dokumenter kita. Yoga kelihatan cakep loh ry dengan t-shirt garis-garis dan jaket kulitnya. Tentunya juga aku berusaha membuat diriku cantik dan feminism kemaren.
Eh Yoga perhatian loh selama kita nungguin kembang apinya muncul. Kita cerita-cerita ry, mulai dari masuk sekolah SMA Harapan Bangsa sampai cita-cita kita. Sedih rasanya kalau mengenang perpisahan, apalagi Yoga kemarin bilang kalau mungkin tahun besok dia gak bisa melihat kembang api itu. Kenapa ya? Apa dia mau pindah? Tapi bukannya tiap tahun baru dimanapun kotanya pasti ada acara kembang api bukan? Terus kenapa Yoga berkata seperti itu.
Saat kembang api dimulai, kita sempat lupa loh buat merekamnya. Abisnya kembang apinya bagus banget hehehehe…
Tapi… di pertengahan nonton kembang api itu ada insiden ry. Gak tau dimulai darimana, aku dan Yoga berciuman. Tapi Yoga langsung sadar dan bilang minta maaf ke aku. Padahal aku bilang aku suka dia, tapi dia gak mau mengerti dan tetap minta maaf sambil terus bilang bahwa ini gak boleh terjadi. Memangnya kenapa? Apa aku salah kalau aku suka Yoga?
Saat itu aku marah sama dia dan langsung pergi begitu saja. Kutinggalin dia ry dan pulang ke rumah.
Hari ini aku nyesel kenapa kemarin aku bersikap seperti itu. Kayaknya hari Rabu besok pas masuk sekolah aku harus minta maaf deh sama Yoga. Hufzz…
“Wuooiii… Keisha Aristyas!!!” teriak Ita ditelinga Keisha yang seketika langsung gelagapan.
“Ah.. kenapa Ta?”
“Kenapa-kenapa, kamu tuh yang kenapa? Daritadi bengong aja kerjaannya. Udah istirahat nih.”
“Ooohhh…” lemas Keisha menanggapi Ita.
“Yaelah, kayaknya kamu gak punya semangat hidup deh. Kamu kenapa Kei? Sakit?” Tanya Ita prihatin.
“Yoga kok gak masuk ya hari ini?”
“HAH? Yoga? Bwahahahahaha… hahahahaha…” Keisha yang mendengar tawa Ita hanya bisa terheran-heran.
“Kok ketawa?”
“Nah kamu sih nanyain Yoga. Kenapa? Kangen?”
“Emang gak boleh nanyain Yoga?” Keisha yang merasa ditertawakan langsung sewot.
“Boleh-boleh aja Kei, gak ada larangan kok. Ya cuma tumben aja, bukannya selama ini Yoga emang jarang masuk dan kamu gak pernah peduli kan. Kok sekarang kamu mulai mempedulikan keabsenannya si Yoga ini. Nah aku sebagai teman sebangku plus sahabat kamu ini jadi bingung, dari kebingunganku itu aku jadi menduga-duga kalau-kalau kamu mulai perhatian sama si Yoga ini. Begono.”
“Terserah lah…” ujar Keisha tanpa semangat dan langsung tiduran di mejanya.
“Iiihh… dasar aneh, dibilangin malah bilang terserah. Gak makan Kei? Kamu gak ke kantin apa?”
“Kalau kamu ke kantin, pergi aja deh.” Jawab Keisha dengan tetap tidur-tiduran di meja. Saat ini dipikiran Keisha hanyalah Yoga, Yoga dan Yoga. Yoga yang bekerjasama dengannya dalam pembuatan film dokumenter untuk perpisahan sekolah, Yoga yang menjadi teman sekelasnya, Yoga yang gak mau direkam gambarnya dan Yoga yang telah menciumnya dimalam tahun baru yang kemudian meminta maaf dan mengatakannya bahwa ini gak boleh terjadi.
Setiap teringat Yoga, kejadian di malam Tahun Baru itu selalu terputar kembali dalam ingatannya. Saat Keisha dan Yoga berciuman lalu Yoga melepas ciuman itu dan meminta maaf berkali-kali sambil mengatakan bahwa ini gak boleh terjadi. Keisha kaget dengan perilaku Yoga, tapi dia ingin mengatakan bahwa dia suka Yoga. Tapi Yoga seperti gak mau mencoba untuk mengerti perasaannya dan terus meminta maaf sambil mengatakan ini gak boleh terjadi. Keisha gak bisa terima dengan kelakuan Yoga, dia berpikir bahwa Yoga tidak menyukainya. Di detik kemudian, Keisha berlari, berlari dan terus berlari meninggalkan Yoga yang tertunduk lemas. Keisha terus berlari dan berharap dia gak bertemu lagi dengan Yoga.
Waktu terus berlalu, Ujian Nasional telah selesai. Pentas Seni pun diadakan dalam rangka merayakan acara perpisahan, kegembiraan menyelimuti SMA Harapan Bangsa, senyum tersebar dimana-mana. Wajah-wajah sumringah terlihat di seantero SMA Harapan Bangsa, tapi tidak bagi Keisha karena sampai saat ini dia belum melihat batang hidung Yoga secuil pun.
“Kepada para anggota OSIS, diharap berkumpul di ruangan OSIS saat ini juga.” Menggema suara Mona memberi pengumuman lewat pengeras suara. Keisha yang merenung di bangkunya dengan malas berdiri dan pergi ke ruangan OSIS memenuhi panggilan Mona.
Sesampainya diruangan OSIS tak dilihatnya satupun anggota OSIS disana. Sambil menunggu anggota OSIS lainnya, Keisha menghampiri kursi yang tertata rapi di sekeliling meja. Dihempaskan pantatnya di kursi yang tak empuk itu. Hufzz… ternyata menghela napas pun masih belum bisa menenangkan pikirannya tentang Yoga. Beberapa menit kemudian, datanglah satu persatu anggota OSIS dan rapat pun dimulai.
“Teman-teman, mungkin sebenarnya yang akan saya sampaikan di rapat kali ini bukanlah berita yang bagus.” Ujar Mona dengan nada sedih. DEG! Jantung Keisha berdetak dengan cepat, pandangan mata Mona menabrak pandangan Keisha. Sesaat mereka berpandangan.
“Berat bagi saya untuk mengatakannya.” Ujar Mona kemudian sambil tertunduk sedih. Hening seketika.
“Sekolah mendapat berita bahwa salah satu teman kita telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Selama ini Yoga Aditya mengidap penyakit leukemia dan sekarang dia sudah tak bisa ditolong lagi.” Selesai mengatakan itu Mona langsung terisak, Natalia berpelukan dengan Mega sambil menangis. Ruangan OSIS diselimuti tangis dan haru, airmata menghiasi setiap wajah anggota OSIS.
Namun lain hal dengan Keisha, dia malah terdiam tak bergerak sedikitpun. Saat ini dia bingung akankah dia bersedih dan menangisi kepergian Yoga. Keisha hanya bisa diam tak bergerak seperti patung. Pandangan matanya kosong dan lurus ke depan.
Alunan lagu Peterpan mengalun lembut saat tayangan di televisi menggambarkan tentang keadaan sekolah, ruang kelas, taman, jalanan SMA Harapan Bangsa dan semua tentang SMA Harapan Bangsa.
Keisha terus mengamati layar televisi dengan pandangan kosong, air matanya sudah kering. Alunan lembut suara Ariel Peterpan pun berhenti, hening seketika. Tapi Keisha masih tetap menatap layar televisi.
“Maaf, aku udah lancang pinjam handycam ini sebentar.” Suara yang sangat dikenal Keisha selama ini terdengar lagi lewat spiker televisi.
“Sebenarnya aku gak suka direkam-rekam, aku ingin seperti burung yang gak pernah meninggalkan jejaknya diranting pohon. Tapi mau bagaimana lagi.” Keisha tersenyum samar menatap gambar Yoga dilayar televisi itu.
“Kei aku minta maaf atas kejadian malam Tahun Baru itu. Bukannya aku gak menyukaimu, aku menciummu bukan hanya terpengaruh suasana tapi sejujurnya aku terpengaruh sama perasaanku sendiri.
Aku harap tahun besok kau tidak pergi melihat kembang api bersama cowok lain. Mengerti kan maksudku? Ini ungkapan cinta Kei, aku mencintaimu.” Bzzt… layar televisi pun telah menyelesaikan tugasnya menayangkan gambar-gambar yang sudah direkam ke CD tersebut. Keisha masih tetap diam dan menatap layar televisi yang sudah tidak menayangkan apapun.
“Aku akan tetap mengenangmu sampai kapanpun Yoga Aditya.” Ucap Keisha dalam hati dan beranjaklah ia ke tempat tidurnya yang empuk. Terpejamlah matanya yang kemudian mengantarkannya kedalam mimpi yang sudah menunggunya. Dilihatnya Yoga tersenyum menatapnya, tanpa berpikir lagi diraihnya tangan Yoga dan pergilah Keisha bersama Yoga ditengah tebaran bunga yang indah.
Sejenak terlihat bekas airmata di pipi Keisha yang belum diusap, sudah 3 kalinya di malam ini Keisha memutar CD itu. Matanya masih sulit terpejam, seperti hari-hari sebelumnya dan seperti yang sebelumnya juga Keisha akan terus memutar CD itu sampai matanya merasa capek dan ingin tidur.
Hanya CD itulah kenangan Keisha akan sekolahnya, tentang sahabatnya, dan hanya lewat CD itulah Keisha bisa melihat Yoga mengutarakan cinta untuknya.
@@@@@@
“Kei… hari ini ada rapat untuk perencanaan perpisahan loh.” Ujar Mona sang Ketua OSIS mengagetkan Keisha yang membaca buku di sudut taman SMA Harapan Bangsa.
“Yups, aku ingat.”
“Siip deh, ditunggu kedatangannya loh bu sekretaris.” Ujar Mona sambil berlalu pergi. Keisha hanya mengangkat tangannya dan melakukan aksi hormat pada Mona yang sudah berlalu. Saat melihat Mona itulah, tanpa sengaja lirikan mata Keisha mengarah ke sosok laki-laki di seberang yang tengah sibuk menulis sesuatu.
‘Baru kali ini kulihat cowok itu.’ Pikir Keisha dalam hati.
“Kei… makan yuuk, laper nih.” Kaget Dini dan Ita secara tiba-tiba.
“Ach… ngagetin ajah nih.” Ujar Keisha sambil ekor matanya melirik melihat cowok yang tadi dilihatnya beranjak pergi.
“Ehmm… kalian mau ke kantin? Okelaah, yuuk.” Digandengnya Dini dan Ita ke kantin sambil bercerita khas cerita-cerita anak SMA.
“Yoga???” Tanya Keisha pada dua sahabatnya ini ketika dia mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tentang cowok yang dia lihat tadi di taman.
“He’em.” Dengan santainya Dini menjawab sambil mengunyah bakso.
“Kamu gak kenal Yoga Kei?!” Tanya Ita sembari sibuk dengan kacanya, maklum cewek satu ini centil abis dan kemana-mana selalu bawa kaca.
“Enggak.” Jawab Keisha sambil menggelengkan kepala dengan wajah lugu.
“HAH!!! Beneran kamu gak kenal Yoga??” kali ini Dini berkata dengan suara melengking dan mata melotot seperti melihat ‘Sapi yang sedang berjalan dengan 2 kaki’. Ita yang sibuk dengan kacanya sejenak menghentikan aktifitasnya dan menatap Keisha dengan pandangan prihatin.
“Emangnya kenapa sih, emangnya si Yoga ini cowok yang WAW dan harus dikenal gitu, kok kalian sampai segitunya. Apa Yoga ini anaknya Presiden, pejabat, jenderal, menteri, atau artis yang harus setiap orang mengenalnya?? Lebay deh kalian.” Ujar Keisha kemudian.
“Bukannya gitu Kei, kamu beneran gak kenal?” Keisha hanya mengangguk tanda bahwa dia tidak mengenal si ‘Yoga-Yoga’ ini.
“Kebangetan kamu Kei, Yoga itu kan teman sekelas kita.” Ujar Dini yang dengan suksesnya membuat Keisha terperangah tak percaya.
@@@@@@
“Emang Yoga jarang masuk Kei, kata orangtuanya sih dari kecil Yoga sering sakit-sakitan, gak bisa capek sedikit. Makanya olahraga pun dia gak bisa ikut.” Terang Dini saat di kantin tadi.
Pikiran Keisha kini dipenuhi dengan fakta-fakta bahwa cowok yang dilihatnya di taman tadi namanya Yoga dan Yoga itu ternyata adalah teman sekelasnya, karena Yoga sakit-sakitan makanya dia jarang masuk.
‘Pantesan ajah aku gak mengenalnya.’ Ucap Keisha dalam hati.
‘Tapi Yoga ternyata cowok yang lemah, gak bisa capek sedikit.’ Ujar Keisha lagi dalam hatinya, pikirannya kini menerawang jauh memikirkan tentang Yoga dan fakta-fakta yang diberitahukan Dini dan Ita padanya.
“Kei… udah dicatat kan hasil rapat kali ini?” Tanya Mona mengagetkan Keisha, seketika semua pikiran-pikiran tentang Yoga menguap.
“Ah… oh…. Ehm, udah-udah.” Jawab Keisha gugup karena sebenarnya daritadi dia tak menghiraukan rapat kali ini.
“Okeh, berarti udah clear kan teman-teman. Khusus tahun ini kita akan buat sebuah film dokumenter tentang sekolah kita khususnya kelas tiga. Dan Ketuanya adalah Keisha.” Ujar Mona lantang sambil menoleh kea rah Keisha yang terbengong-bengong menatap Mona menyebut namanya sebagai Ketua.
“HAH?! Aku Mon?? Kok aku sih kan masih banyak yang…”
“Tadi katanya kamu sanggup?!” potong Mona yang seketika langsung membuat mata Keisha terbelalak sebesar telur mata sapi.
‘Kapan aku menyanggupinya Mon?’ ingin rasanya Keisha bertanya seperti itu, tapi dia tak sanggup dan hanya bisa berkata, “Tapi kan masih ada teman-teman yang lebih pantas jadi Ketua ini.”
“Kei, yang cocok tuh cuma kamu. Diantara kami, cuma kamu yang bersemangat di sekolah ini. Lagipula, anak-anak juga sibuk sama kegiatan-kegiatan ekskul yang juga bakal ngadain perpisahan dan pergantian jabatan.” Terang Mona sabar.
“Tapi bukan karena cuma aku yang gak ikut kegiatan ekskul terus aku dipilih kan?!”
“Bukan Kei” jawab Mona sambil tetap sabar dan tersenyum. Mendengar jawaban Mona dan melihat senyum tulus Mona, mau gak mau Keisha harus menerima tugas sebagai Ketua dalam membuat film dokumenter ini.
@@@@@@
“Bagaimana Kei? Udah dapat ide untuk film dokumenter kita?” Tanya Mona dalam perjalanan pulang menuju gerbang sekolah.
“Belum.” Mengingat film dokumenter itu Keisha langsung tak bersemangat.
“Udah 2 minggu loh Kei, ehm… gini ajah kamu kan ketuanya, nah kamu berhak tuh buat milih atau nentuin siapa-siapa yang bisa bantu kamu. Jadinya kan lebih ringan tuh.” Saran Mona kemudian.
“Benar juga tuh, iya deh nanti aku pikirin.”
“Siip deh, aku pulang dulu ya. Udah ditungguin, bubye Kei.” Ujar Mona yang langsung pergi meninggalkan Keisha yang tengah melambaikan tangan padanya. Saat itulah Keisha melihat Yoga tengah berjalan menuju taman sekolah.
“Yoga ngapain lagi ke taman, kayaknya tuh anak sering ke taman deh.” Pikir Keisha dan di detik kemudian diangkatlah kakinya melangkah menuju ke taman sekolah. Dengan bertanya-tanya Keisha melangkah ke taman mengikuti Yoga yang terlihat sedang merenung itu.
“Yoga ngapain aja sih, kok jadi penasaran gini. Samperin gak ya?” bimbang Keisha menatap Yoga yang masih duduk termangu di taman sekolah itu, namun rasa penasaran Keisha memaksa kakinya untuk melangkah menghampiri Yoga.
“Hai… Yog.” Sapa Keisha seolah-olah terkejut melihat Yoga duduk disitu.
“Oh… hai.” Balas Yoga tanpa ekspresi.
“Napain?” Tanya Keisha yang tak bisa menutupi rasa penasarannya.
“Gak ngapa-ngapain, mau pulang.” Jawab Yoga beranjak dari tempat duduknya.
“Oh…”
“Pulang dulu ya.” Ucap Yoga sembari meninggalkan Keisha yang masih penasaran.
“Ehm, Yog…” ujar Keisha yang dengan suksesnya mencegat langkah Yoga.
“Apa?” Tanya Yoga sambil berbalik.
“Emm… kamu mau bantuin aku gak?!” Tanya Keisha gugup. Yoga hanya diam menatap Keisha, Keisha yang ditatapnya itu semakin gelisah dan gugup.
“Emm… gini. Kita kan mau ngadain perpisahan, nah OSIS rencananya mau ngadain kenang-kenangan seperti film dokumenter gitu. Kebetulan yang jadi ketuanya aku, tapi… emm gimana ya. Aku masih belum ada ide, masih bingung. Jadi gini deh, aku mau minta bantuan kamu. Bisa?!” ucap Keisha tak beraturan.
‘Keisha bodoh amat sih kamu, tinggal ngomong minta bantuan aja ribetnya minta mampus.’ Caci makinya dalam hati.
“Kenapa mesti aku?” Tanya Yoga masih tetap tanpa ekspresi.
‘Mampus lo, kenapa mesti dia. Apa jawabannya coba.’ suara di hati Keisha mengolok-oloknya.
“Emm…. Kenapa ya…” pikir Keisha garuk-garuk kepala.
‘Mampus-mampus-mampus kamu Kei, bego dipelihara.’ Ucapnya dalam hati.
“Gak ada alasan kan, berarti aku gak harus ngebantuin kamu.” Ujar Yoga dan berlalu pergi.
“Emang gak harus sih, tapi ini untuk kepentingan kita semua, untuk perpisahan, untuk kenang-kenangan, untuk kebersamaan kita. Dan ini satu-satunya kesempatan terakhir kita kalau kita semua itu bangga sekolah disini.” Teriak Keisha
“Yoga, kalau kamu masih punya perasaan sama sekolah ini, besok kutunggu di rapat OSIS.” Masih tetap berteriak, Keisha mencoba memberitahu Yoga yang sudah menghilang di koridor sekolah.
@@@@@@
“Kei… kok kelihatannya lemas gitu sih, belum makan ya?” Tanya Ita yang sebangku dengannya.
“Hhhh….”
“Iiihhh…. Ditanya malah menghela napas gitu. Gak sopan lo, eh gimana? Udah dapat ide?” Tanya Ita lagi sambil membuka bukunya.
“Hhh….”
“Keisha ditanyain kok cuma menghela napas terus sih daritadi. Yaaahhhhh malah ngeliatin lagi, iihhh…. Jijay ach kamu liatin gitu. Kamu normal kan Kei?” diletakkannya tangan Ita di dahi Keisha untuk mendeteksi kewarasan Keisha.
“Hari ini rapat OSIS.” Akhirnya Keisha menjawab dengan tanpa semangat.
“Terus…”
“Belum dapat ide.”
“So?”
“Gak tau.”
“Ya kan di rapat entar bisa didiskusikan tuh.”
“Kemarin aku minta bantuan Yoga.”
“Yoga?” kaget Ita mendengar kata Yoga, Keisha yang sedang tidur-tiduran di meja langsung tegak duduknya.
“He’em” jawab Keisha sambil manggut-manggut mengiyakan.
“Terus??”
“Aku suruh datang ke rapat.”
“Dia mau?”
“Don’t know.” Jawab Keisha sok cuek dan dilanjutkannya lagi bermalas-malasan tidur di meja.
@@@@@@
“Gimana nih Kei? Udah 1 jam kita nungguin Yoga, tapi anaknya gak datang-datang?” Tanya Mona gak sabar. Sore ini anak-anak OSIS menunggu kedatangan Yoga yang telah dijamin oleh Keisha bahwa dia akan datang.
“Bentar lagi deh, aku yakin pasti dia datang.” ujar Keisha sambil melirik jam dinding dengan gelisah.
“Bentar lagi? Nungguin sampai kapan? Sampai besok?” Dido yang sudah gak sabar pun ikut bicara.
“Udahlah. Kei… Yoga mungkin gak bisa bantuin kita. Ehm, teman-teman rapat ditunda besok, sekarang kalian boleh pulang deh.” Ujar Mona akhirnya. Anak-anak OSIS pun keluar ruangan dengan tidak rela, rapat yang seharusnya telah selesai hari ini akhirnya batal dan ditunda esok harinya. Mereka keluar dengan muka kecewa.
“Kei gak pulang?” Tanya Mona sambil membereskan kertas-kertas berserakan di meja.
“Eh… iya deh.”
“Udah jangan dipikirin, kita bahas konsepnya film dokumenter itu. Yaaa…. Mungkin Yoga emang gak bisa bantu.”
“Tapi, aku yakin dia mau bantu kita. Mungkin dia lupa akan rapat OSIS ini.”
“Kamu udah bilang sama Yoga kemarin?” Tanya Mona lagi dengan senyum khasnya dan duduk di sebelah Keisha.
“Udah.”
“Dia bersedia?”
“Emm… dia belum bilang apa-apa sih, tapi Mon aku yakin dia mau kok bantuin kita.”
“Alasannya?” Keisha hanya bisa diam tertunduk ditanya seperti itu oleh Mona.
“Gak bisa jawab kan?! Kei… itu bukan yakin, tapi kamu hanya mencoba meyakinkan dirimu sendiri. Udahlah, inilah kenyataannya. Yoga gak bisa bantu kita, besok kita rapat dan membahas konsepnya.” Setelah mengatakan itu, Mona pun beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan ruang OSIS.
‘Mungkin benar kata Mona, kemarin kan Yoga bilang sendiri kalau dia gak mau bantu. Begonya diriku.’ Maki Keisha dalam hati sambil membereskan bukunya kedalam tas. Dengan pasrah Keisha bangkit dari tempat duduknya dan ketika menuju pintu ruangan OSIS muncullah sesosok manusia yang sangat diharapkan kedatangannya di rapat tadi.
“Maaf.” Ujar Yoga sambil mengatur nafasnya.
“Kamu datang.” Keisha sangat tak percaya apa yang dilihatnya sampai-sampai dia bingung apa yang harus diucapkannya.
“Ehm… tadi kebetulan dari ruang guru terus iseng kesini.” Ucap Yoga salah tingkah dan beranjak pergi dari ruangan itu.
“Rapat ditunda besok, besok kamu bisa datang. Kami menunggu kedatanganmu.” Setelah mendengar ucapan Keisha, Yoga pun pergi dari ruangan OSIS. Keisha hanya bisa tersenyum dalam perjalanan pulang ke rumah.
@@@@@@
“Kurang seminggu lagi nih kita ngerayain tahun baru.” Ujar Mona mengawali pembicaraan di rapat OSIS.
“Rekaman semua kegiatan-kegiatan pas perayaan Ulang Tahun Sekolah kemaren sudah selesai kan Yog?” Tanya Vicky wakil ketua OSIS.
“Udah, udah selesai diedit juga kok dibantu sama anak-anak mading.” Ujar Yoga sembari menyerahkan beberapa kaset rekaman.
“Okeh… ini entar biar diedit lagi terus dimasukin ke CD.” Terang Vicky kemudian.
“Eh… biasanya pas tahun baru bukannya ada kembang api tuh.” Ujar Mona dengan sikap seriusnya.
“Bener juga!” ucap Natalia mengiyakan.
“Setiap tahun emang gitu kan, ada kembang api. Emang kenapa?” Feri pun keluar suara.
“Gimana kalau kita buat sesuatu yang beda di film ini.” Ujar Mona yang membuat semua anggota OSIS diruangan itu menjadi bingung.
“Jadi gini, diakhir film ini gimana kalau kita masukin rekaman kembang api. Menurut kamu gimana Yog?” ujar Mona lagi.
“Emm… bagus juga. Udah gitu, ending dari semua film ini lebih bagusan lagi kalau kita ambil sudut-sudut dari sekolah ini, lorong-lorongnya, koridor, ruang kelas. Apalagi kalau pas sore hari, hasilnya pasti bagus.” Ucap Yoga yang kemudian disetujui oleh anggota OSIS.
“Nah keren tuh… entar biar kamu sama Keisha yang merekam ya?” ujar Mona lagi membuat Keisha terbelalak kesekian kalinya.
“Oke deh, rapat selesai. Mulai besok, selamat berlibur semuanya dan selamat Tahun Baru.” Ucap Mona mengakhiri rapat hari ini.
@@@@@@
“Teman-teman! Hari ini kita bebas selama 4 jam pelajaran.” Teriak Doni didepan kelas.
“Kenapa?” Tanya Indah
“Pak Agus gak masuk, katanya sih sakit. Sakit ambeien kali.” Uajr Doni yang membuat seisi kelas tertawa gaduh.
“Huh… ngapain enaknya sekarang ya Kei.” Keluh Ita sambil tiduran di Meja, tak dipedulikannya keluhan Ita. Saat ini, saat jam pelajaran kosong, saat ruang kelas berubah menjadi pasar, saat para penghuni kelas berlomba-lomba mengeluarkan suara, hanya Keisha yang termenung melamunkan sesuatu. Tangannya menopang dagu di meja, 2 bangku didepannya sosok Yoga juga kelihatan terdiam mencorat-coret buku.
‘Selama ini Yoga gak pernah terekam, jadi gak ada gambar Yoga sama sekali.’ Ujar Keisha dalam hati sambil tetap menatap sosok Yoga yang masih sibuk menulis sesuatu. Dihampirinya tempat duduk Yoga sambil menenteng handycam mencoba merekam aktifitas Yoga saat ini.
“Jangan rekam aku.” Ucap Yoga sambil tangannya menutupi handycam saat dia tahu Keisha tengah sibuk merekamnya.
“Kenapa??” Tanya Keisha.
“Aku gak suka direkam atau difoto.”
“Ohh…”
“Eh, bagaimana kalau kita rekam sekolah ini?” usul Yoga kemudian.
“HAH?!”
“Dasar lemot, bawa handycamnya. Jam segini ada sudut-sudut disekolah ini yang bagus buat diambil gambarnya.” Ujar Yoga yang kemudian ditariknya tangan Keisha keluar kelas.
“WOW!!! Tak kusangka cahaya matahari di sore hari membuat tamannya jadi indah.” Keisha terkagum-kagum melihat pantulan sinar matahari.
“Dari aula ini, tamannya terlihat seperti sebuah lukisan kan dengan background sinar matahari senja.” Jelas Yoga, namun Keisha terlalu mengagumi keindahan sore ini hingga dia tak terlalu mempedulikan apa yang dikatakan Yoga.
“Aku yakin kamu mencintai sekolah ini walaupun kamu sering absen.”
“Bagiku suka gak suka, hidup ini hanya sebuah film.” Jawab Yoga pelan, Keisha yang mengagumi keindahan sore itu seketika menoleh menatap Yoga.
‘Yoga kelihatan cakep, sinar matahari itu memantul dari rambutnya, bajunya, jam tangannya. Aku benar-benar melihat keindahan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.’ Ucap Keisha dalam hati ketika ditatapnya Yoga yang kelihatan muram itu.
“Kenapa?”
“HAH… oh… ehm, enggak apa-apa kok.” Seketika Keisha menjadi gagu saat terpergok memandangi Yoga.
“Loh kalian disini. Aku cariin di kelas tadi, ternyata di aula.” Suara Vicky menggema mengagetkan Keisha dan Yoga. Yoga hanya tersenyum menyapa Vicky.
“Ada apa?” Tanya Keisha akhirnya.
“Gini Yog, ternyata semua komputer di sekolah ini dipakai. Jadi kita gak bisa ngedit atau masukin rekaman ke CD. Mau pinjam pihak mading gak bisa, ruang audio-visual gak bisa juga, lab. komputer sama aja. Padahal waktu kita mepet banget, habis tahun baru harus udah selesai. Abis itu, persiapan buat Ujian. Yaa… mungkin kamu punya masukan?” jelas Vicky panjang lebar.
“Aku bawa aja kasetnya, aku punya teman yang bisa kok.” Usul Yoga kemudian sambil tetap tersenyum.
“Hufz… untunglah. Makasih ya, untung aja kamu mau bantuin kita.”
“Sama-sama.”
@@@@@@
Selasa, 01 Januari 2007
Dear Diary
Semalam aku pergi sama Yoga nonton kembang api dimalam tahun baru, tentunya sambil merekam untuk film dokumenter kita. Yoga kelihatan cakep loh ry dengan t-shirt garis-garis dan jaket kulitnya. Tentunya juga aku berusaha membuat diriku cantik dan feminism kemaren.
Eh Yoga perhatian loh selama kita nungguin kembang apinya muncul. Kita cerita-cerita ry, mulai dari masuk sekolah SMA Harapan Bangsa sampai cita-cita kita. Sedih rasanya kalau mengenang perpisahan, apalagi Yoga kemarin bilang kalau mungkin tahun besok dia gak bisa melihat kembang api itu. Kenapa ya? Apa dia mau pindah? Tapi bukannya tiap tahun baru dimanapun kotanya pasti ada acara kembang api bukan? Terus kenapa Yoga berkata seperti itu.
Saat kembang api dimulai, kita sempat lupa loh buat merekamnya. Abisnya kembang apinya bagus banget hehehehe…
Tapi… di pertengahan nonton kembang api itu ada insiden ry. Gak tau dimulai darimana, aku dan Yoga berciuman. Tapi Yoga langsung sadar dan bilang minta maaf ke aku. Padahal aku bilang aku suka dia, tapi dia gak mau mengerti dan tetap minta maaf sambil terus bilang bahwa ini gak boleh terjadi. Memangnya kenapa? Apa aku salah kalau aku suka Yoga?
Saat itu aku marah sama dia dan langsung pergi begitu saja. Kutinggalin dia ry dan pulang ke rumah.
Hari ini aku nyesel kenapa kemarin aku bersikap seperti itu. Kayaknya hari Rabu besok pas masuk sekolah aku harus minta maaf deh sama Yoga. Hufzz…
@@@@@@
“Wuooiii… Keisha Aristyas!!!” teriak Ita ditelinga Keisha yang seketika langsung gelagapan.
“Ah.. kenapa Ta?”
“Kenapa-kenapa, kamu tuh yang kenapa? Daritadi bengong aja kerjaannya. Udah istirahat nih.”
“Ooohhh…” lemas Keisha menanggapi Ita.
“Yaelah, kayaknya kamu gak punya semangat hidup deh. Kamu kenapa Kei? Sakit?” Tanya Ita prihatin.
“Yoga kok gak masuk ya hari ini?”
“HAH? Yoga? Bwahahahahaha… hahahahaha…” Keisha yang mendengar tawa Ita hanya bisa terheran-heran.
“Kok ketawa?”
“Nah kamu sih nanyain Yoga. Kenapa? Kangen?”
“Emang gak boleh nanyain Yoga?” Keisha yang merasa ditertawakan langsung sewot.
“Boleh-boleh aja Kei, gak ada larangan kok. Ya cuma tumben aja, bukannya selama ini Yoga emang jarang masuk dan kamu gak pernah peduli kan. Kok sekarang kamu mulai mempedulikan keabsenannya si Yoga ini. Nah aku sebagai teman sebangku plus sahabat kamu ini jadi bingung, dari kebingunganku itu aku jadi menduga-duga kalau-kalau kamu mulai perhatian sama si Yoga ini. Begono.”
“Terserah lah…” ujar Keisha tanpa semangat dan langsung tiduran di mejanya.
“Iiihh… dasar aneh, dibilangin malah bilang terserah. Gak makan Kei? Kamu gak ke kantin apa?”
“Kalau kamu ke kantin, pergi aja deh.” Jawab Keisha dengan tetap tidur-tiduran di meja. Saat ini dipikiran Keisha hanyalah Yoga, Yoga dan Yoga. Yoga yang bekerjasama dengannya dalam pembuatan film dokumenter untuk perpisahan sekolah, Yoga yang menjadi teman sekelasnya, Yoga yang gak mau direkam gambarnya dan Yoga yang telah menciumnya dimalam tahun baru yang kemudian meminta maaf dan mengatakannya bahwa ini gak boleh terjadi.
Setiap teringat Yoga, kejadian di malam Tahun Baru itu selalu terputar kembali dalam ingatannya. Saat Keisha dan Yoga berciuman lalu Yoga melepas ciuman itu dan meminta maaf berkali-kali sambil mengatakan bahwa ini gak boleh terjadi. Keisha kaget dengan perilaku Yoga, tapi dia ingin mengatakan bahwa dia suka Yoga. Tapi Yoga seperti gak mau mencoba untuk mengerti perasaannya dan terus meminta maaf sambil mengatakan ini gak boleh terjadi. Keisha gak bisa terima dengan kelakuan Yoga, dia berpikir bahwa Yoga tidak menyukainya. Di detik kemudian, Keisha berlari, berlari dan terus berlari meninggalkan Yoga yang tertunduk lemas. Keisha terus berlari dan berharap dia gak bertemu lagi dengan Yoga.
@@@@@@
Waktu terus berlalu, Ujian Nasional telah selesai. Pentas Seni pun diadakan dalam rangka merayakan acara perpisahan, kegembiraan menyelimuti SMA Harapan Bangsa, senyum tersebar dimana-mana. Wajah-wajah sumringah terlihat di seantero SMA Harapan Bangsa, tapi tidak bagi Keisha karena sampai saat ini dia belum melihat batang hidung Yoga secuil pun.
“Kepada para anggota OSIS, diharap berkumpul di ruangan OSIS saat ini juga.” Menggema suara Mona memberi pengumuman lewat pengeras suara. Keisha yang merenung di bangkunya dengan malas berdiri dan pergi ke ruangan OSIS memenuhi panggilan Mona.
Sesampainya diruangan OSIS tak dilihatnya satupun anggota OSIS disana. Sambil menunggu anggota OSIS lainnya, Keisha menghampiri kursi yang tertata rapi di sekeliling meja. Dihempaskan pantatnya di kursi yang tak empuk itu. Hufzz… ternyata menghela napas pun masih belum bisa menenangkan pikirannya tentang Yoga. Beberapa menit kemudian, datanglah satu persatu anggota OSIS dan rapat pun dimulai.
“Teman-teman, mungkin sebenarnya yang akan saya sampaikan di rapat kali ini bukanlah berita yang bagus.” Ujar Mona dengan nada sedih. DEG! Jantung Keisha berdetak dengan cepat, pandangan mata Mona menabrak pandangan Keisha. Sesaat mereka berpandangan.
“Berat bagi saya untuk mengatakannya.” Ujar Mona kemudian sambil tertunduk sedih. Hening seketika.
“Sekolah mendapat berita bahwa salah satu teman kita telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Selama ini Yoga Aditya mengidap penyakit leukemia dan sekarang dia sudah tak bisa ditolong lagi.” Selesai mengatakan itu Mona langsung terisak, Natalia berpelukan dengan Mega sambil menangis. Ruangan OSIS diselimuti tangis dan haru, airmata menghiasi setiap wajah anggota OSIS.
Namun lain hal dengan Keisha, dia malah terdiam tak bergerak sedikitpun. Saat ini dia bingung akankah dia bersedih dan menangisi kepergian Yoga. Keisha hanya bisa diam tak bergerak seperti patung. Pandangan matanya kosong dan lurus ke depan.
@@@@@@
Alunan lagu Peterpan mengalun lembut saat tayangan di televisi menggambarkan tentang keadaan sekolah, ruang kelas, taman, jalanan SMA Harapan Bangsa dan semua tentang SMA Harapan Bangsa.
Keisha terus mengamati layar televisi dengan pandangan kosong, air matanya sudah kering. Alunan lembut suara Ariel Peterpan pun berhenti, hening seketika. Tapi Keisha masih tetap menatap layar televisi.
“Maaf, aku udah lancang pinjam handycam ini sebentar.” Suara yang sangat dikenal Keisha selama ini terdengar lagi lewat spiker televisi.
“Sebenarnya aku gak suka direkam-rekam, aku ingin seperti burung yang gak pernah meninggalkan jejaknya diranting pohon. Tapi mau bagaimana lagi.” Keisha tersenyum samar menatap gambar Yoga dilayar televisi itu.
“Kei aku minta maaf atas kejadian malam Tahun Baru itu. Bukannya aku gak menyukaimu, aku menciummu bukan hanya terpengaruh suasana tapi sejujurnya aku terpengaruh sama perasaanku sendiri.
Aku harap tahun besok kau tidak pergi melihat kembang api bersama cowok lain. Mengerti kan maksudku? Ini ungkapan cinta Kei, aku mencintaimu.” Bzzt… layar televisi pun telah menyelesaikan tugasnya menayangkan gambar-gambar yang sudah direkam ke CD tersebut. Keisha masih tetap diam dan menatap layar televisi yang sudah tidak menayangkan apapun.
“Aku akan tetap mengenangmu sampai kapanpun Yoga Aditya.” Ucap Keisha dalam hati dan beranjaklah ia ke tempat tidurnya yang empuk. Terpejamlah matanya yang kemudian mengantarkannya kedalam mimpi yang sudah menunggunya. Dilihatnya Yoga tersenyum menatapnya, tanpa berpikir lagi diraihnya tangan Yoga dan pergilah Keisha bersama Yoga ditengah tebaran bunga yang indah.
@@@TAMAT@@@
NB1: Sekalian Mengucapkan Met Menjalankan Puasa Ramadhan, aku mau meminta maaf kepada teman-teman semua atas kesalahanku baik yang disengaja atau tidak, baik yang kelihatan maupun tidak. Semoga kita semua bisa menjadi manusia yang utuh dan fitrah di Hari Raya Kemenangan ini. Amieeennn....
NB2: Sekalian juga mau mengucapkan Selamat Ulang Tahun buat Bang Buwel, semoga makin sukses.
19 Jul 2009
gelap sepiku (repost)

Gelap Sepiku
Sepi yang kurasakan
saat kukenang dirimu
Tak akan ada lagi nyanyian alam
yang merdu saat ini.
Karena kau telah diraihnya
Pergi meninggalkan aku
disini, sepi dan sendiri.
Ku berjalan di kehampaanku
mengingat kau penuh seluruh.
Sapaan senyum dan lambaian itu,
kini hanyalah imajinasiku.
Hanyalah kegelapan kini yang menemaniku,
tanpa belai kasihmu lagi.
Senandung itu hanyalah lagu sendu
yang kau sulap jadi merdu.
Tapi bertepi hati meronta….
tak ingin jatuh ke limbah kemunafikan
Hati tak akan memaksa….
agar kau menemaniku
di kegelapan kesendirianku.
Wahai Dewi Cinta….
jangan kobarkan api dalam hatiku.
Karena hati tak ingin terbakar kebencian.
Sepi yang kurasakan
saat kukenang dirimu
Tak akan ada lagi nyanyian alam
yang merdu saat ini.
Karena kau telah diraihnya
Pergi meninggalkan aku
disini, sepi dan sendiri.
Ku berjalan di kehampaanku
mengingat kau penuh seluruh.
Sapaan senyum dan lambaian itu,
kini hanyalah imajinasiku.
Hanyalah kegelapan kini yang menemaniku,
tanpa belai kasihmu lagi.
Senandung itu hanyalah lagu sendu
yang kau sulap jadi merdu.
Tapi bertepi hati meronta….
tak ingin jatuh ke limbah kemunafikan
Hati tak akan memaksa….
agar kau menemaniku
di kegelapan kesendirianku.
Wahai Dewi Cinta….
jangan kobarkan api dalam hatiku.
Karena hati tak ingin terbakar kebencian.
#######
“Stevy…. tuch langganan yei udah datang.” panggil Nancy, teman kerjaku padaku yang lagi sibuk merias wajahku. Pelangganku yang setia adalah Om Burhan. Ya, aku bekerja di pub terkemuka di kota metropolitan Surabaya ini dan Stevy adalah nama panggilanku disini, lebih tepatnya nama bekenku.
Sebenarnya, namaku adalah Dimas. Ya, aku seorang laki-laki tapi karena suatu sebab, aku menjadi waria. Aku yatim piatu dan hidup sebatang kara di kota yang keras kehidupan ini. Tiap hari, hidupku bergantung pada pub dan pelanggan-pelanggan yang datang kesini. Bukannya aku tidak takut dosa karena telah memilih hidup yang tidak normal seperti ini. Aku takut banget malah. Aku tau, semua yang aku lakukan ini tidak memberi pahala, tapi malah mendekatkan aku ke Neraka. Tapi inilah hidup, kadang kita bisa salah memilih jalan.
Aku bisa saja insyaf dan kembali ke jalan yang benar. Tapi selama ini pub inilah yang bisa menghidupiku dan satu lagi, aku udah terlanjur jatuh ke dalam jurang ini.
Aku bisa jadi seperti ini gara-gara Bella, cewek yang aku suka dulu. Bella, cewek cantik yang populer dan anak orang kaya. Bella, yang katanya mencintaiku, dia malah memilih untuk mengikuti orang tuanya yaitu memutuskan hubungan percintaan kami dengan mencampakkan aku begitu saja dan pergi ke Australia setelah dia mengikat janji sehidup semati dengan cowok lain yang selevel dengan dia.
Aku yang sebatang kara ini tak bisa berbuat apa-apa selain meratapi diri dan masuk ke jurang yang penuh dosa ini.
#######
“Aduh, capek banget dech aku.” keluhku setelah bangun tidur. Setelah semalam, aku menservise pelanggan-pelangganku, kini aku benar-benar capek bukan main. Nancy, yang satu rumah kontrakan dengan aku, kelihatan sebel.
“Kenapa Nan, kangen sama Om Purna?” godaku padanya.
“Gak lah, semalam kan eike udah ketemu sama om cucok itu.”
“Terus, kenapa kok mukamu ditekuk seperti itu?” tanyaku penasaran padanya.
“Ini sih gara-gara tadi, ada seorang cewek yang datang-datang nyariin Dimas gitu. Padahal eike udah bilang gak ada namanya Dimas disini, tapi….”
“Dimas!!!” potongku tak percaya pada ucapan Nancy. Aku harap Nancy salah ucap.
“Iya, Dimas. Emank yei kenal sama dia?” tanya Nancy padaku. Kugelengkan kepalaku, dan aku terpaksa melakukannya. Karena Nancy emank tidak tau nama asliku. Dia hanya mengenalku dengan nama Stevanny.
“Dan kamu tanya sama tuch cewek, namanya siapa?” tanyaku hati-hati supaya tidak kelihatan kalo aku mengorek informasi. Entah kenapa, aku merasa masa laluku yang belum selesai sepertinya akan datang lagi menghampiriku.
“Tadi sech, sepertinya dia bilang namanya Bella gitu dech.”
Deg…. jantungku terasa copot dan berdetak tak karuan. Bella, cewek yang selama ini menghantuiku, cewek dalam masa laluku. Cewek yang telah membuatku menjadi seperti ini. Kenapa sekarang dia datang lagi dan mencariku kesini.
#######
Malam ini, pelanggan pub sangat sedikit yang datang. Aku hanya bisa duduk di bar sambil menghisap rokok yang tinggal setengah nyawa itu.
Bella, kenapa kamu datang di waktu yang tidak tepat. Disaat aku sudah menghitamkan cintaku, kau datang mencariku. Kenapa disaat dulu aku menanti dirimu selama 3 tahun, kau malah tidak ada kabar sama sekali. Tapi kini, aku sudah tak bisa lagi seperti dulu. Mungkin cinta ini masih tetap untukmu Bella, tapi hatiku telah beku untuk merasakan cinta.
“Stevy….kok melamun sech?” sapa Om Yudha, salah satu pelanggan padaku.
“Ach….om ini, ada apa om? mau diservise stevy nih?” godaku padanya, bayangan tentang Bella lenyap sudah. Aku harus bersikap profesional. Om Yudha yang seorang konglomerat itupun mulai bermain dosa denganku. Disaat seperti inilah, aku merasa tidak punya masalah dan tidak terpikir lagi tentang dosa dan pahala.
#######
“Mbak, eike kan udah bilang gak ada nama orang seperti yang mbak cari disini!” kudengar suara Nancy yang seperti membentak seseorang itu. Apa yang Nancy lakukan sepagi ini sih, mengganggu orang saja.
“Tolong mbak, bantu saya. Saya yakin Dimas disini, saya benar-benar pengin ketemu Dimas.”
“Jadi cewek kok ngeyel sech mbak, yang tinggal disini itu hanya eike ama Stevanny teman eike.”
Aku yang penasaran dengan keributan diluar itu, akhirnya dengan terpaksa keluar untuk melihat. Astaghfirullah, tak sadar kugumamkan nama Allah. Aku tidak percaya, bahwa di depanku saat ini adalah Bella, cewek yang pernah mengisi hatiku.
“Akulah yang anda cari, akulah Dimas.” mulutku pun akhirnya terbuka mengeluarkan kejujuran yang selama ini telah kupendam. Tampak terlihat Bella yang tak percaya mendengar omonganku dan Nancy yang bengong tak berkutik menatapku. Tapi memang inilah aku, Dimas.
#######
“Dim, maafin aku yach.” kata-kata Bella yang pertama kali keluar dari mulutnya disela-sela isak tangisnya masih tetap tidak bisa meruntuhkan keangkuhanku. Aku udah terlalu sakit untuk sekedar memberi maaf padanya.
“Semua udah berlalu, dan kamu hanyalah masa laluku.” Akhirnya, kata-kata itulah yang kupilih untuk mengungkapkan sakitnya hatiku yang selama ini telah kupendam.
“Dimas, aku tau aku salah, tapi kumohon maafkan aku. Dan kita bisa memulai semua ini dari awal.”
“Kamu terlambat untuk mengatakan ini Bella, kamu datang di waktu yang tidak tepat.”
“Kenapa kamu ngomong seperti itu Dimas, tidak ada waktu yang tidak tepat. Kita hanya perlu waktu untuk nyelesaiin ini semua. Aku masih mencintaimu Dimas. Lagipula, mama papa juga udah mau untuk nerima kamu. Dimas, kamu hanya tinggal berubah jadi seperti dulu lagi dan kita jalani lagi semua ini mulai dari nol. Beres sudah khan, atau cinta untukku sudah hilang?”
“Kamu salah Bella. Cinta ini masih ada dan hanya untukmu, tapi itu 3 tahun yang lalu karena sekarang hatiku telah beku untuk merasakan cinta ini lagi.”
“Dimas, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi.” pinta Bella padaku.
“Bukannya aku tidak bisa memberimu kesempatan Bella, tapi aku sudah bilang semuanya sudah terlambat. Aku tidak bisa seperti dulu lagi.”
“Kenapa? kenapa Dim? Sebegitu bencinyakah dirimu saat ini padaku, sampai-sampai kau mengatakan hal seperti itu.” desak Bella padaku.
“Bukan bella, aku tidak bisa membencimu, hatiku terlalu beku untuk merasakan benci dan cinta. Kamu terlambat bella, aku beda dengan yang dulu. Aku tidak bisa lagi menjadi Dimas. Itu semua karena….2 bulan yang lalu aku telah operasi untuk mengganti jenis kelamin.”
####### SELESAI #######
***coretanku : 22/09/2008 23.00
4 Jul 2009
air & minyak (repost)
AiR &
Minyak
ga’ akan pernah bersatu
Minyak
ga’ akan pernah bersatu
Sudut Pandang Air
Aku adalah air. Aku suka air. Karena air bagiku sangat menyejukkan. Hanya dengan melihat saja, hati serasa tenteram. Dan hidupku selalu nyaman, aku ga’ pernah sekalipun terusik dengan dunia lain. Hidupku terasa bahagia. Hingga suatu hari, ada yang berusaha masuk ke dalam ketenangan hidupku.
Dia adalah seorang cewek. Dia seperti minyak bagiku. Dia selalu kelihatan ceria, lincah dan dimanapun dia berada dia selalu tersenyum. Dia serasa mengganggu kehidupanku. Minyak selalu mencoba untuk menempel padaku dan aku ga’ pernah sekalipun menggubris dia. Aku selalu mengacuhkan dia. Tapi, aku merasa dia selalu berusaha tampak akrab denganku.
Sepertinya, dia menaruh hati padaku. Tapi aku masih belum mau diganggu, aku masih ingin merasakan kehidupanku yang nyaman. Kadang aku merasa kasihan dengan minyak, dia tetap berusaha keras untuk mendekatiku. Walopun minyak selalu kelihatan cuek, tapi dia masih berusaha untuk berkomunikasi denganku.
Bukannya aku sombong, ga’ mau berteman dengannya. Tapi aku malu untuk memulai pembicaraan dengannya. Aku malu dengan dunia yang lain bahwa seorang air mau berteman dengan minyak?. Aku selalu menyimpan perasaan itu. Dan aku merasa sepertinya minyak mengetahuinya, karena akhir-akhir ini aku merasakan gosip-gosip dari dunia yang lain tentang aku dan minyak. Bahkan ga’ sedikit menanyakan apakah aku mencoba untuk berubah, melenceng dari kehidupanku yang semula. Awalnya aku bingung, kenapa mereka bertanya tentang itu. Akhirnya, aku tahu bahwa minyak telah melakukan sesuatu. Aku akui, minyak selalu bicara jujur, terbuka dan periang. Aku ga’ pernah melihatnya bersedih.
Sejak saat itu, aku mencoba untuk menjauhi minyak. Tapi dari jauh, aku selalu mengamati minyak. Aku merasa, minyak orangnya misterius. Dia berbeda dengan teman-temannya yang lain. Dan dari pengamatanku, sekarang sepertinya minyak menerima keputusan dariku. Walopun kita ga’ bicara secara langsung, tapi sepertinya dia memahami bahwa aku menjauhinya. Aku berpikir, mungkinkah perasaannya itu sudah hilang?.
@@@@@@@
Suatu hari, aku mencoba mengajaknya nonton konser group band terkenal. Karena menurut temannya, dia sangat ingin nonton konser itu. Kulihat gelagatnya, wajahnya memerah. Kusangka dia mau ikut, tapi ternyata jawabannya membuatku sedih. Dia ga’ mau ikut bersamaku. Aku sedih mendengarnya. HAH!, kenapa aku bersedih? dan kenapa juga aku merasa sepi padahal disini tempatnya rame? Aku celingak-celinguk di tempat konser seperti mencari seseorang, tapi tak kutemukan.
Esoknya, seperti biasa. Aku menyapanya lewat senyum. Aku bertanya tentang konser kemarin. Katanya, dia datang tapi ga’ lama nontonnya. Aku tahu dia bohong, tapi kenapa yach dia melakukan kebohongan itu?. Aku tak tahu. Tapi aku merasa dia jauh dariku. Dia terasa beda dengan dia yang dulu. Walopun minyak tetap ceria kelihatannya, tapi aku yakin dia berubah. Dia ga’ pernah lagi mencoba untuk memulai pembicaraan denganku. Dia juga ga’ mau lagi melihat mataku, dia selalu menunduk baik saat ngomong maupun berhadapan denganku. Dia udah ga’ mau lagi melihat wajahku. Saat kutanya, minyak selalu menjawab dengan singkat dan cuek. Aku ga’ percaya, bahwa kenyataannya aku penasaran dengan kelakuan minyak.
Namun, demi kehidupanku yang tenang, aku akan mengikuti permainannya. Dan kita serasa lebih jauh lagi. Sebenarnya aku ingin sekali berbicara dengan dia, tapi aku ga’ tahu harus mulai darimana. Setiap pagi aku selalu menyapanya dengan senyum dan hanya itu yang kulakukan padanya. Aku benar-benar ga’ percaya, bahwa kenyataan aku sangat merindukan minyak. Tapi dia sekarang lebih jauh lagi.
@@@@@@@
Suatu malam, aku mendapat sms dari nomor baru tertulis bahwa nomor itu pengirimnya adalah minyak. Waw, aku bahagia. Ternyata, dia mencaritahu nomor HP-ku lewat teman-temanku. Aku ga’ marah kok, aku malah senang. Tapi, demi kehidupanku yang tenang, aku mengkomplain temanku itu.
Sejak saat itu, kita sering sms. Walopun saat bertemu, minyak tetap dengan kelakuannya yang seperti menjauhiku. Tapi aku merasa, hatiku sangat dekat dengan minyak.
Ternyata, kenyataan ga’ selalu berjalan sesuai dengan harapan. Aku kecewa dengan minyak, dia sering cerita ke temannya tentang aku, tentang hubungan kita. Padahal aku masih ingin hidup tenteram.
@@@@@@@
Di akhir bulan, aku dikejutkan dengan berita dari minyak, bahwa dia akan pergi dari kehidupanku. Sebenarnya saat itu, aku ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa aku sayang sama dia. Tapi, kuurungkan niatku, demi kehidupanku yang tenteram.
Aku hanya menatapnya kosong, saat dia pergi dari kehidupanku. Beberapa hari setelah dia pergi, aku merasa hidupku sepi, hampa, padahal aku telah kembali ke kehidupanku yang semula. Tanpa sadar, kadang aku memencet nomo HP-nya. Aku merasa kehilangan minyak, yang seharusnya aku ga’ merasa seperti ini. Aku harus memutuskan sesuatu!.
Yach, aku telah memutuskan. Aku harus melupakannya!. Tak disangka, ada sms masuk dari minyak. Dia bertanya tentang kabarku, aku akan mengatakan aku baik……. Tidak, aku harus melupakannya. Akhirnya, kubalas dengan :
“Forget me and call your boyfriend
not me…….
Okay! ( I am not your friend again )”
Sebenarnya, aku ga’ tega mengatakan itu, tapi aku ga’ mau lagi mengganggu kehidupannya. Dan aku telah memutuskan bahwa aku harus kembali lagi ke kehidupanku yang semula, tenteram, nyaman dan damai. Aku ga’ mau punya perasaan yang aneh-aneh sama minyak yang hanya seorang cewek SMA. Walopun sebenarnya aku tahu, bahwa minyak punya perasaan yang lebih terhadapku. Tit…..tit…..satu pesan kuterima dan ternyata itu dari minyak. Kelihatan banget dia sedih. Dia tanya alasanku, kenapa hal itu mesti terjadi?
“KEEP YOUR MOUTH PLEASE…..
I don’t like when you said something about me,
bye……”
Dengan sangat berat hati, aku harus berbohong. Agar minyak mau pergi dari kehidupanku. Lagian pasti perasaan minyak belum mekar, dan hal itu pasti bisa dihilangkan sebelum menjadi besar. Minyak, maafkan aku. Aku tahu kamu punya perasaan padaku. Tapi, itu pasti hanya perasaan sesaat. Yach….. pasti hanya perasaan sesaat.
Dan….Air dan minyak ga’ akan pernah bisa bersatu. Bukannya aku membencimu, tapi aku takut aku ga’ bisa menjalani kehidupanku yang tenteram.
Saat ini satu tahun telah berlalu. Aku sadar, ternyata aku belum dewasa. Aku sangat merindukannya!. Apakah benar Air dan Minyak ga’ akan bisa bersatu? Apa karena minyak terlalu licin untuk dimengerti atau karena air tidak mau menerima minyak apa adanya?!.
@@@@@@@
Sudut Pandang Minyak
Aku adalah seorang cewek SMA. Aku pernah mengalami kerja paruh waktu di suatu Supermarket. Disitu aku mengenal seorang cowok yang sifat dan tabiatnya mirip dengan air, tenang dan menyejukkan.
Aku sering mengamati air, wajahnya, matanya, bahkan senyumnya. Dia juga pintar, lebih pintar dari aku. Aku sangat mengaguminya. Dan aku harus bisa bicara dengan dia. Dengan bebagai cara, aku terus mencoba untuk mengajak air ngobrol denganku. Walopun air selalu mengacuhkanku, tapi aku tahu bahwa dia selalu mendengarkan setiap kata-kataku.
Air sangat indah, berada didekatnya terasa nyaman. Aku harus mencoba caritahu tentang dia. Aku harus mengakrabkan diri dengan teman-temannya. Tapi ternyata aku salah. Seharusnya, aku ga’ boleh akrab dengan temannya, seharusnya aku ga’ boleh cerita kesana-kesini kalo’ aku sangat mengagumi air. Semua udah terlambat, kini air telah menjauhiku. Aku sedih karena kini dia sering ngobrol dengan temanku.
@@@@@@@
Suatu hari, aku dikejutkan dengan kelakuannya. Saat aku datang, dia menyapaku dengan senyumnya. Senyum itu sangat indah, sangat damai. Dan aku yakin, perasaanku terhadap air udah lebih dari perasaan kagum.
Tapi yang telah membuatku lebih kaget lagi, ternyata air mengajakku untuk nonton koser group band terkenal yang sangat ingin kutonton. Dalam hati, aku sangat bahagia sekali. Aku ga’ pernah menyangka sekalipun bahwa air akan mengajakku nonton konser. Aku benar-benar bahagia, tapi….. aku harus menjaga perasaannya.
“Maaf, aku ga’ bisa ikut kamu karena aku udah janji pergi sama teman-temanku.” HAH! kenapa aku mengatakan hal itu, kenapa aku menolaknya. Padahal aku……Ini adalah kesalahanku yang kedua. Aku telah mengecewakan dia, karena tampak jelas dia kecewa, walaupun dia berusaha menutupinya dengan senyuman. Tapi aku tahu, dia punya perasaan sedikit padaku.
Esoknya, dia menyapaku lagi lewat senyuman. Dia bertanya tentang konser kemarin. Aku bingung harus menjawab apa, akhirnya kubilang aja aku nontonnya cuma sebentar. Terpaksa aku berbohong, karena aku ga’ mau dia tahu kalo’ sebenarnya aku ga’ nonton konser itu, tapi aku ada dirumah, suntuk, murung dan menyesali perbuatanku yang telah menolak ajakan air untuk nonton konser.
Air, maaf bukannya aku ingin ngecewain kamu. Tapi aku punya beribu alasan untuk menolaknya, diantaranya :
1. Aku kaget karena sebelum ini kamu telah menjauhiku.
2. Aku takut, teman-temanmu mengetahuinya dan membuat gosip tentang kita. Aku takut kamu malu kalo’ kamu jalan sama aku.
3. Aku ga’ yakin apakah ajakanmu ini benar atau cuma bercanda.
Dan karena alasan itulah, kini aku berusaha untuk menjauhinya. Aku ga’ ingin mengganggunya lagi. Aku tahu, sebelum aku datang, kehidupan air sangat tenteram dan damai. Dan aku ga’ mau jadi pengganggu dalam kehidupan air.
Selain itu, aku juga punya alasan lain untuk menjauhi air. Suatu kali, aku pernah memergokinya memandang cewek lain. Dari kabar-kabari aku tahu kalo’ cewek itu juga punya perasaan pada air. Tapi kata temannya, dia ga’ pernah menanggapi cewek itu. Ga’ tahu kenapa, aku ga’ percaya sama gosip itu, karena bagiku mata ga’ pernah bohong. Tatapan air ke cewek itu kelihatan banget kalo’ dia sangat mengagumi cewek itu, tatapan matanya berbinar-binar. Aku yakin, seorang air telah jatuh hati ke cewek itu.
Oleh karena itu, aku telah membulatkan tekad. Aku harus menjauhi air!. Aku yakin keputusanku ini benar dan aku akan berusaha untuk tidak membuat kesalahan yang ketiga kalinya.
Sebenarnya, aku ga’ mau menjauhinya. Setiap pagi, dia selalu menyapaku lewat senyuman. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Dan perasaanku padanya udah lebih dari rasa kagum. Perasaan ini lebih ke perasaan sayang dan aku selalu ingin dekat dengan air. Kadang tanpa sadar, aku ingin membuka mulut di hadapannya dan bercerita panjang lebar seperti biasanya.
Tapi, aku ga’ bisa. Aku sudah bertekad!.
@@@@@@@
Akhir-akhir ini aku sering memergoki air melihatku, lebih tepatnya seperti mengamatiku. Di satu sisi, aku bahagia dan aku merasa yakin kalo’ air pasti punya perasaan padaku. Walopun sedikit, tapi itu udah cukup untuk membuat perasaan itu mekar. Tapi disisi lain, aku merasa malu dan risih.
Aku benar-benar ga’ bisa mengendalikan diriku. Karena saat ini aku ingin sekali sms dia. Aku udah mendapatkan nomor HP-nya dari salah seorang temannya. Aku benar-benar ingin berada di dekatnya. Dan tanpa diduga, aku telah mengirim sms ke dia. Apakah air marah padaku karena……. Tit….. tit….. tit….. HP-ku bunyi, ternyata dari air dan dia ga’ marah. Waw, aku seneng banget. Aku merasa saat ini hatiku dekat dengan air.
Tapi, ternyata semua itu hanya terjadi sesaat. Ga’ tahu kenapa, dia mulai menjauhiku lagi. Sepertinya dia jaga jarak denganku dan ini sepertinya serius. Ada apa yach?.
@@@@@@@
Waktuku hanya satu bulan kerja paruh waktu di Supermarket itu. Akhirnya, hal yang kutakuti tiba. Aku harus berpisah dengan air. Aku bingung, bagaimana caranya agar air tahu bahwa aku harus pergi, karena kita sepertinya jauuuh…. banget.
Waktu tinggal sedikit. Aku harus bisa mengatakan bahwa aku harus pergi. Dan saat air mengetahuinya, terlihat jelas dia sangat kecewa. Aku tahu, sebenarnya dia sangat ingin memelukku. Air maafkan aku!.
Beberapa lama setelah itu, hidupku terasa sepi. Aku sangat merindukan air, aku ingin berada di dekatnya. Aku ingin dia tahu, bahwa aku sangat menyayanginya. Hanya ada satu cara agar dia tahu, yaitu lewat sms. Tapi, gimana memulainya. Udah lama kita ga’ saling sms-an. Ehmm….kutanya kabarnya dulu deh.
Memang, kenyataan ga’ selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ternyata, air membalas sms-ku dengan kata-kata yang membuatku sedih dan ingin nangis. Aku terasa seperti ditolak mentah-mentah sebelum memberitahu dia akan perasaanku.
Aku benar-benar ga’ percaya dengan semua ini, dengan kata-katanya dan dengan alasannya itu. Aku marah, sedih, muak dan aku ingin muntah. Dia….. Aku…..
Aku seperti kehilangan kata-kata karenanya. Aku yakin, semua ini pasti mimpi. Aku benar-benar ga’ ngerti apa salahku?. “KEEP YOUR MOUTH”, apa aku pernah bicara kasar padanya, atau mungkin dia marah gara-gara aku bercerita pada teman-temankutentang dia. Aku benar-benar bingung dan ga’ ngerti??!
Saat ini 1 tahun telah berlalu tapi aku belum bisa melupakan wajahnya, matanya, senyumnya. Apalagi senyum itu selalu menyapaku setiap pagi. Namun saat ini, sepertinya aku tahu gimana jalan pikirannya waktu itu. Air walopun kelihatan tenang, tapi ternyata dia belum dewasa.
Aku merasa, aku seperti minyak yang selalu mengganggu kehidupan air. Pepatah bilang, air dan minyak ga’ bisa bersatu. Apakah benar demikian? Apa benar air dan minyak ga’ akan bisa bersatu? Kenapa? Apa karena minyak terlalu licin untuk dimengerti atau karena air tidak mau menerima minyak apa adanya???
@@@@@ THE END @@@@@
***coretanku : 2702’2007
5 May 2009
Memang aku iri
Terkadang saya benci jika ada tokoh utama dari sebuah cerita itu gampang banget ditipu, terlalu diam dan kurang tegas.
Delia masuk kelas dengan tampang kusut, dihempaskannya tasnya ke meja tanpa peduli sama Nita teman sebangkunya yang sedang ribet dengan buku kumpulan soal-soal.
"Hyak ampun Lia, buset ini anak gak punya sopan banget. Eh, kalau gue jantungan gara-gara tas butut loe ini gimana? Loe mau tanggungjawab, hah?!"
"Hh.... gue lagi sebel nit." curhat Delia tanpa peduli sama komplainnya Nita.
"Pagi-pagi bawa virus negatif loe, palingan loe kagak mandi ya tadi." gurau Nita kembali berkutat dengan kumpulan soalnya.
"Nit, Dido udah punya cewek." tak dihiraukannya gurauan Nita barusan, saat ini awan mendung telah menutupi hati Delia seutuhnya.
"Dido yang loe suka itu? Yang anak Pariwisata itu?"
"Iya." ucap Delia singkat.
"Oalah Lia-Lia, udah lama itu, ceweknya juga satu kelas sama dia."
"HAH?! Jadi loe udah tau Nit siapa ceweknya Dido?!" suara Delia melengking kaget.
"HUSH, jangan tereak-tereak gitu donk." cepat-cepat dibungkamnya mulut Delia yang mengagetkan para penghuni kelas 3 AK1 yang tentram ini.
"Sorry-sorry, nah tapi loe taunya darimana Nit?!" TET-TET-TEEEEETTTTTTT
"Nit, beritau gue." rayu Delia tanpa mempedulikan bel yang memekakkan telinga.
"Gak denger loe, udah bel tuh. Pelajarannya Bu Anik bentar lagi, nanti aja deh dilanjutin." ucap Nita yang dengan suksesnya membuat muka Delia berubah menjadi berlipat-lipat.
************
"Nit, ayo donk beritau gue sekarang loe tau darimana kalau Dido udah punya cewek?" paksa Delia seusai pelajran Matematika.
"Apaan sih Del?!" sewot Nita yang merasa terganggu dengan sikap Delia.
"beritau gue, plissss."
"Gue laper, mau makan di kantin." ucap nita seraya beranjak dari tempat duduk, tak dihiraukannya Delia yang memohon-mohon padanya.
"Delia Kusuma Wardaningtyas. Gue laper mau makan, dan asal loe tau ya Dido pacarannya itu udah lama banget, elonya aja yang menutup mata." jelas Nita sebel karena Delia masih terus memaksa dan kemudian ditingalkannya Delia yang terpaku di bangkunya.
Tapi bukan Delia namanya kalau cuma dibentak segitu aja udah keok. Tanpa merasa berdosa, diikutinya Nita ke kantin.
"Loe ngapain ngikutin gue?!"
"Gue juga mau ke kantin kok, emang gak boleh?"
"Terserah lah....." ucap nita pasrah sambil terus berjalan dan tak dipedulikannya Delia yang sedang bercerita tentang kecintaannya sama Dido dan asal muasalnya dia tau darimana kalau si Dido itu punya cewek sampai tak disadari Delia bahwa ditikungan lorong depan juga berjalan sosok yang diceritakannya itu.
"Ups sorry." ucap laki-laki tersebut kaget karena mau menabrak sosok cewek yang saat ini malah terbelalak kaget seakan melihat hantu yang nongol di siang hari.
"Sorry." ulang laki-laki itu sekali lagi.
"Eh..... iya." jawab Delia tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Ditatapnya sang cowok idaman itu menjauh, dan tak disadarinya bahwa temannya Nita udah pergi meninggalkannya.
Tapi tatapan Delia langsung berubah amarah campur dendam ketika dilihatnya sang cowok idaman menghampiri seorang cewek cantik diseberang sana. Pikiran jahat pun mulai menyergap diotak Delia. Nafas beratnya kembang kempis menahan amarah. 'Dido harus jadi milikku atau tidka sama sekali.' batin jahat Delia sudah mulai merusak sistem kebaikannya.
***************
"Apaan sih yank, kamu itu?" ucap Melly sambil berjalan memegang tangan Dido.
"Gak mau." gurau Dido membuat Melly kekasihnya jadi penasaran.
"Iiiihhhh jahat..... beritau aku dong apa jawabannya?" rajuk Melly yang makin membuat Dido menyayanginya.
"Hahahaha..... gak mau, pikir dulu. Nanti kalau udah mentok baru aku kasihtau jawabannya." kata Dido lagi sambil mencubit mesra pipi Melly.
Delia yang melihat adegan itu di depannya hanya bisa menatap dengan tatapan benci. Dido dan Melly tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang selalu mengawasi mereka. Perasaan jahat dan benci Delia makin meluas. Nita temannya juga tidak mengetahui bahwa diri Delia telah dipenuhi dengan pikiran jahat.
*****************
"Dido, loe nggak pernah ngerti gue itu cinta banget sama loe. Apa sih yang ngebuat loe bisa suka ama Melly? Loe emang cowok bodoh, loe gak pernah ngerti gue bener-bener suka ama loe dan loe malah milih Melly. Apa bagusnya Melly sampe loe bisa tergila-gila sama dia, hah?! Gue iri Do, gue gak suka ngeliat loe jalan ama Melly. Karena gue cinta ama loe, guelah yang seharusnya ada disamping loe. Bukan Melly!!! Gue gak suka, gue iri, gue benci ama loe." omel Delia didepan foto Dido yang ia dapat dengan mencuri-curi waktu untuk memotret Dido diam-diam 3 tahun lalu. Nada suara Delia yang naik turun menandakan bahwa ia menahan emosi yang tengah bergejolak di hatinya.
"Dido harus jadi milikku atau tidka sama sekali." ucap Delia lirih, diraihnya kunci motor dan lighter di meja. Dimasukkannya lighter dan foto ke saku kemudian pergilah Delia menaiki motornya menerobos malam yang pekat.
*****************
Awan mendung menghiasi SMK Putra Bangsa pagi ini. Salah satu murid telah mengalami peristiwa yang menyebabkan dia dan keluarganya terkena musibah. Upacara diluar jadwal pun dilaksanakan untuk menghormati keluarga tersebut, pemanjatan doa pun dilaksanakan untuk mendoakan seluruh keluarga tersebut. Tangis dan rasa tak percaya pun menhinggapi benak masing-masing penghuni sekolah tersebut.
Melly tak henti-hentinya menangis, bahkan sudahg 3 kali ia pingsan. Dido kekasihnya telah pergi meninggalkannya. Kebakaran membuat rumah beserta penghuninya terjebak tak bisa keluar dan hanya bisa pasrah menunggu ajal dijemput si jago merah.
Wartawan dari koran lokal dan televisi sibuk meliput berita tersebut. Polisi hanya bisa menemukan bukti adanya arus pendek yang terjadi dan yang mengakibatkan kebakaran itu terjadi.
Delia menatap televisi yang menayangkan berita tentang kebakaran itu dengan tatapan kosong. Digenggamnya lighter ditangannya, "Jadi milikku atau tidak sama sekali." ucap Delia lirih bahkan nyaris tak terdengar.
*****SELESAI******
27/4/2009
21:50
PS: terinspirasi ketika aku sedang marasakan amarah yang sangat besar.
Delia masuk kelas dengan tampang kusut, dihempaskannya tasnya ke meja tanpa peduli sama Nita teman sebangkunya yang sedang ribet dengan buku kumpulan soal-soal.
"Hyak ampun Lia, buset ini anak gak punya sopan banget. Eh, kalau gue jantungan gara-gara tas butut loe ini gimana? Loe mau tanggungjawab, hah?!"
"Hh.... gue lagi sebel nit." curhat Delia tanpa peduli sama komplainnya Nita.
"Pagi-pagi bawa virus negatif loe, palingan loe kagak mandi ya tadi." gurau Nita kembali berkutat dengan kumpulan soalnya.
"Nit, Dido udah punya cewek." tak dihiraukannya gurauan Nita barusan, saat ini awan mendung telah menutupi hati Delia seutuhnya.
"Dido yang loe suka itu? Yang anak Pariwisata itu?"
"Iya." ucap Delia singkat.
"Oalah Lia-Lia, udah lama itu, ceweknya juga satu kelas sama dia."
"HAH?! Jadi loe udah tau Nit siapa ceweknya Dido?!" suara Delia melengking kaget.
"HUSH, jangan tereak-tereak gitu donk." cepat-cepat dibungkamnya mulut Delia yang mengagetkan para penghuni kelas 3 AK1 yang tentram ini.
"Sorry-sorry, nah tapi loe taunya darimana Nit?!" TET-TET-TEEEEETTTTTTT
"Nit, beritau gue." rayu Delia tanpa mempedulikan bel yang memekakkan telinga.
"Gak denger loe, udah bel tuh. Pelajarannya Bu Anik bentar lagi, nanti aja deh dilanjutin." ucap Nita yang dengan suksesnya membuat muka Delia berubah menjadi berlipat-lipat.
************
"Nit, ayo donk beritau gue sekarang loe tau darimana kalau Dido udah punya cewek?" paksa Delia seusai pelajran Matematika.
"Apaan sih Del?!" sewot Nita yang merasa terganggu dengan sikap Delia.
"beritau gue, plissss."
"Gue laper, mau makan di kantin." ucap nita seraya beranjak dari tempat duduk, tak dihiraukannya Delia yang memohon-mohon padanya.
"Delia Kusuma Wardaningtyas. Gue laper mau makan, dan asal loe tau ya Dido pacarannya itu udah lama banget, elonya aja yang menutup mata." jelas Nita sebel karena Delia masih terus memaksa dan kemudian ditingalkannya Delia yang terpaku di bangkunya.
Tapi bukan Delia namanya kalau cuma dibentak segitu aja udah keok. Tanpa merasa berdosa, diikutinya Nita ke kantin.
"Loe ngapain ngikutin gue?!"
"Gue juga mau ke kantin kok, emang gak boleh?"
"Terserah lah....." ucap nita pasrah sambil terus berjalan dan tak dipedulikannya Delia yang sedang bercerita tentang kecintaannya sama Dido dan asal muasalnya dia tau darimana kalau si Dido itu punya cewek sampai tak disadari Delia bahwa ditikungan lorong depan juga berjalan sosok yang diceritakannya itu.
"Ups sorry." ucap laki-laki tersebut kaget karena mau menabrak sosok cewek yang saat ini malah terbelalak kaget seakan melihat hantu yang nongol di siang hari.
"Sorry." ulang laki-laki itu sekali lagi.
"Eh..... iya." jawab Delia tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Ditatapnya sang cowok idaman itu menjauh, dan tak disadarinya bahwa temannya Nita udah pergi meninggalkannya.
Tapi tatapan Delia langsung berubah amarah campur dendam ketika dilihatnya sang cowok idaman menghampiri seorang cewek cantik diseberang sana. Pikiran jahat pun mulai menyergap diotak Delia. Nafas beratnya kembang kempis menahan amarah. 'Dido harus jadi milikku atau tidka sama sekali.' batin jahat Delia sudah mulai merusak sistem kebaikannya.
***************
"Apaan sih yank, kamu itu?" ucap Melly sambil berjalan memegang tangan Dido.
"Gak mau." gurau Dido membuat Melly kekasihnya jadi penasaran.
"Iiiihhhh jahat..... beritau aku dong apa jawabannya?" rajuk Melly yang makin membuat Dido menyayanginya.
"Hahahaha..... gak mau, pikir dulu. Nanti kalau udah mentok baru aku kasihtau jawabannya." kata Dido lagi sambil mencubit mesra pipi Melly.
Delia yang melihat adegan itu di depannya hanya bisa menatap dengan tatapan benci. Dido dan Melly tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang selalu mengawasi mereka. Perasaan jahat dan benci Delia makin meluas. Nita temannya juga tidak mengetahui bahwa diri Delia telah dipenuhi dengan pikiran jahat.
*****************
"Dido, loe nggak pernah ngerti gue itu cinta banget sama loe. Apa sih yang ngebuat loe bisa suka ama Melly? Loe emang cowok bodoh, loe gak pernah ngerti gue bener-bener suka ama loe dan loe malah milih Melly. Apa bagusnya Melly sampe loe bisa tergila-gila sama dia, hah?! Gue iri Do, gue gak suka ngeliat loe jalan ama Melly. Karena gue cinta ama loe, guelah yang seharusnya ada disamping loe. Bukan Melly!!! Gue gak suka, gue iri, gue benci ama loe." omel Delia didepan foto Dido yang ia dapat dengan mencuri-curi waktu untuk memotret Dido diam-diam 3 tahun lalu. Nada suara Delia yang naik turun menandakan bahwa ia menahan emosi yang tengah bergejolak di hatinya.
"Dido harus jadi milikku atau tidka sama sekali." ucap Delia lirih, diraihnya kunci motor dan lighter di meja. Dimasukkannya lighter dan foto ke saku kemudian pergilah Delia menaiki motornya menerobos malam yang pekat.
*****************
Awan mendung menghiasi SMK Putra Bangsa pagi ini. Salah satu murid telah mengalami peristiwa yang menyebabkan dia dan keluarganya terkena musibah. Upacara diluar jadwal pun dilaksanakan untuk menghormati keluarga tersebut, pemanjatan doa pun dilaksanakan untuk mendoakan seluruh keluarga tersebut. Tangis dan rasa tak percaya pun menhinggapi benak masing-masing penghuni sekolah tersebut.
Melly tak henti-hentinya menangis, bahkan sudahg 3 kali ia pingsan. Dido kekasihnya telah pergi meninggalkannya. Kebakaran membuat rumah beserta penghuninya terjebak tak bisa keluar dan hanya bisa pasrah menunggu ajal dijemput si jago merah.
Wartawan dari koran lokal dan televisi sibuk meliput berita tersebut. Polisi hanya bisa menemukan bukti adanya arus pendek yang terjadi dan yang mengakibatkan kebakaran itu terjadi.
Delia menatap televisi yang menayangkan berita tentang kebakaran itu dengan tatapan kosong. Digenggamnya lighter ditangannya, "Jadi milikku atau tidak sama sekali." ucap Delia lirih bahkan nyaris tak terdengar.
*****SELESAI******
27/4/2009
21:50
PS: terinspirasi ketika aku sedang marasakan amarah yang sangat besar.
15 Apr 2009
Just Memories
BRUAK!!! Asti menggebrak meja didepannya. Semua mata diruangan langsung menatap Asti lekat-lekat.
"Kalian ini niat rapat atau enggak sih. Semuanya ribut sendiri-sendiri." sentak Asti yang dengan suksesnya membuat suasana di ruangan itu menjadi hening.
"Hey, kalian yang di pojokan. Ini bukan tempat mesum, tauk. Udah ach, rapat selesai!!!" Dengan sigap, Asti langsung mencangklong tas dan meninggalkan ruang rapat. Para peserta rapat hanya bisa mengantar kepergian Asti dengan pandangan mata bertanya-tanya.
"Asti kenapa sih Ren?" tanya Dika, yang juga termasuk peserta rapat tadi setelah kepergian Asti dari ruangan rapat. Reni yang ditanya pun hanya bisa mengangkat bahu tanda bahwa dia juga gak mengerti dengan keadaan Asti ini.
"Nah kamu kan sahabat kentalnya kan? Masak gak tau sih?" Yogi pun angkat bicara karena dia adalah wakil ketua rapat tadi, sedangkan Ketuanya adalah si Asti, cewek cantik yang akhir-akhir ini sering meluapkan emosi.
"Iya Ren, Asti itu kenapa? Dalam beberapa bulan ini sifatnya berubah 180 derajat" si Mona, cewek yang berada di pojokan saat rapat tadi berlangsung juga ikutan nimbrung.
"Hhhhh...... aku emang sahabatnya, tapi itu sebelum Asti seperti sekarang ini. Sejak ditinggal Nino, Asti jadi aneh. Ya seperti tadi." ucap Reni akhirnya untuk mengklarifikasi keadaan.
"Coba deh kamu ajak Asti bicara, mungkin dia masih terpukul atas kepergian Nino." ucap Yogi bijaksana. Sejenak kelihatan Reni berpikir, tapi kemudian kepalanya bergerak mengangguk. "Akan aku usahain, ini juga demi Majalah Kampus ini."
####################
'Satu persatu telah kuhapus
cerita lalu diantara engkau dan aku.
Dua hati pernah percaya
seribu mimpi tanpa ragu tanpa curiga.'
Terdengar suara Anggun mengalun menyayat hati didalam kamar Asti.
'Ku tak ingin lagi menunggu menanti.
Harapan tuk hidupkan cinta yang telah mati.
Kutak ingin coba, hanya tuk kecewa.
Lelah ku tersenyum, lelah ku bersandiwara.'
Diatas kasur, Asti menatap foto yang terbingkai indah. Foto dirinya bersama Nino, kekasihnya dulu sebelum akhirnya ajal menjemput Nino lewat kecelakaan balapan liar yang diikuti Nino. Asti hanya bisa tersenyum tanpa ada suara, tatapan matanya kosong.
####################
"ASTI" teriak Reni saat melihat Asti berjalan menyusuri parkiran. Asti yang mendengarnya langsung menghentikan langkah dan menoleh.
"Ih waw." Reni hanya bisa melongo melihat Asti hari ini. Asti hanya tersenyum menunggu Reni.
"Kamu beda As?!" kata itulah yang akhirnya keluar dari bibir mungil Reni.
"Beda apanya?" tanya Asti sambil tetap tersenyum.
"Lihat, kamu tersenyum." ucap Reni takjub, seperti terdengar dia sedang mengatakan "Lihat! ada bulan bisa ngomong!!!"
Asti hanya menyunggingkan senyum.
"Oh iya As, aku mau ngomong sama kamu." kata Reni teringat akan pembicaraan bersama anak-anak kemaren.
"Nah, sekalian perutku sedang laper. Mending kita ngobrolnya dikantin ajah yuuk...." ajak Reni sambil menggamit lengan Asti. Asti hanya menurut saja mengikuti langkah Reni yang menuju kanting yang masih lengang.
Setelah memesan nasi goreng, Reni duduk didepan Asti (duduk dibangku depannya Asti maksudnya, bukan di depannya Asti.)
"Kamu yakin gak makan?" tanya Reni sekali lagi, dan Asti hanya menggelengkan kepala untuk kesekian kalinya.
"Aku traktir deh, jarang-jarang loh aku yang nraktir." Asti hanya tersenyum dan menggelengkan kepala lagi.
"Oke deh, terserah kamu. Yang jelas kamu jangan nyesel loh ya."
"Kamu mau ngomongin apa?!" tanya Asti mengingatkan Reni akan tujuannya tadi.
"Tapi kamu janji gak akan marah kan?!" Asti tetap tersenyum dan mengangguk.
"Jadi gini, kemaren anak-anak tanya ke aku secara aku kan sahabat terdekatmu kan As. Mereka itu tanya, kenapa Asti sekarang berubah banget, suka emosian, gak kayak dulu yang sangat murah senyum. Tapi jujur As, hari ini aku seperti melihat Asti yang dulu." Sekali lagi Asti hanya tersenyum.
"Mereka merasa aku berubah?" Reni mengangguk dengan cepat.
"Suatu ketika kalian semua akan mengerti mengapa aku berubah." ucap Asti penuh misteri. Reni bingung mendengar ucapan Asti, tapi waktunya untuk berpikir telah tersita dengan nasi goreng yang kini sudah berada di hadapannya. Reni terlalu lapar untuk memikirkan ucapan Asti, mungkin saja Asti akan mengatakan penyebabnya suatu ketika. Itu pikirnya.
"Eh nanti siang kamu mau kemana As? Kita keluar yuuk, jalan-jalan. Udah lama nih kita gak jalan-jalan. Aku kan kangen." ucap Reni disela-sela sendokan nasi gorengnya.
"Aku ada acara nanti siang." jawaban Asti yang keluar telah membuat Reni sukses kecewa.
"Yaaaahhhh...... emang acara apaan As? Oh iya, Majalah Kampus gimana?"
"Mungkin aku akan lama gak urusin Majalah Kampus." jawab Asti sambil tetap tersenyum.
"LOH kok gitu? Kamu mau pulang kampung?" tebak Reni dan tetap senyumanlah jawaban yang diberikan Asti.
"Ya udah ya Ren, aku mau pergi. Gak ada waktu lagi. Titip kertas ini yach." ucap Asti yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Reni yang terbengong-bengong bersama nasi goreng di mulutnya.
'Mungkin Asti membutuhkan suasana baru dan mungkin itu bisa ia dapatkan dengan pulang kampung. Toh kampungnya di Bandung emang sangat nyaman dengan suasana yang menyejukkan.' begitulah pikir Reni sambil terus melanjutkan ritual makan nasi gorengnya. Namun di detik kesekian, Yogi datang mengagetkan Reni.
"Whei, ini anak malah disini." kejut Yogi yang membuat Reni terlonjak kaget dan menumpahkan nasi goreng di sendoknya yang akan masuk ke mulut mungilnya.
"Apaan sih?!" bentak Reni.
"Jiyaaahhh..... malah bilang apaan sih. Kamu denger kabar? si Asti kecelakaan semalem." Kata-kata Yogi seperti petir menyambar. Pandangan Reni menyiratkan ketidakpercayaan.
"Ha-ha-ha-ha..... Kamu kalau bercanda jangan sepagi ini dong. Gak lucu tauk." Reni pun tertawa sumbang menertawakan Yogi.
"Siapa yang bercanda Ren, aku tadi tuh dapat beritanya dari Rektor. Nah si Rektor ini ditelpon keluarganya, semalem Asti ngebut pulang ke Bandung dan mobilnya masuk jurang. Untung aja identitas............... polisi ................... dan ................. terus .................. Loh Ren." Kaget Yogi melihat Reni limbung dan terjatuh pingsan.
####################
"Reni, udah sadar." terdengar suara Mika.
"Kamu gak pa-pa Ren?!" suara Yogi terdengar gelisah.
"Reni......" panggilan Mona akhirnya membuat Reni sadar seutuhnya.
"Kalian .......... Asti ........" ucapan Reni terbata-bata.
"Sabar ya Ren, semua ini sudah takdir." Mika mencoba menenangkan tapi Reni masih belum bisa menangkap semua kenyataan yang telah terjadi.
"Reni, nanti kita sama-sama mau ke Bandung." ucap Mona
"Jadi berita itu benar, itu tidak mungkin. Asti baru saja tadi pagi cerita-cerita sama aku di kantin. Dia baru mau pulang kampung nanti siang." suara Reni terdengar sangat shock.
"Itu tidak mungkin kan?!" tanya Reni sekali lagi meminta jawaban dari mereka. Tapi Mika, Mona, dan lainnya hanya bisa menatap sedih kearah Reni.
"Kalian emang gak bakalan percaya, tadi......" Reni menghentikan pembicaraan dan teringat akan pemberian Asti. Dirogoh-rogohnya saku celananya dan ketemulah yang dicari.
"Ini buktinya! Asti nitip ini, ini sungguhan!!!" kata Reni sambil menyodorkan kertas pemberian Asti kearah Yogi. Yogi tampak ragu-ragu mengulurkan tangan menerima pemberian Reni.
"Buka Yog, apa isinya?" perintah reni kemudian, Yogi masih ragu-ragu walaupun tangannya mulai membuka kertas itu.
"Yog, apa isinya?" tanya Reni, namun Yogi sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Tatapan matanya menyiratkan ketidakpercayaan, ketakuta, dan kesedihan. "Kamu benar Ren, ini tidak mungkin terjadi." ucap Yogi akhirnya.
###################
Bulan ini Majalah Kampus telah terbit dan khusus edisi Bulan ini terlihat semua mahasiswa-mahasiswinya membeli Majalah Kampus yang bergambar foto Asti yang tersenyum sumringah di cover depannya. Majalah Kampus Bulan ini terjual habis bahkan masih banyak permintaan yang ditolak. Semua itu karena tulisan Asti di kertas yang telah dititipkan lewat Reni.
In Memoriam Asti Mirandah Sari
Berganti Hati - Anggun
Satu persatu telah kuhapus
cerita lalu diantara engkau dan aku.
Dua hati pernah percaya
Seribu mimpi tanpa ragu tanpa curiga.
Kutak ingin lagi
menunggu menanti
Harapan tuk hidupkan cinta yang telah mati
Kutak ingin coba
Hanya tuk kecewa
Lelah ku tersenyum
Lelah kubersandiwara.
Aku ingin pergi........'
Mengapa cinta diciptakan kalau hanya untuk menunggu dipisahkan.
Mengapa harus ada kau dalam cerita hidupku.
Mengapa dirimu tercipta dan bertemu dengan diriku.
Mengapa harus ada cinta diantara kita,
Kalau ternyata kita harus berpisah.
Nino, aku terlalu mencintaimu.
Aku harap bisa bertemu denganmu Nino,
karena aku sangat kangen padamu.
Aku sangat mencintaimu.
Aku bosan dengan semua kehidupan ini, tanpa dirimu semua tak berarti.
Nino aku tidak bisa terus-terusan membohongi perasaanku dan terlihat tidak ada masalah.
Aku ingin selalu bersamamu.
Nino tunggulah disana aku akan datang menemanimu.
"Kalian ini niat rapat atau enggak sih. Semuanya ribut sendiri-sendiri." sentak Asti yang dengan suksesnya membuat suasana di ruangan itu menjadi hening.
"Hey, kalian yang di pojokan. Ini bukan tempat mesum, tauk. Udah ach, rapat selesai!!!" Dengan sigap, Asti langsung mencangklong tas dan meninggalkan ruang rapat. Para peserta rapat hanya bisa mengantar kepergian Asti dengan pandangan mata bertanya-tanya.
"Asti kenapa sih Ren?" tanya Dika, yang juga termasuk peserta rapat tadi setelah kepergian Asti dari ruangan rapat. Reni yang ditanya pun hanya bisa mengangkat bahu tanda bahwa dia juga gak mengerti dengan keadaan Asti ini.
"Nah kamu kan sahabat kentalnya kan? Masak gak tau sih?" Yogi pun angkat bicara karena dia adalah wakil ketua rapat tadi, sedangkan Ketuanya adalah si Asti, cewek cantik yang akhir-akhir ini sering meluapkan emosi.
"Iya Ren, Asti itu kenapa? Dalam beberapa bulan ini sifatnya berubah 180 derajat" si Mona, cewek yang berada di pojokan saat rapat tadi berlangsung juga ikutan nimbrung.
"Hhhhh...... aku emang sahabatnya, tapi itu sebelum Asti seperti sekarang ini. Sejak ditinggal Nino, Asti jadi aneh. Ya seperti tadi." ucap Reni akhirnya untuk mengklarifikasi keadaan.
"Coba deh kamu ajak Asti bicara, mungkin dia masih terpukul atas kepergian Nino." ucap Yogi bijaksana. Sejenak kelihatan Reni berpikir, tapi kemudian kepalanya bergerak mengangguk. "Akan aku usahain, ini juga demi Majalah Kampus ini."
####################
'Satu persatu telah kuhapus
cerita lalu diantara engkau dan aku.
Dua hati pernah percaya
seribu mimpi tanpa ragu tanpa curiga.'
Terdengar suara Anggun mengalun menyayat hati didalam kamar Asti.
'Ku tak ingin lagi menunggu menanti.
Harapan tuk hidupkan cinta yang telah mati.
Kutak ingin coba, hanya tuk kecewa.
Lelah ku tersenyum, lelah ku bersandiwara.'
Diatas kasur, Asti menatap foto yang terbingkai indah. Foto dirinya bersama Nino, kekasihnya dulu sebelum akhirnya ajal menjemput Nino lewat kecelakaan balapan liar yang diikuti Nino. Asti hanya bisa tersenyum tanpa ada suara, tatapan matanya kosong.
####################
"ASTI" teriak Reni saat melihat Asti berjalan menyusuri parkiran. Asti yang mendengarnya langsung menghentikan langkah dan menoleh.
"Ih waw." Reni hanya bisa melongo melihat Asti hari ini. Asti hanya tersenyum menunggu Reni.
"Kamu beda As?!" kata itulah yang akhirnya keluar dari bibir mungil Reni.
"Beda apanya?" tanya Asti sambil tetap tersenyum.
"Lihat, kamu tersenyum." ucap Reni takjub, seperti terdengar dia sedang mengatakan "Lihat! ada bulan bisa ngomong!!!"
Asti hanya menyunggingkan senyum.
"Oh iya As, aku mau ngomong sama kamu." kata Reni teringat akan pembicaraan bersama anak-anak kemaren.
"Nah, sekalian perutku sedang laper. Mending kita ngobrolnya dikantin ajah yuuk...." ajak Reni sambil menggamit lengan Asti. Asti hanya menurut saja mengikuti langkah Reni yang menuju kanting yang masih lengang.
Setelah memesan nasi goreng, Reni duduk didepan Asti (duduk dibangku depannya Asti maksudnya, bukan di depannya Asti.)
"Kamu yakin gak makan?" tanya Reni sekali lagi, dan Asti hanya menggelengkan kepala untuk kesekian kalinya.
"Aku traktir deh, jarang-jarang loh aku yang nraktir." Asti hanya tersenyum dan menggelengkan kepala lagi.
"Oke deh, terserah kamu. Yang jelas kamu jangan nyesel loh ya."
"Kamu mau ngomongin apa?!" tanya Asti mengingatkan Reni akan tujuannya tadi.
"Tapi kamu janji gak akan marah kan?!" Asti tetap tersenyum dan mengangguk.
"Jadi gini, kemaren anak-anak tanya ke aku secara aku kan sahabat terdekatmu kan As. Mereka itu tanya, kenapa Asti sekarang berubah banget, suka emosian, gak kayak dulu yang sangat murah senyum. Tapi jujur As, hari ini aku seperti melihat Asti yang dulu." Sekali lagi Asti hanya tersenyum.
"Mereka merasa aku berubah?" Reni mengangguk dengan cepat.
"Suatu ketika kalian semua akan mengerti mengapa aku berubah." ucap Asti penuh misteri. Reni bingung mendengar ucapan Asti, tapi waktunya untuk berpikir telah tersita dengan nasi goreng yang kini sudah berada di hadapannya. Reni terlalu lapar untuk memikirkan ucapan Asti, mungkin saja Asti akan mengatakan penyebabnya suatu ketika. Itu pikirnya.
"Eh nanti siang kamu mau kemana As? Kita keluar yuuk, jalan-jalan. Udah lama nih kita gak jalan-jalan. Aku kan kangen." ucap Reni disela-sela sendokan nasi gorengnya.
"Aku ada acara nanti siang." jawaban Asti yang keluar telah membuat Reni sukses kecewa.
"Yaaaahhhh...... emang acara apaan As? Oh iya, Majalah Kampus gimana?"
"Mungkin aku akan lama gak urusin Majalah Kampus." jawab Asti sambil tetap tersenyum.
"LOH kok gitu? Kamu mau pulang kampung?" tebak Reni dan tetap senyumanlah jawaban yang diberikan Asti.
"Ya udah ya Ren, aku mau pergi. Gak ada waktu lagi. Titip kertas ini yach." ucap Asti yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Reni yang terbengong-bengong bersama nasi goreng di mulutnya.
'Mungkin Asti membutuhkan suasana baru dan mungkin itu bisa ia dapatkan dengan pulang kampung. Toh kampungnya di Bandung emang sangat nyaman dengan suasana yang menyejukkan.' begitulah pikir Reni sambil terus melanjutkan ritual makan nasi gorengnya. Namun di detik kesekian, Yogi datang mengagetkan Reni.
"Whei, ini anak malah disini." kejut Yogi yang membuat Reni terlonjak kaget dan menumpahkan nasi goreng di sendoknya yang akan masuk ke mulut mungilnya.
"Apaan sih?!" bentak Reni.
"Jiyaaahhh..... malah bilang apaan sih. Kamu denger kabar? si Asti kecelakaan semalem." Kata-kata Yogi seperti petir menyambar. Pandangan Reni menyiratkan ketidakpercayaan.
"Ha-ha-ha-ha..... Kamu kalau bercanda jangan sepagi ini dong. Gak lucu tauk." Reni pun tertawa sumbang menertawakan Yogi.
"Siapa yang bercanda Ren, aku tadi tuh dapat beritanya dari Rektor. Nah si Rektor ini ditelpon keluarganya, semalem Asti ngebut pulang ke Bandung dan mobilnya masuk jurang. Untung aja identitas............... polisi ................... dan ................. terus .................. Loh Ren." Kaget Yogi melihat Reni limbung dan terjatuh pingsan.
####################
"Reni, udah sadar." terdengar suara Mika.
"Kamu gak pa-pa Ren?!" suara Yogi terdengar gelisah.
"Reni......" panggilan Mona akhirnya membuat Reni sadar seutuhnya.
"Kalian .......... Asti ........" ucapan Reni terbata-bata.
"Sabar ya Ren, semua ini sudah takdir." Mika mencoba menenangkan tapi Reni masih belum bisa menangkap semua kenyataan yang telah terjadi.
"Reni, nanti kita sama-sama mau ke Bandung." ucap Mona
"Jadi berita itu benar, itu tidak mungkin. Asti baru saja tadi pagi cerita-cerita sama aku di kantin. Dia baru mau pulang kampung nanti siang." suara Reni terdengar sangat shock.
"Itu tidak mungkin kan?!" tanya Reni sekali lagi meminta jawaban dari mereka. Tapi Mika, Mona, dan lainnya hanya bisa menatap sedih kearah Reni.
"Kalian emang gak bakalan percaya, tadi......" Reni menghentikan pembicaraan dan teringat akan pemberian Asti. Dirogoh-rogohnya saku celananya dan ketemulah yang dicari.
"Ini buktinya! Asti nitip ini, ini sungguhan!!!" kata Reni sambil menyodorkan kertas pemberian Asti kearah Yogi. Yogi tampak ragu-ragu mengulurkan tangan menerima pemberian Reni.
"Buka Yog, apa isinya?" perintah reni kemudian, Yogi masih ragu-ragu walaupun tangannya mulai membuka kertas itu.
"Yog, apa isinya?" tanya Reni, namun Yogi sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Tatapan matanya menyiratkan ketidakpercayaan, ketakuta, dan kesedihan. "Kamu benar Ren, ini tidak mungkin terjadi." ucap Yogi akhirnya.
###################
Bulan ini Majalah Kampus telah terbit dan khusus edisi Bulan ini terlihat semua mahasiswa-mahasiswinya membeli Majalah Kampus yang bergambar foto Asti yang tersenyum sumringah di cover depannya. Majalah Kampus Bulan ini terjual habis bahkan masih banyak permintaan yang ditolak. Semua itu karena tulisan Asti di kertas yang telah dititipkan lewat Reni.
In Memoriam Asti Mirandah Sari
Berganti Hati - Anggun
Satu persatu telah kuhapus
cerita lalu diantara engkau dan aku.
Dua hati pernah percaya
Seribu mimpi tanpa ragu tanpa curiga.
Kutak ingin lagi
menunggu menanti
Harapan tuk hidupkan cinta yang telah mati
Kutak ingin coba
Hanya tuk kecewa
Lelah ku tersenyum
Lelah kubersandiwara.
Aku ingin pergi........'
Mengapa cinta diciptakan kalau hanya untuk menunggu dipisahkan.
Mengapa harus ada kau dalam cerita hidupku.
Mengapa dirimu tercipta dan bertemu dengan diriku.
Mengapa harus ada cinta diantara kita,
Kalau ternyata kita harus berpisah.
Nino, aku terlalu mencintaimu.
Aku harap bisa bertemu denganmu Nino,
karena aku sangat kangen padamu.
Aku sangat mencintaimu.
Aku bosan dengan semua kehidupan ini, tanpa dirimu semua tak berarti.
Nino aku tidak bisa terus-terusan membohongi perasaanku dan terlihat tidak ada masalah.
Aku ingin selalu bersamamu.
Nino tunggulah disana aku akan datang menemanimu.
PS1: Cerita ini tercipta karena akhir-akhir ini aku sedang merasa bosan dengan kehidupanku, sampat terpikir bagaimana jika aku bunuh diri, tapi akhirnya imajinasiku membawa ketakutan sehingga aku gak jadi bunuh diri dan malah tercipta cerita ini.
PS2: Saat berimajinasi itulah aku mendengarkan lagunya Anggun yang terbaru Berganti Hati dan jadilah cerita ini, bagi yang jeli pasti akan mengerti bahwa setiap ceritaku selalu ada unsur musiknya. Yupz, itu karena aku suka berimajinasi saat aku mendengarkan musik.
PS3: Sebelumnya aku terpikir bagaimana kalau si Asti ini dibuat bunuh diri dengan menyilet pergelangan tangan, tapi akhirnya tidak bisa kulakukan karena aku sudah merasa ngeri duluan saat membayangkannya.
PS4: Keep smile and keep blogging.
2 Apr 2009
Kaulah wanita terindahku
"Hari ini kamu rencananya mau kemana sayang?" tanya Mama disela-sela makan pagi kami. Mama orang yang sangat sibuk dengan pekerjaan.
"Gak kemana-mana Ma, Putri dirumah aja deh." jawabku dengan malasnya.
"Kamu gak jalan-jalan? Ini kan sudah hari ketiga kamu berada disni. Keliling-keliling Singapur atau kamu coba untuk beradaptasi dengan anak-anak disini?" tanya Mama lagi.
"Males ah, besok-besok aja kalau udah gak malas. Putri mau dikamar aja." ujarku sembari berusaha untuk bangkit dari kursi meja makan.
"Udah selesai makannya Put?"
"Iya Ma, Putri kekamar dulu yach." ijinku ke Mama dan tanpa menunggu jawaban Mama lagi aku langsung ngacir pergi ke kamar yang berada di lantai atas.
BLUK. Kuhempaskan tubuhku di spring bed yang empuk. Pikiranku melayang entah kemana. Saat ini memang benar kenyataan tubuhku berada di kamar yang terletak di Negara Singapura ini, Negara tempat Mamaku bekerja dan bertempat tinggal. Namun, pikiranku melayang di Indonesia tepatnya dikota kecil Kota Surabaya, kota kelahiranku dan tempat tinggalku sebelum 3 hari yang lalu.
kini dan seterusnya aku akan menetap disini di Negara Singapura yang bahkan tempat tidurnya saja tidak aku kenali apalagi kota dan orang-orangnya. Walaupun setiap hari Mama menyuruhku jalan-jalan dengan mobil mewah yang dibelikan khusus untukku , aku merasa malas sekali melakukannya. Bahkan, Mama meluangkan waktunya yang super sibuk di sore hari hanya untuk menawarkan jasa sebagai guide-ku tapi toh aku tetap tidak mau. Aku masih belum bisa nerima keadaan ini, keadaan yang sangat berubah drastis. Disini tidak ada Ayah, teman-temanku seperti Dini, Lia dan Toni serta kafe.
Meski baru 3 hari, aku sudah merindukannya. Apalagi kafe Ken's, kafe kecil yang terletak di pojok Surabaya, kafe tempatku mencari peruntungan dengan menjual suaraku disana, atau mungkin lebih tepatnya bukan menjual tapi memamerkan suaraku. Dari kecil, aku sudah hobby menyanyi dan kebetulan Ayah mengijinkan dan mendukung semua caraku dalam rangka memamerkan suaraku itu mulai dari ngamen bersama teman-teman, ngeband dan sampai akhirnya diajak mengisi acara di kafe ken's yang kebetulan manajernya menyukai ciri khas suaraku dan mulai mengontrakku untuk menjadi penyanyi tetap kafe ken's.
Saat itu, aku sangat bangga dengan pekerjaanku sebagai penyanyi kafe karena dengan begitu aku bisa memamerkan suaraku kepada semua orang. Untung juga, Ayah mendukungku seratus persen.
"Apapun jalanmu, jika itu masih dijalur yang benar Ayah akan mendukungmu." kata Ayah saat aku menanyakan perihal dukungannya.
"Tapi kan ini penyanyi kafe yah, Ayah gak malu punya anak seorang penyanyi kafe. Bukankah penyanyi kafe itu sudah dicap masyarakat sebagai anak nakal. Ayah gak takut para tetangga menjelek-jelekkan Putri sebagai cewek nakal karena sering pulang malam?" tanyaku penasaran. Namun, hanya gelengan kepala dan senyuman yang kudapat dari Ayah.
"Ayah gak takut?" kuulang pertanyaanku karena aku benar-benar penasaran kenapa Ayah begitu mudahnya mendukungku.
"Ayah sayang sama kamu nak dan Ayah juga yakin kamu sayang sama Ayah jadi Ayah yakin sekali kamu gak mungkin mengecewakan Ayah. Kalau memang para tetangga berkata-kata seperti yang kamu katakan tadi, Ayah tidak peduli karena yang Ayah pedulikan hanya kamu." jawab Ayah sambil mencolek hidungku. Aku pun tersenyum, benar kata Ayah aku sangat sayang sama Ayah. Aku pun langsung memeluk Ayah.
"Tuh, mulai manja."
"Biarin, soalnya kan Putri sayang banget sama Ayah." kataku merajuk.
"Ayah juga."
"Yah, Putri boleh tanya lagi gak?"
"Apa?"
"Waktu Putri ngamen. Ayah malu gak?" tanyaku ke Ayah dan kudapati lagi senyuman itu.
"Kenapa harus malu. Putri kan cuma ngamen, gak nyolong kan?"
"Ayaaahhh..... Ayah ada-ada aja. Putri serius."
"Ayah juga serius, taurus malahan."
"Ayaaahhhh......" kataku sambil cemberut.
"Hehehe.... Ayah gak malu kok nak. Malah Ayah bangga anak Ayah ini udah mau belajar mandiri dan bisa jadi penyanyi."
Saat itu Ayah adalah sosok yang sangat bijaksana bagiku. Dari kecil aku tinggal bersama Ayah dan kini aku harus pergi meninggalkan Ayah di Surabaya sendirian dan ikut Mama ke Singapura.
"Yah, rasanya aku bahagia banget walaupun cuma tinggal berdua sama Ayah." ucapku tulus di waktu itu.
"Iya, Ayah juga."
"Walau tanpa Mama, tapi aku udah merasa jadi anak paling beruntung deh yah." Dan senyuman itu muncul lagi, senyuman yang selalu menyejukkan hatiku dikala badai masalah datang bertubi-tubi.
"Biarpun begitu, kamu masih punya Mama yang sayang juga sama kamu seperti Ayah yang menyayangimu." Begitulah selalu kata-kata Ayah. Padahal sudah jelas-jelas Mama menghianati Ayah dan pergi ke Singapur mengikuti jejak suaminya yang kaya yang saat ini sudah almarhum.
Aku masih ingat. Ketika aku masih SD, Mama meminta cerai dari Ayah. Dan mungkin karena sakit hati itulah Ayah banting tulang untuk menghidupiku dan dirinya sendiri hingga akhirnya lahirlah bisnis Ayah yang sekarang sudah beranak-pinak. Tapi walaupun begitu Ayah gak malu melihatnya anaknya ngamen bahkan menjadi penyanyi kafe. Tak terasa air mataku membasahi pipi kala mengenang semua itu. Kulirik jam yang menunjukkan pukul 10 waktu sekitar. Sejenak kutatap langit-langit kamarku, dan ingatanku kembali menerawang ke kamarku dulu yang berada di Surabaya. Langit-langitnya berbeda, dulu di langit-langit kamarku banyak tergantung bintang-bintang yang bisa menyala saat lampu dipadamkan, hadiah dari Alex.
Mengingat Alex, ah sudahlah semua sudah berlalu. Aku pun bangkit dan mengambil laptop hadiah dari Mama. Sama seperti kemaren, hari ini pun aku mau online di kamar. Kunyalakan laptopku, setelah menunggu beberapa detik akhirnya muncullah foto diriku dengan Alex yang sedang tersenyum menatap kamera dengan background sebuah teman yang terletak di Surabaya. Tiap sabtu sore kami selalu menghabiskan waktu disana, entah itu cuma jalan-jalan menghilangkan penat atau cuma nongkrong melihat orang-orang yang sedang asyik berpacaran.
Hufz.... Alex bukan siapa-siapa lagi. Kuklik 2 kali icon Yahoo Messenger yang berada di desktop laptopku. Kuketik alamat email dan passwordnya, loading sebentar dan mucullah beberapa nama disana termasuk nama Alex yang sudah 3 hari ini gak pernah online. Aku merasa dia sudah melupakanku, padahal selama 3 hari ini aku selalu online mulai pagi sampai jam 12 malam tapi tetap tak ada tanda-tanda Alex online. Kuketik pesan lagi untuk yang kesekian kalinya.
Lex..... ini aku Putri.
'Lagi online Put?' sapa Dido teman kuliah dulu.
'Iya.'
Lebih baik aku ngobrol dulu sama Dido untuk mengisi waktu.
tiga jam pun berlalu mulai ngobrol sama Dido sampai cekikikan sama Lia dan aku jadi makin kangen sama mereka, apalagi kata Lia kafe makin sepi tak ada aku. Andai saja saat itu Mam tidak tau pekerjaanku, mungkin saat ini aku masih di Surabaya dan berkumpul bersama teman-temanku di kafe.
"Apa-apaan kamu ini Rud, mengurus anak satu aja gak becus." suara mama yang keras menghentak itu mengagetkanku yang masih tidur di kamar.
"Masak Putri harus jadi penyanyi kafe, apalagi kata para tetangga dulu si Putri itu juga sering ngamen. Iya?!" Aku langsung terbangun saat kudengar namaku disebut.
"Jawab Rud, jangan diam saja!" sentak Mama lagi. Aku pun jadi penasaran kuintip lewat celah pintu kamarku dan kulihat Papa menganggukkan kepala.
"APA!!! Jadi bener semua kata tetangga kalau si Putri cewek nakal, tak punya pendidikan, gadis malam."
"Semua itu gak bener, Putri emang penyanyi kafe tapi dia bukan anak nakal." bela Ayah akhirnya.
"Rudi.... Rudi, kamu itu bodoh apa bego?! Sudah jelas-jelas Putri itu penyanyi kafe."
"Lantas kenapa dengan penyanyi kafe Mir?"
"Kamu tidak tau kalau profesi sebagai penyanyi kafe itu sudah buruk dimata masyarakat."
"Aku tau tapi aku percaya sama Putri." Ayah memang bijaksana.
"Bukan itu saja Rudi masalahnya, aku juga mendengar dari para tetangga katanya Putri itu gak normal. Apa itu benar?"
"Gak normal bagaimana?" tanya Ayah balik, aku yang mengintip dan mencuri dengar juga bingung apa yang dimaksud Mama.
"HUH..." kudengar helaan napas Mama yang terasa berat, suasana hening seketika. Aku pun jadi deg-degan.
"Kata mereka, Putri seorang lesbian." kata Mama pelan dan aku cukup jelas mendengarnya.
"APA!!! Mirna, kamu jangan percaya begitu saja sama omongan para tetangga." bela Ayah lagi untuk yang kesekian kalinya terhadap diriku. Aku sudah tidak mau lagi untuk mendengarkan kelanjutan dari pembicaraan mereka.
Huuh.... kuhela napasku yang berat berharap semua ini tidak pernah terjadi padaku. Aku juga masih berharap semua ini adalah mimpi.
"Putri.... aku sudah tidak pernah melihat Alex lagi di kampus. Maaf yach.... aku gak bisa bantu kamu lebih banyak lagi. Alex benar-benar menghilang Put, kamu yang sabar yach. Jaga diri baik-baik disana, kami semua sayang sama kamu. Kalau pulang kampung, jangan lupa maen-maen ke Ken's yach." tulis Dini lewat email. Dini yang baik yang selalu membantuku dan menyimpan semua rahasiaku tanpa sekalipun bocor ke telinga orang lain.
"Iya Din, makasih yach. Kamu juga yang rajin ngurusin kafe yach. Aku juga sayang sama kalian, 3 hari disini ajah aku udah kangen sama kalian. Apalagi suasana kafe dan kenanganku." balasku ke Dini. Terlintaslah bayangan Dini dan Alex yang saat itu baru pertama kali kukenal. Lewat Dini lah aku mengenal Alex, Alex itu teman sekampus Dini, sedangkan Dini adalah teman SMA-ku dan kebetulan dialah pemilik Ken's kafe. Di usianya yang muda, Dini sudah diberi kuasa untuk mengelola usaha ayahnya itu.
"Putri, kenalin ini Alex teman kampusku." ujar Dini pada malam itu.
"Alex." ucap orang itu memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.
"Putri." kubalas luran tangan itu dengan senyuman. Saat itu aku telah selesai memamerkan suaraku di kafe Ken's dan akan bersiap-siap pulang.
"Udah selesai ya Put?" tanya Dini padaku yang tengah sibuk memreteli anting-antingku.
"Iya, mau pulang. Udah malam juga, takut ditungguin ayah dirumah."
"Aku anterin ya?" tawar Alex.
"Gak usah deh, biasanya juga sendiri kok."
"Gak pa-pa, aku juga mau pulang kok."
"Gak ngerepotin nih?" Kulihat gelengan kepala dari Alex. Ya untunglah, jadi bisa ngirit ongkos taksi deh, pikirku saat itu.
Aku benar-benar tak menyangka dari perkenalan singkat itu aku jadi makin dekat sama Alex. Kita sering keluar bareng, ke Taman, ke Mall, Alex juga sering antar-jemput aku ke kafe dan Alex lah yang selalu nganterin aku kemana pun aku pergi. Tak jarang Alex juga sering main ke rumah dan menginap di rumahku, tapi itu tak jadi masalah bagi Ayah karena Alex temanku.
Tapi yang tak kusangka adalah kedekatan kami ini membawa virus yang sangat membahayakan, virus yang tak lazim, virus yang taboo dan virus yang aneh bagi sebagian orang.
"Put, kamu cantik sekali sore ini." ujar Alex disaat kami sedang menikmati keindahan pantai di sore hari.
"Biasa ajah Lex." jawabku sambil tersipu malu.
"Pasti banyak anak cowok yang suka sama kamu." ujar Alex lagi yang dengan suksesnya membuatku kaget dan menatapnya. tak berselang lama aku tersenyum menjawab pertanyaan Alex.
"Aku udah tau semua tentangmu dari Dini. Dini udah cerita banyak sekali."
"Cerita apa ajah dia, dasar nenek rombeng Dini." kataku dengan mimik muka cemberut.
"Katanya kamu dulu pernah ngamen, suka nyanyi, baek hati dan banyak digemari para cowok tapi herannya kamu gak punya cowok. Bener itu?" ZLEB, terasa ada samurai menancap ke jantungku. Aku gak bisa berkata apa-apa lagi selain tersenyum.
"Kok bisa gak punya cowok?" tanya Alex penasaran.
"Yaaa.... masih belum ketemu yang cocok ajah." lagi-lagi jawaban inilah yang kulontarkan untuk kesekian kalinya.
"Kok bisa?" tanya Alex lagi.
"Ya bisa lah, semua cowok yang suka sama aku itu bukan karena hati dan gak semuanya tulus. Aku gak mau sakit hati."
"Emang kamu pernah ngalaminnya?" Kutatap lagi wajah Alex yang menyiratkan rasa penasaran tersebut. Kugelengkan kepala lagi entah untuk yang keberapa kali.
"Terus???" Kutarik napas dalam-dalam, suasana pun hening seketika.
"Aku gak pernah dan gak mau ngerasain sakit hati, karena menurut teman-temanku sakit hati itu rasanya pedih. Bahkan gak jarang orang stres karena sakit hati. Semua lelaki sama saja, gak ada yang bisa setia. Dan penyebab paling banyak mengapa terjadi sakit hati adalah si cowoknya ini selingkuh, punya pacar gelap, serong, menduakan atau apalah namanya itu. Bukankah sudah diteliti 2 dari 3 orang laki-laki itu tidak setia." ujarku berorasi.
"Jadi gitu." ucap Alex kemudian, kuanggukkan kepalaku mengiyakan.
"Kalau seandainya....... aku yang suka sama kamu, gimana?" DEG!!! Kurasakan jantungku berhenti berdetak dan kulihat wajah Alex yang serius menatapku. Aku gak bisa berkata apa-apa, sejenak aku menjadi bisu, mulutku tak bisa terbuka seperti dilem. Dan detik kemudian Alex tersenyum sambil berkata, "Jangan kamu kira aku main-main. Aku serius Put." ucap Alex tegas.
"Sejenak aku merasa dunia berhenti berputar, mataku tak bisa berkedip, lidahku kelu tak bisa berucap, bahkan mulutku terkatup rapat-rapat tak bisa dibuka.
"Put....." panggil Alex ramah sambil memegang tanganku, menyadarkanku kembali lagi ke kenyataan bahwa Alex menyukaiku. Ini tidak mungkin.
"Aku gak berharap kamu menjawabnya Put, aku gak butuh jawaban. Aku hanya ingin jujur saja. Aku gak mau membohongi perasaanku sendiri. Aku emang sayang banget sama kamu Put."
"Tapi Lex, kita kan....."
"Aku tau Put, hal ini sebenarnya gak boleh terjadi." potong Alex.
Trrt.... trrrtttt..... trrrrrrrttttttt........ Sejenak aku terkesiap dari lamunan, kudapati lagi kamarku yang sudah kuhuni selama 3 hari ini. Trrrttt..... trrrrttttt....... trrrrtttt...... Kuambil Blackberry kesayanganku dari meja rias, terpampang wajah Mama disitu.
"Halo."
"Put, udah makan?" tanya Mama diseberang sana.
"Belum Ma." rutin sekali sih tiap jam segini selalu telpon, pikirku.
"Cepet makan ya, entar kamu sakit. Ngapain sekarang?"
"Gak ngapa-ngapain Ma, Putri dikamar ajah kok."
"Ya udah, cepet makan ya sayang. Kamu tinggal bilang ke Bibi mau makan apa, entar Bibi yang masakin buat kamu."
"Iya, Putri udah tau kok."
"Oke deh, mungkin entar Mama agak malam pulangnya maklum banyak kerjaan di kantor. Nanti kamu tidur dulu ya, jangan malam-malam tidurnya."
"Iya."
"Mama sayang kamu Put."
KLIK. Kumatikan pembicaraan ini. Aku sudah bosan Ma dengan kata-kata Mama itu, Putri kan bukan anak kecil lagi yang harus diatur ini dan itu. Kubaringkan lagi tubuhku ke kasur.
Kalau memang Mama sayang sama Putri, kenapa dulu Mama ninggalin Putri begitu saja. Kenapa Mama lebih milih orang lain daripada Papa, itukah bukti rasa sayang Mama ke Putri?! omelku dalam hati. Tak terasa butiran bening mengalir melewati pipiku.
Semua kenangan tentang Ayah, Mama, Kafe, Alez muncul lagi. Kenapa semuanya bisa terjadi padaku, ingin sekali aku berteriak kencang bahkan kalau bisa sampai pita suaraku putus. Kuambil laptopku yang masih menyala, kuamati semua album foto disitu. Kuamati satu-satu dan sesekali aku tersenyum kala melihat pose-pose Alex yang lucu-lucu. Ada juga foto pribadiku dengan Alex yang tidak aku perlihatkan kepada siapapunkecuali Dini yang tidak sengaja melihatnya. Foto pribadi yang diambil dari HP N70 milik Alex. Disitu aku dan Alex sedang berciuman.
"Put.... ini fotonya siapa?!" tanya Dini saat dia sedang melihat-lihat isi laptopku di kamarku.
"Foto apaan?" tanyaku balik karena belum ngeh dengan maksud Dini.
"Lihat ini. Ini foto kamu kan?" Mataku langsung tertancap dilayar monitor yang tengah menayangkan fotoku dan Alex yang sedang berciuman.
"PUT!!!" sentak Dini yang dengan suksesnya membuatku terlonjak kaget.
"Dini ngagetin ach."
"Ini fotonya siapa?!" tanya Dini yang sedang menunggu klarifikasi dariku.
"Iya fotoku."
"Sama siapa?!" potong Dini ketus.
"Alex." jawabku singkat dan sangat pelan.
"Maksudnya apa ini?!" suara Dini mulai emosi.
"Ssst.... jangan keras-keras." ujarku panik, takut kedengaran orang lain yang padahal jelas-jelas cuma aku dan Dini dikamar rumahku.
"Ceritakan semuanya padaku." perintah Dini tegas.
"Jadi, aku sama Alex pacaran." penjelasanku benar-benar pelan sekali, tapi cukup mampu didengar oleh Dini yang mimik wajahnya langsung berubah.
"APA!!! Putri kamu sadar kan apa yang kamu lakukan ini gak bener?!" Kuanggukkan kepalaku.
"Aku gak ngerti Put, kok bisa jadi kayak gini." suara Dini sudah mulai melunak.
"Awalnya aku juga ragu Din, tapi Alex terus-terusan meyakinkanku."
"Hufz..... aku masih gak ngerti. Tapi yang jelas jika ini memang keputusan kalian, baiklah aku akan dukung. Bukankah teman yang baik akan selalu mendukung temannya."
"Makasih ya Din, aku beruntung punya teman kayak kamu." Kupeluk Dini erat sekali.
Aku jadi tersenyum mengingat peristiwa itu. Alex sosok yang sangat kusayangi, dia selalu ada untukku. Saat aku sedih, bingung, capek karena banyak tugas, bosan, senang, berduka disaat kucing kesayanganku mati. Alex selalu sabar mendengarkan keluh kesahku dan dia selalu bisa membuatku tersenyum dengan lelucon-leluconnya. Alex yang banyak cerita, Alex yang periang, menyenangkan, yang suka memanjakanku dan tentunya Alex yang juga mencintaiku seperti aku mencintainya hingga peristiwa itupun terjadi.
"ALEX." tegurku pada sesosok makhluk yang sangat kukenali.
"Putri, sama siapa?" tanya Alex yang tak bisa menutupi keterkejutannya melihatku disini memergokinya.
"Siapa say?" tanya orang disebelahnya sebelum sempat kujawab pertanyaan Alex. Apa yang kudengar tadi? say?? sayangkah maksudnya? Siapakah dia?? Siapa orang ini yang berani memanggil Alex-ku dengan panggilan say???
"Teman kok, teman kampus." Tak kusangka Alex menjawabnya seperti itu, kutatap Alex dengan pandangan tak percaya. Apa-apaan semua ini?!
"Oh... Ya udah aku mau kesana bentar ya say. kamu tunggu ajah disini sama teman kamu dulu." pamit orang itu dan pergi meninggalkan aku yang berdiri terpaku bersama Alex.
"Put... maafkan aku."
"Apa maksud ucapanmu tadi? Siapa dia?! Pacarmu? Kekasih gelapmu? Selingkuhan? Atau dia kekasihmu?!" tanyaku bertubi-tubi, aku sudah gak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Ternyata Alex yang sudah kupercaya telah tega melakukan ini semua padaku.
"Put, aku benar-benar minta maaf."
"Aku tak butuh permintaan maaf Lex. Aku hanya butuh jawaban, siapa dia Lex?!" potongku dengan suara yang kasar dan keras.
"Dia tunanganku." Zleb!!! Zleb!!! Zleb!!! Aku merasa telah ditusuk-tusuk oleh pedang. Bendungan air mataku pun mengalirlah tanpa ada yang menghalangi. Selanjutnya yang aku ingat saat itu aku pergi dan berlari sejauh mungkin dari Alex. Aku sudah tidak mau lagi melihat wajah Alex. Sampai malam harinya, Alex datang kerumah.
"Put, maafkan aku. Aku gak bermaksud menyakitimu." bela Alex dan aku sudah gak mau lagi mendengarnya. Aku hanya diam tak peduli dengan semuanya.
"Put, semua ini diluar kendaliku. Aku dijodohkan tanpa aku ketahui. Baru kemaren pas tunangan itu aku tau tentang perjodohan ini. Putri aku emang salah, dan rasanya tak pantas berada dihadapanmu saat ini. Tapi kumohon maafkan aku. Jujur Put cintaku cuma kamu, rasa sayangku ini hanya untukmu Put."
"Kalau begitu tinggalkan dia." ujarku kemudian.
"Bagaimana aku bisa meninggalkannya."
"Jadi kamu memilih dia kan?!"
"Putri, ngertiin aku. Ini demi keluargaku, demi orangtuaku. Aku harus menikah dengan dia."
"Ngertiin kamu? Kapan aku gak ngertiin kamu Lex. Demi kamu aku rela mencintaimu, aku rela menyalahi kodratku. Tapi apa yang kamu lakukan?! Kamu lebih memilih laki-laki itu." teriakku akhirnya. Hening sesaat, Alex tampak kebingungan dan merasa bersalah.
"Aku tau, maka dari itulah aku dijodohkan dan disuruh menikah dengan laki-laki ini. Karena hubungan kita ini gak memungkinkan Put. Tapi yakinlah, aku masih tetap menicntaimu sampai kapanpun."
"Bullshit."
"Oke Put terserah kamu, tapi itulah kenyataannya. Maafkan aku, selamat tinggal." Itulah pertemuan terakhirku dengan Alex, seseorang yang kucintai yang lebih memilih laki-laki yang dijodohkannya untuk dinikahi.
"Alex, aku tau hubungan kita ini tak lazim. Tapi aku lebih memilih kamu karena aku yakin akan perasaanmu padaku yang sudah jujur itu." ujarku dalam hati.
"Mengapa laki-laki itu harus datang ke kehidupanmu Lex." lanjutku dalam tangis.
Karena kejadian itu, aku menyetujui usulan Mama untuk mengajakku pindah dan menetap di Negara Singapura. Aku berharap aku bisa melupakanmu dan semoga kau bahagia dengan laki-laki itu di kehidupanmu yang baru.
"ALEX, ALEXANDRIA. Kau adalah wanita terindahku." Kunyalakan winamp di laptop yang langsung menyuarakn Pingkan Mambo - 'Wanita Terindah'.
***coretanku terinspirasi dari lagu Pingkan Mambo
"Gak kemana-mana Ma, Putri dirumah aja deh." jawabku dengan malasnya.
"Kamu gak jalan-jalan? Ini kan sudah hari ketiga kamu berada disni. Keliling-keliling Singapur atau kamu coba untuk beradaptasi dengan anak-anak disini?" tanya Mama lagi.
"Males ah, besok-besok aja kalau udah gak malas. Putri mau dikamar aja." ujarku sembari berusaha untuk bangkit dari kursi meja makan.
"Udah selesai makannya Put?"
"Iya Ma, Putri kekamar dulu yach." ijinku ke Mama dan tanpa menunggu jawaban Mama lagi aku langsung ngacir pergi ke kamar yang berada di lantai atas.
***************
BLUK. Kuhempaskan tubuhku di spring bed yang empuk. Pikiranku melayang entah kemana. Saat ini memang benar kenyataan tubuhku berada di kamar yang terletak di Negara Singapura ini, Negara tempat Mamaku bekerja dan bertempat tinggal. Namun, pikiranku melayang di Indonesia tepatnya dikota kecil Kota Surabaya, kota kelahiranku dan tempat tinggalku sebelum 3 hari yang lalu.
kini dan seterusnya aku akan menetap disini di Negara Singapura yang bahkan tempat tidurnya saja tidak aku kenali apalagi kota dan orang-orangnya. Walaupun setiap hari Mama menyuruhku jalan-jalan dengan mobil mewah yang dibelikan khusus untukku , aku merasa malas sekali melakukannya. Bahkan, Mama meluangkan waktunya yang super sibuk di sore hari hanya untuk menawarkan jasa sebagai guide-ku tapi toh aku tetap tidak mau. Aku masih belum bisa nerima keadaan ini, keadaan yang sangat berubah drastis. Disini tidak ada Ayah, teman-temanku seperti Dini, Lia dan Toni serta kafe.
Meski baru 3 hari, aku sudah merindukannya. Apalagi kafe Ken's, kafe kecil yang terletak di pojok Surabaya, kafe tempatku mencari peruntungan dengan menjual suaraku disana, atau mungkin lebih tepatnya bukan menjual tapi memamerkan suaraku. Dari kecil, aku sudah hobby menyanyi dan kebetulan Ayah mengijinkan dan mendukung semua caraku dalam rangka memamerkan suaraku itu mulai dari ngamen bersama teman-teman, ngeband dan sampai akhirnya diajak mengisi acara di kafe ken's yang kebetulan manajernya menyukai ciri khas suaraku dan mulai mengontrakku untuk menjadi penyanyi tetap kafe ken's.
Saat itu, aku sangat bangga dengan pekerjaanku sebagai penyanyi kafe karena dengan begitu aku bisa memamerkan suaraku kepada semua orang. Untung juga, Ayah mendukungku seratus persen.
"Apapun jalanmu, jika itu masih dijalur yang benar Ayah akan mendukungmu." kata Ayah saat aku menanyakan perihal dukungannya.
"Tapi kan ini penyanyi kafe yah, Ayah gak malu punya anak seorang penyanyi kafe. Bukankah penyanyi kafe itu sudah dicap masyarakat sebagai anak nakal. Ayah gak takut para tetangga menjelek-jelekkan Putri sebagai cewek nakal karena sering pulang malam?" tanyaku penasaran. Namun, hanya gelengan kepala dan senyuman yang kudapat dari Ayah.
"Ayah gak takut?" kuulang pertanyaanku karena aku benar-benar penasaran kenapa Ayah begitu mudahnya mendukungku.
"Ayah sayang sama kamu nak dan Ayah juga yakin kamu sayang sama Ayah jadi Ayah yakin sekali kamu gak mungkin mengecewakan Ayah. Kalau memang para tetangga berkata-kata seperti yang kamu katakan tadi, Ayah tidak peduli karena yang Ayah pedulikan hanya kamu." jawab Ayah sambil mencolek hidungku. Aku pun tersenyum, benar kata Ayah aku sangat sayang sama Ayah. Aku pun langsung memeluk Ayah.
"Tuh, mulai manja."
"Biarin, soalnya kan Putri sayang banget sama Ayah." kataku merajuk.
"Ayah juga."
"Yah, Putri boleh tanya lagi gak?"
"Apa?"
"Waktu Putri ngamen. Ayah malu gak?" tanyaku ke Ayah dan kudapati lagi senyuman itu.
"Kenapa harus malu. Putri kan cuma ngamen, gak nyolong kan?"
"Ayaaahhh..... Ayah ada-ada aja. Putri serius."
"Ayah juga serius, taurus malahan."
"Ayaaahhhh......" kataku sambil cemberut.
"Hehehe.... Ayah gak malu kok nak. Malah Ayah bangga anak Ayah ini udah mau belajar mandiri dan bisa jadi penyanyi."
Saat itu Ayah adalah sosok yang sangat bijaksana bagiku. Dari kecil aku tinggal bersama Ayah dan kini aku harus pergi meninggalkan Ayah di Surabaya sendirian dan ikut Mama ke Singapura.
"Yah, rasanya aku bahagia banget walaupun cuma tinggal berdua sama Ayah." ucapku tulus di waktu itu.
"Iya, Ayah juga."
"Walau tanpa Mama, tapi aku udah merasa jadi anak paling beruntung deh yah." Dan senyuman itu muncul lagi, senyuman yang selalu menyejukkan hatiku dikala badai masalah datang bertubi-tubi.
"Biarpun begitu, kamu masih punya Mama yang sayang juga sama kamu seperti Ayah yang menyayangimu." Begitulah selalu kata-kata Ayah. Padahal sudah jelas-jelas Mama menghianati Ayah dan pergi ke Singapur mengikuti jejak suaminya yang kaya yang saat ini sudah almarhum.
Aku masih ingat. Ketika aku masih SD, Mama meminta cerai dari Ayah. Dan mungkin karena sakit hati itulah Ayah banting tulang untuk menghidupiku dan dirinya sendiri hingga akhirnya lahirlah bisnis Ayah yang sekarang sudah beranak-pinak. Tapi walaupun begitu Ayah gak malu melihatnya anaknya ngamen bahkan menjadi penyanyi kafe. Tak terasa air mataku membasahi pipi kala mengenang semua itu. Kulirik jam yang menunjukkan pukul 10 waktu sekitar. Sejenak kutatap langit-langit kamarku, dan ingatanku kembali menerawang ke kamarku dulu yang berada di Surabaya. Langit-langitnya berbeda, dulu di langit-langit kamarku banyak tergantung bintang-bintang yang bisa menyala saat lampu dipadamkan, hadiah dari Alex.
Mengingat Alex, ah sudahlah semua sudah berlalu. Aku pun bangkit dan mengambil laptop hadiah dari Mama. Sama seperti kemaren, hari ini pun aku mau online di kamar. Kunyalakan laptopku, setelah menunggu beberapa detik akhirnya muncullah foto diriku dengan Alex yang sedang tersenyum menatap kamera dengan background sebuah teman yang terletak di Surabaya. Tiap sabtu sore kami selalu menghabiskan waktu disana, entah itu cuma jalan-jalan menghilangkan penat atau cuma nongkrong melihat orang-orang yang sedang asyik berpacaran.
Hufz.... Alex bukan siapa-siapa lagi. Kuklik 2 kali icon Yahoo Messenger yang berada di desktop laptopku. Kuketik alamat email dan passwordnya, loading sebentar dan mucullah beberapa nama disana termasuk nama Alex yang sudah 3 hari ini gak pernah online. Aku merasa dia sudah melupakanku, padahal selama 3 hari ini aku selalu online mulai pagi sampai jam 12 malam tapi tetap tak ada tanda-tanda Alex online. Kuketik pesan lagi untuk yang kesekian kalinya.
Lex..... ini aku Putri.
'Lagi online Put?' sapa Dido teman kuliah dulu.
'Iya.'
Lebih baik aku ngobrol dulu sama Dido untuk mengisi waktu.
***************
tiga jam pun berlalu mulai ngobrol sama Dido sampai cekikikan sama Lia dan aku jadi makin kangen sama mereka, apalagi kata Lia kafe makin sepi tak ada aku. Andai saja saat itu Mam tidak tau pekerjaanku, mungkin saat ini aku masih di Surabaya dan berkumpul bersama teman-temanku di kafe.
"Apa-apaan kamu ini Rud, mengurus anak satu aja gak becus." suara mama yang keras menghentak itu mengagetkanku yang masih tidur di kamar.
"Masak Putri harus jadi penyanyi kafe, apalagi kata para tetangga dulu si Putri itu juga sering ngamen. Iya?!" Aku langsung terbangun saat kudengar namaku disebut.
"Jawab Rud, jangan diam saja!" sentak Mama lagi. Aku pun jadi penasaran kuintip lewat celah pintu kamarku dan kulihat Papa menganggukkan kepala.
"APA!!! Jadi bener semua kata tetangga kalau si Putri cewek nakal, tak punya pendidikan, gadis malam."
"Semua itu gak bener, Putri emang penyanyi kafe tapi dia bukan anak nakal." bela Ayah akhirnya.
"Rudi.... Rudi, kamu itu bodoh apa bego?! Sudah jelas-jelas Putri itu penyanyi kafe."
"Lantas kenapa dengan penyanyi kafe Mir?"
"Kamu tidak tau kalau profesi sebagai penyanyi kafe itu sudah buruk dimata masyarakat."
"Aku tau tapi aku percaya sama Putri." Ayah memang bijaksana.
"Bukan itu saja Rudi masalahnya, aku juga mendengar dari para tetangga katanya Putri itu gak normal. Apa itu benar?"
"Gak normal bagaimana?" tanya Ayah balik, aku yang mengintip dan mencuri dengar juga bingung apa yang dimaksud Mama.
"HUH..." kudengar helaan napas Mama yang terasa berat, suasana hening seketika. Aku pun jadi deg-degan.
"Kata mereka, Putri seorang lesbian." kata Mama pelan dan aku cukup jelas mendengarnya.
"APA!!! Mirna, kamu jangan percaya begitu saja sama omongan para tetangga." bela Ayah lagi untuk yang kesekian kalinya terhadap diriku. Aku sudah tidak mau lagi untuk mendengarkan kelanjutan dari pembicaraan mereka.
***************
Huuh.... kuhela napasku yang berat berharap semua ini tidak pernah terjadi padaku. Aku juga masih berharap semua ini adalah mimpi.
"Putri.... aku sudah tidak pernah melihat Alex lagi di kampus. Maaf yach.... aku gak bisa bantu kamu lebih banyak lagi. Alex benar-benar menghilang Put, kamu yang sabar yach. Jaga diri baik-baik disana, kami semua sayang sama kamu. Kalau pulang kampung, jangan lupa maen-maen ke Ken's yach." tulis Dini lewat email. Dini yang baik yang selalu membantuku dan menyimpan semua rahasiaku tanpa sekalipun bocor ke telinga orang lain.
"Iya Din, makasih yach. Kamu juga yang rajin ngurusin kafe yach. Aku juga sayang sama kalian, 3 hari disini ajah aku udah kangen sama kalian. Apalagi suasana kafe dan kenanganku." balasku ke Dini. Terlintaslah bayangan Dini dan Alex yang saat itu baru pertama kali kukenal. Lewat Dini lah aku mengenal Alex, Alex itu teman sekampus Dini, sedangkan Dini adalah teman SMA-ku dan kebetulan dialah pemilik Ken's kafe. Di usianya yang muda, Dini sudah diberi kuasa untuk mengelola usaha ayahnya itu.
"Putri, kenalin ini Alex teman kampusku." ujar Dini pada malam itu.
"Alex." ucap orang itu memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.
"Putri." kubalas luran tangan itu dengan senyuman. Saat itu aku telah selesai memamerkan suaraku di kafe Ken's dan akan bersiap-siap pulang.
"Udah selesai ya Put?" tanya Dini padaku yang tengah sibuk memreteli anting-antingku.
"Iya, mau pulang. Udah malam juga, takut ditungguin ayah dirumah."
"Aku anterin ya?" tawar Alex.
"Gak usah deh, biasanya juga sendiri kok."
"Gak pa-pa, aku juga mau pulang kok."
"Gak ngerepotin nih?" Kulihat gelengan kepala dari Alex. Ya untunglah, jadi bisa ngirit ongkos taksi deh, pikirku saat itu.
***************
Aku benar-benar tak menyangka dari perkenalan singkat itu aku jadi makin dekat sama Alex. Kita sering keluar bareng, ke Taman, ke Mall, Alex juga sering antar-jemput aku ke kafe dan Alex lah yang selalu nganterin aku kemana pun aku pergi. Tak jarang Alex juga sering main ke rumah dan menginap di rumahku, tapi itu tak jadi masalah bagi Ayah karena Alex temanku.
Tapi yang tak kusangka adalah kedekatan kami ini membawa virus yang sangat membahayakan, virus yang tak lazim, virus yang taboo dan virus yang aneh bagi sebagian orang.
"Put, kamu cantik sekali sore ini." ujar Alex disaat kami sedang menikmati keindahan pantai di sore hari.
"Biasa ajah Lex." jawabku sambil tersipu malu.
"Pasti banyak anak cowok yang suka sama kamu." ujar Alex lagi yang dengan suksesnya membuatku kaget dan menatapnya. tak berselang lama aku tersenyum menjawab pertanyaan Alex.
"Aku udah tau semua tentangmu dari Dini. Dini udah cerita banyak sekali."
"Cerita apa ajah dia, dasar nenek rombeng Dini." kataku dengan mimik muka cemberut.
"Katanya kamu dulu pernah ngamen, suka nyanyi, baek hati dan banyak digemari para cowok tapi herannya kamu gak punya cowok. Bener itu?" ZLEB, terasa ada samurai menancap ke jantungku. Aku gak bisa berkata apa-apa lagi selain tersenyum.
"Kok bisa gak punya cowok?" tanya Alex penasaran.
"Yaaa.... masih belum ketemu yang cocok ajah." lagi-lagi jawaban inilah yang kulontarkan untuk kesekian kalinya.
"Kok bisa?" tanya Alex lagi.
"Ya bisa lah, semua cowok yang suka sama aku itu bukan karena hati dan gak semuanya tulus. Aku gak mau sakit hati."
"Emang kamu pernah ngalaminnya?" Kutatap lagi wajah Alex yang menyiratkan rasa penasaran tersebut. Kugelengkan kepala lagi entah untuk yang keberapa kali.
"Terus???" Kutarik napas dalam-dalam, suasana pun hening seketika.
"Aku gak pernah dan gak mau ngerasain sakit hati, karena menurut teman-temanku sakit hati itu rasanya pedih. Bahkan gak jarang orang stres karena sakit hati. Semua lelaki sama saja, gak ada yang bisa setia. Dan penyebab paling banyak mengapa terjadi sakit hati adalah si cowoknya ini selingkuh, punya pacar gelap, serong, menduakan atau apalah namanya itu. Bukankah sudah diteliti 2 dari 3 orang laki-laki itu tidak setia." ujarku berorasi.
"Jadi gitu." ucap Alex kemudian, kuanggukkan kepalaku mengiyakan.
"Kalau seandainya....... aku yang suka sama kamu, gimana?" DEG!!! Kurasakan jantungku berhenti berdetak dan kulihat wajah Alex yang serius menatapku. Aku gak bisa berkata apa-apa, sejenak aku menjadi bisu, mulutku tak bisa terbuka seperti dilem. Dan detik kemudian Alex tersenyum sambil berkata, "Jangan kamu kira aku main-main. Aku serius Put." ucap Alex tegas.
"Sejenak aku merasa dunia berhenti berputar, mataku tak bisa berkedip, lidahku kelu tak bisa berucap, bahkan mulutku terkatup rapat-rapat tak bisa dibuka.
"Put....." panggil Alex ramah sambil memegang tanganku, menyadarkanku kembali lagi ke kenyataan bahwa Alex menyukaiku. Ini tidak mungkin.
"Aku gak berharap kamu menjawabnya Put, aku gak butuh jawaban. Aku hanya ingin jujur saja. Aku gak mau membohongi perasaanku sendiri. Aku emang sayang banget sama kamu Put."
"Tapi Lex, kita kan....."
"Aku tau Put, hal ini sebenarnya gak boleh terjadi." potong Alex.
***************
Trrt.... trrrtttt..... trrrrrrrttttttt........ Sejenak aku terkesiap dari lamunan, kudapati lagi kamarku yang sudah kuhuni selama 3 hari ini. Trrrttt..... trrrrttttt....... trrrrtttt...... Kuambil Blackberry kesayanganku dari meja rias, terpampang wajah Mama disitu.
"Halo."
"Put, udah makan?" tanya Mama diseberang sana.
"Belum Ma." rutin sekali sih tiap jam segini selalu telpon, pikirku.
"Cepet makan ya, entar kamu sakit. Ngapain sekarang?"
"Gak ngapa-ngapain Ma, Putri dikamar ajah kok."
"Ya udah, cepet makan ya sayang. Kamu tinggal bilang ke Bibi mau makan apa, entar Bibi yang masakin buat kamu."
"Iya, Putri udah tau kok."
"Oke deh, mungkin entar Mama agak malam pulangnya maklum banyak kerjaan di kantor. Nanti kamu tidur dulu ya, jangan malam-malam tidurnya."
"Iya."
"Mama sayang kamu Put."
KLIK. Kumatikan pembicaraan ini. Aku sudah bosan Ma dengan kata-kata Mama itu, Putri kan bukan anak kecil lagi yang harus diatur ini dan itu. Kubaringkan lagi tubuhku ke kasur.
Kalau memang Mama sayang sama Putri, kenapa dulu Mama ninggalin Putri begitu saja. Kenapa Mama lebih milih orang lain daripada Papa, itukah bukti rasa sayang Mama ke Putri?! omelku dalam hati. Tak terasa butiran bening mengalir melewati pipiku.
Semua kenangan tentang Ayah, Mama, Kafe, Alez muncul lagi. Kenapa semuanya bisa terjadi padaku, ingin sekali aku berteriak kencang bahkan kalau bisa sampai pita suaraku putus. Kuambil laptopku yang masih menyala, kuamati semua album foto disitu. Kuamati satu-satu dan sesekali aku tersenyum kala melihat pose-pose Alex yang lucu-lucu. Ada juga foto pribadiku dengan Alex yang tidak aku perlihatkan kepada siapapunkecuali Dini yang tidak sengaja melihatnya. Foto pribadi yang diambil dari HP N70 milik Alex. Disitu aku dan Alex sedang berciuman.
"Put.... ini fotonya siapa?!" tanya Dini saat dia sedang melihat-lihat isi laptopku di kamarku.
"Foto apaan?" tanyaku balik karena belum ngeh dengan maksud Dini.
"Lihat ini. Ini foto kamu kan?" Mataku langsung tertancap dilayar monitor yang tengah menayangkan fotoku dan Alex yang sedang berciuman.
"PUT!!!" sentak Dini yang dengan suksesnya membuatku terlonjak kaget.
"Dini ngagetin ach."
"Ini fotonya siapa?!" tanya Dini yang sedang menunggu klarifikasi dariku.
"Iya fotoku."
"Sama siapa?!" potong Dini ketus.
"Alex." jawabku singkat dan sangat pelan.
"Maksudnya apa ini?!" suara Dini mulai emosi.
"Ssst.... jangan keras-keras." ujarku panik, takut kedengaran orang lain yang padahal jelas-jelas cuma aku dan Dini dikamar rumahku.
"Ceritakan semuanya padaku." perintah Dini tegas.
"Jadi, aku sama Alex pacaran." penjelasanku benar-benar pelan sekali, tapi cukup mampu didengar oleh Dini yang mimik wajahnya langsung berubah.
"APA!!! Putri kamu sadar kan apa yang kamu lakukan ini gak bener?!" Kuanggukkan kepalaku.
"Aku gak ngerti Put, kok bisa jadi kayak gini." suara Dini sudah mulai melunak.
"Awalnya aku juga ragu Din, tapi Alex terus-terusan meyakinkanku."
"Hufz..... aku masih gak ngerti. Tapi yang jelas jika ini memang keputusan kalian, baiklah aku akan dukung. Bukankah teman yang baik akan selalu mendukung temannya."
"Makasih ya Din, aku beruntung punya teman kayak kamu." Kupeluk Dini erat sekali.
Aku jadi tersenyum mengingat peristiwa itu. Alex sosok yang sangat kusayangi, dia selalu ada untukku. Saat aku sedih, bingung, capek karena banyak tugas, bosan, senang, berduka disaat kucing kesayanganku mati. Alex selalu sabar mendengarkan keluh kesahku dan dia selalu bisa membuatku tersenyum dengan lelucon-leluconnya. Alex yang banyak cerita, Alex yang periang, menyenangkan, yang suka memanjakanku dan tentunya Alex yang juga mencintaiku seperti aku mencintainya hingga peristiwa itupun terjadi.
"ALEX." tegurku pada sesosok makhluk yang sangat kukenali.
"Putri, sama siapa?" tanya Alex yang tak bisa menutupi keterkejutannya melihatku disini memergokinya.
"Siapa say?" tanya orang disebelahnya sebelum sempat kujawab pertanyaan Alex. Apa yang kudengar tadi? say?? sayangkah maksudnya? Siapakah dia?? Siapa orang ini yang berani memanggil Alex-ku dengan panggilan say???
"Teman kok, teman kampus." Tak kusangka Alex menjawabnya seperti itu, kutatap Alex dengan pandangan tak percaya. Apa-apaan semua ini?!
"Oh... Ya udah aku mau kesana bentar ya say. kamu tunggu ajah disini sama teman kamu dulu." pamit orang itu dan pergi meninggalkan aku yang berdiri terpaku bersama Alex.
"Put... maafkan aku."
"Apa maksud ucapanmu tadi? Siapa dia?! Pacarmu? Kekasih gelapmu? Selingkuhan? Atau dia kekasihmu?!" tanyaku bertubi-tubi, aku sudah gak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Ternyata Alex yang sudah kupercaya telah tega melakukan ini semua padaku.
"Put, aku benar-benar minta maaf."
"Aku tak butuh permintaan maaf Lex. Aku hanya butuh jawaban, siapa dia Lex?!" potongku dengan suara yang kasar dan keras.
"Dia tunanganku." Zleb!!! Zleb!!! Zleb!!! Aku merasa telah ditusuk-tusuk oleh pedang. Bendungan air mataku pun mengalirlah tanpa ada yang menghalangi. Selanjutnya yang aku ingat saat itu aku pergi dan berlari sejauh mungkin dari Alex. Aku sudah tidak mau lagi melihat wajah Alex. Sampai malam harinya, Alex datang kerumah.
"Put, maafkan aku. Aku gak bermaksud menyakitimu." bela Alex dan aku sudah gak mau lagi mendengarnya. Aku hanya diam tak peduli dengan semuanya.
"Put, semua ini diluar kendaliku. Aku dijodohkan tanpa aku ketahui. Baru kemaren pas tunangan itu aku tau tentang perjodohan ini. Putri aku emang salah, dan rasanya tak pantas berada dihadapanmu saat ini. Tapi kumohon maafkan aku. Jujur Put cintaku cuma kamu, rasa sayangku ini hanya untukmu Put."
"Kalau begitu tinggalkan dia." ujarku kemudian.
"Bagaimana aku bisa meninggalkannya."
"Jadi kamu memilih dia kan?!"
"Putri, ngertiin aku. Ini demi keluargaku, demi orangtuaku. Aku harus menikah dengan dia."
"Ngertiin kamu? Kapan aku gak ngertiin kamu Lex. Demi kamu aku rela mencintaimu, aku rela menyalahi kodratku. Tapi apa yang kamu lakukan?! Kamu lebih memilih laki-laki itu." teriakku akhirnya. Hening sesaat, Alex tampak kebingungan dan merasa bersalah.
"Aku tau, maka dari itulah aku dijodohkan dan disuruh menikah dengan laki-laki ini. Karena hubungan kita ini gak memungkinkan Put. Tapi yakinlah, aku masih tetap menicntaimu sampai kapanpun."
"Bullshit."
"Oke Put terserah kamu, tapi itulah kenyataannya. Maafkan aku, selamat tinggal." Itulah pertemuan terakhirku dengan Alex, seseorang yang kucintai yang lebih memilih laki-laki yang dijodohkannya untuk dinikahi.
"Alex, aku tau hubungan kita ini tak lazim. Tapi aku lebih memilih kamu karena aku yakin akan perasaanmu padaku yang sudah jujur itu." ujarku dalam hati.
"Mengapa laki-laki itu harus datang ke kehidupanmu Lex." lanjutku dalam tangis.
Karena kejadian itu, aku menyetujui usulan Mama untuk mengajakku pindah dan menetap di Negara Singapura. Aku berharap aku bisa melupakanmu dan semoga kau bahagia dengan laki-laki itu di kehidupanmu yang baru.
"ALEX, ALEXANDRIA. Kau adalah wanita terindahku." Kunyalakan winamp di laptop yang langsung menyuarakn Pingkan Mambo - 'Wanita Terindah'.
Kau janjikan hanya ku cintamu
Cinta matimu kepada diriku
Namun mengapa kau pergi
Pergi dengan dia lelaki pilihanmu
Ingin aku bunuh saja dia yang tlah curi
Wanita terindahku
Tahukah kau tlah membuai
Diriku jatuh di pelukmu
Hingga ku pun merasa
Tanpamu ku tak berarti
Kaulah wanita terindahku
Semua katakan cinta kita terlarang
Tapi kau yakinkan ku
Jangan dengarkan mereka
Cinta matimu kepada diriku
Namun mengapa kau pergi
Pergi dengan dia lelaki pilihanmu
Ingin aku bunuh saja dia yang tlah curi
Wanita terindahku
Tahukah kau tlah membuai
Diriku jatuh di pelukmu
Hingga ku pun merasa
Tanpamu ku tak berarti
Kaulah wanita terindahku
Semua katakan cinta kita terlarang
Tapi kau yakinkan ku
Jangan dengarkan mereka
***coretanku terinspirasi dari lagu Pingkan Mambo
Subscribe to:
Posts (Atom)
