Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

23 Mar 2017

Review Buku: Trilogi Soekram

1


Judul : Trilogi Soekram
Penulis :  Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015
Halaman : 283
Bintang : ★★☆☆☆

"Saudara, saya Soekram, tokoh sebuah cerita yang ditulis oleh seorang pengarang. Ia seenaknya saja memberi saya nama Soekram, yang konon berasal dari bahasa asing yang artinya - ah, saya lupa. Tapi sudahlah. Apa pun nama saya, saya harus menerimanya, bukan? Pengarang itu sudah payah sekali kesehatannya, kalau tiba-tiba ia mati, dan cerita tentang saya belum selesai, bagaimana nasib saya - yang menjadi tokoh utama ceritanya? Saya tidak bisa ditinggalkannya begitu saja, bukan? Saya mohon Saudara berbuat sesuatu.

4 Mar 2017

Review Buku: Merajut Rahmat Cinta

1


Judul : Merajut Rahmat Cinta
Penulis : Hasyim El-Hanan
Penerbit : Bunyan
Tahun Terbit : 2013
Harga : -
Bintang : ★★☆☆☆

"Sebagai seorang muslimah, aku menyadari bahwa diriku harus menjaga pandangan. Tetapi, menatapnya sekilas tanpa sengaja membuat hatiku bergemuruh. Lelaki itu, santri kesayangan Abah, yang tutur katanya santun, tetapi suaranya menggelegar saat berceramah. Lelaki itu telah mencuri hatiku. - Tazkiya
Gadis itu bahaikan bidadari yang membuatku terpesona. Aku nyaris tak mampu mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Kurasa aku telah jatuh cinta. Tetapi takdir mempertemukan aku dengan perempuan lain yang wajib kujaga, sang muhajirah. - Fatih
Lelaki itu penyelamat hidupku. Dialah yang membantuku berdamai dengan masa lalu dan menuntunku kembali ke jalan-Mu. Betapa pun aku mencintainya, tetapi aku sungguh tak ingin menjadi beban baginya. Karena sesungguhnya cinta yang paripurna adalah mencintai karena-Mu. - Shilvi"

23 Dec 2016

Nona Kesepian #6

0

Ia tetaplah si Nona Kesepian, ada atau tidak adanya dirimu Tuan.

Halo Tuan, sudah lama aku tidak melihatmu. Waktu itu kamu datang sekejap, aku mengintip dari balik pintu. Aku mendengar perkataanmu secara seksama, tak sehurufpun kulupakan. Akhirnya kamu mengatakannya Tuan, akhirnya Nona menangis. Kamu membuatnya menangis Tuan. Entah apa salah Nona, entah, aku pun menangis.

23 Sept 2016

3 Mar 2016

Luka

2

Aku ingin mengusirnya pergi, tapi luka itu semakin lekat.

Rei kembali melirik jam di tangannya. Jarum panjang terlihat bergerak perlahan, satu menit lagi telah terlewati. Rei menghembuskan napas, berat, semua yang terjadi padanya terlalu berat untuk ia pikul. Stasiun Kota mulai ramai, seorang ibu-ibu sibuk menenangkan anaknya yang terus menangis, sekumpulan pemuda tertawa sambil berdiri. Rei mengalihkan pandangannya ke sudut lainnya, terlihat seorang pria dan wanita yang terdiam di kursi tunggu, menciptakan jeda, terlihat indah. Rei tersenyum, ia mulai teringat.

25 Jan 2016

Nona Kesepian #3

1

Kopi itu untukmu, bukan kopi pahit. Manisnya berasal dari kerinduan yang menumpuk.

Hai Tuan Besar yang suka tertawa. Sudahkah kamu bercerita perihal perasaanmu kepada Nona? Tidakkah kamu tahu Tuan? Nona memeluk erat duri rindu di setiap malamnya, membuat dinding-dinding hatinya robek, membuatnya bermimpi buruk. Ia selalu gelisah menunggumu Tuan, yang hanya datang di Hari Senin. Ada apa Tuan dengan Hari Senin? Mengapa engkau hanya muncul di Hari Senin. Menciptakan kehangatan di hati Nona, hanya sekejap, karena engkau menghilang sepekan kemudian. Dimana engkau bersembunyi Tuan? Tidakkah engkau mendengar namamu yang terus diucapkan Nona di setiap penghujung harinya? Ia yang terus mengaduk kopi, tidakkah engkau ingin mencicipi kopi itu Tuan? Terasa sangat pahit, karena bukan gula yang ia campur dalam kopi itu, namun kerinduannya padamu Tuan yang terus menumpuk hingga ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain mencampurnya pada kopi dan menyajikannya untukmu.

Nona Kesepian #2

1

Tetaplah berdiri didepanku, membelakangi dan jangan menoleh.

Hei kamu yang ada disana. Iya, kamu yang lagi berdiri dengan pongahnya, si Tuan Besar yang merasa dunianya selalu benar, si Tuan Besar yang dunianya tak pernah sepi, si Tuan Besar yang tidak menyadari telah menjatuhkan hati Nona hingga berkeping-keping, si Tuan Besar yang kemudian memilih pergi setelah itu. Tidak sadarkah kamu Tuan, ada wanita yang menunggumu disini, menunggu kamu berjalan ke arahnya, tapi nyatanya kedua kakimu seakan tertancap erat disitu, di tempatmu berdiri sekarang.

8 Jan 2016

Secarik Kertas

0

Suatu hari, kau akan membaca sebuah kejutan dari secarik kertas dengan tulisan 'aku menyukaimu'

Kembali Ken memperhatikan kegemaran Za yang suka menulis. Kali ini Za menulis di secarik nota yang baru saja diterima dari seorang pelayan. Ken tidak mengerti tentang kegemaran Za, ia hanya memperhatikan bagaimana bibir Za yang mengatup rapat, percikan sinar mata yang penuh riak kehidupan, tangan Za yang terus bergerak menorehkan tinta di secarik nota tersebut. Keindahan seperti inilah yang selalu membuat Ken merindu.

4 Jan 2016

Tiga Menit

2

Kita sudah terbiasa berjalan dalam hening, namun aku tahu hati kita saling berdialog.

Perjalanan dari pintu kelas ke pintu gerbang bisa ditempuh dalam waktu tiga menit. Za biasanya menghabiskan waktu tiga menit itu dengan menyenandungkan nada-nada dengan suara falsnya. Terkadang, ia bergumam sendiri tentang jadwalnya yang terlalu padat, atau dosen yang baru saja memberinya tugas. Di hari lain, bahkan Za tidak memikirkan apapun, ia hanya berjalan saja, ingin segera sampai ke pintu gerbang. Bagi Za, pintu gerbang adalah pintu keluar dari segala tekanan di dalam kampus.

27 Dec 2015

Hanya Satu

0

Kamu, satu-satunya alasan untukku tetap bertahan sembari menyeruput secangkir kopi.

Aku masih setia mendengarmu bercerita, terkadang diselipi tawa berderai hingga menangis di ujung mata. Bercerita, tertawa, bercerita, menyeruput kopi, lalu bercerita lagi. Aku hanya mendengar, sesekali mengangguk, selebihnya terdiam, mengamati.

23 Dec 2015

Bukan Nama Za

0

Nama siapa yang kini engkau gurat di hatimu, Tuan?

Za terpaku di tempat duduknya. Dua meja di depannya, duduk seorang lelaki, sendiri, hanya diam dengan tatapan mata kosong. Secangkir kopi diletakkan pelayan di meja lelaki tersebut, namun lelaki itu tetap diam, bahkan mengangguk kecil saja tidak. Za terus memperhatikan, terpaku. Ada sesuatu pada lelaki itu yang membuat Za tak berkedip.

19 Dec 2015

Senyuman Itu

1

Bahkan hatiku telah patah sebelum aku jatuhkan

Lelaki itu berjalan lurus, menghampiri teman-temannya yang berkumpul di depan perpustakaan. Za memperhatikan, bahkan sejak lelaki itu baru tiba. Za terus memperhatikan, seluruh pandangannya tersedot oleh aura lelaki itu. Tampan, tidak hanya itu, ada sesuatu yang membuat Za tidak ingin melepaskan pandangannya. Ada sebuah perasaan yang ingin menyeruak pergi ke arah lelaki itu. Seakan-akan saat ini, detik ini, semuanya membeku dan hanya lelaki itu yang ada di dunianya.

17 Dec 2015

Hahaha

1

Aku menyukaimu, tapi kamu malah tertawa

Kamu selalu tertawa di sela-sela ceritamu. Kamu tertawa ketika temanmu sedang melucu, kamu tertawa ketika cara bicara seorang teman kamu anggap lucu, kamu tertawa ketika melihat video lucu, kamu tertawa ketika selesai bercerita. Dan aku selalu terhipnotis dengan tawamu, tertawa, tertular.

15 Dec 2015

Sekelumit Cerita di Beranda Depan

0

Untukmu. Secangkir kopi dengan kerinduan di dalamnya.

Di penghujung senja itu, Ken kembali mengunjungi rumah Za. Mereka duduk di beranda depan, menciptakan hening. Dua cangkir kopi berada di meja antara mereka, satunya tinggal ampas kopi dan satunya masih utuh. Mereka sudah terbiasa dengan jeda, menikmati senja yang lambat laun mulai bersembunyi tergantikan dengan malam, pekat.

14 Dec 2015

Mundurlah Waktu

1

Jika boleh memundurkan waktu, aku ingin saat ini berada saat dimana aku melihat sinar matamu untuk pertama kalinya.

Di penghujung hari itu, dia masih tekun berkutat dengan pekerjaannya, tak ia pedulikan detik jarum jam yang terus bergerak. Keindahan lampu kota mulai menghiasi malam, bayangan mulai meraja di area yang tak terkena sinar. Malam mulai merangkak naik, namun ia masih berkutat dengan segala pekerjaan yang harus ia selesaikan saat ini juga. Ultimatum dari Sang Penguasa telah ia terima, maka pekerjaan ini harus selesai, tak peduli dengan keinginannya untuk bertemu dengan Sang Penghuni Hati.

12 Dec 2015

Hujan. Desember. Kamu

0

Setiap tetesnya membawa cerita tentang kamu.

Selamat pagi, Desember.
Za tak pernah bosan menyapa Desember dengan kalimat selamat pagi. Baginya Desember selalu pagi, meski siang ataupun malam ia selalu menyapa Desember dengan pagi. Baginya Desember akan selalu menjadi bulan yang istimewa. Desember, hujan, dan juga kamu. Za tersenyum sembari tangannya mengelus jendela.
*

Separuh Hatinya

0

Aku tahu, kelak ia akan kembali lagi kepadaku.

Pagi ini dia mendapat kiriman sebuah paket, entah darimana karena tak ada nama dan alamat pengirim. Paket itu diamatinya tak berkedip. Sebuah kotak persegi seukuran kardus aqua warna hitam bergradasi ungu, tak ada tulisan apapun. Entah kenapa, dia merasa paket itu seharusnya tak disini. Dia menatap nanar, tangannya gemetar ingin membuka, penasaran, namun separuh hatinya terus-terusan berteriak "Jangan!".

9 Dec 2015

Menjemput Bahagia

0

Datanglah padaku dan kita akan berbahagia bersama.

Gerimis jatuh perlahan, mengenai kulit tangannya yang erat mencengkeram kemudi motor. Lampu lalu lintas masih betah menampilkan warna merah. Ia menoleh ke sebelah kiri demi mengusir rasa bosan menunggu, dilihatnya dua orang wanita yang berboncengan, yang depan berambut panjang sedang tertawa renyah. Bahagia. Sedangkan yang belakang memakai kerudung hanya tersenyum malu-malu dengan semburat merah di pipi. Bahagia. Ia tersenyum, tertular.

8 Dec 2015

Nona Kesepian #1

0

Akulah Sang Nona Kesepian
 Akulah Sang Nona Kesepian, hanya menghabiskan waktu menekuri perasaan. Sudah tak terhitung lagi berapa detik kuhabiskan hanya untuk menggurat wajah Tuan di desau angin. Tak kupedulikan tatapan orang yang mencoba ingin tahu, tak kuhiraukan rentetan pertanyaan yang berisi kalimat-kalimat prihatin. Telingaku telah kebas dengan makian, cacian, pertanyaan atau apapun itu.
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com