Showing posts with label note. Show all posts
Showing posts with label note. Show all posts

6 Feb 2017

Curhat #3

0

Hatiku tak lagi mempedulikannya

Entah akan kau sebut apa Dia, aku tak peduli. Pria atau wanita, aku sudah tidak peduli. Karena aku tak ingin peduli lagi. Siapa Dia, Bagaimana Dia, Dimana Dia, Mengapa Dia. Aku tak ingin peduli. Namun, sekeras apapun aku tidak ingin mempedulikannya. Dia, selalu menemukan jalan menuju ke hatiku. Seteguh apapun aku tidak ingin mempedulikannya. Dia, selalu punya cara untuk menarik perhatianku lagi, kemudian aku peduli lagi. Begitulah dia.

23 Dec 2016

Nona Kesepian #6

0

Ia tetaplah si Nona Kesepian, ada atau tidak adanya dirimu Tuan.

Halo Tuan, sudah lama aku tidak melihatmu. Waktu itu kamu datang sekejap, aku mengintip dari balik pintu. Aku mendengar perkataanmu secara seksama, tak sehurufpun kulupakan. Akhirnya kamu mengatakannya Tuan, akhirnya Nona menangis. Kamu membuatnya menangis Tuan. Entah apa salah Nona, entah, aku pun menangis.

16 Dec 2016

23 Sept 2016

13 May 2016

Hijrah - Perjalanan Hati

3

Aku memilih hijrah bukan karena apa atau karena siapa, tapi karena aku ingin lebih dekat dengan Allah.
Sebenarnya ini hanya curhat saja sih, mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada. Selama hampir beberapa hari ini hanya menatap laptop kosong, akhirnya saya berani menulis juga. Sebenarnya niatnya ingin menulis kali saja bisa menangis, hehe. Beberapa waktu lalu sebuah kenyataan menghantam saya hingga mencipta kernyit di dahi kiri. Saya bercerita kepada salah seorang sahabat saya, lalu menertawakan nasib saya, anehnya di tengah tawa saya justru menangis. Kemudian saya oleng, bahkan tidak ingat apakah yang terjadi adalah sebuah kenyataan atau hanya imajinasi saya, tapi sahabat saya yang lainnya lagi menemani saya bercerita, membuat saya menceritakan tentang kenangan, tiba-tiba saya terisak.

3 Mar 2016

Luka

2

Aku ingin mengusirnya pergi, tapi luka itu semakin lekat.

Rei kembali melirik jam di tangannya. Jarum panjang terlihat bergerak perlahan, satu menit lagi telah terlewati. Rei menghembuskan napas, berat, semua yang terjadi padanya terlalu berat untuk ia pikul. Stasiun Kota mulai ramai, seorang ibu-ibu sibuk menenangkan anaknya yang terus menangis, sekumpulan pemuda tertawa sambil berdiri. Rei mengalihkan pandangannya ke sudut lainnya, terlihat seorang pria dan wanita yang terdiam di kursi tunggu, menciptakan jeda, terlihat indah. Rei tersenyum, ia mulai teringat.

25 Jan 2016

Nona Kesepian #3

1

Kopi itu untukmu, bukan kopi pahit. Manisnya berasal dari kerinduan yang menumpuk.

Hai Tuan Besar yang suka tertawa. Sudahkah kamu bercerita perihal perasaanmu kepada Nona? Tidakkah kamu tahu Tuan? Nona memeluk erat duri rindu di setiap malamnya, membuat dinding-dinding hatinya robek, membuatnya bermimpi buruk. Ia selalu gelisah menunggumu Tuan, yang hanya datang di Hari Senin. Ada apa Tuan dengan Hari Senin? Mengapa engkau hanya muncul di Hari Senin. Menciptakan kehangatan di hati Nona, hanya sekejap, karena engkau menghilang sepekan kemudian. Dimana engkau bersembunyi Tuan? Tidakkah engkau mendengar namamu yang terus diucapkan Nona di setiap penghujung harinya? Ia yang terus mengaduk kopi, tidakkah engkau ingin mencicipi kopi itu Tuan? Terasa sangat pahit, karena bukan gula yang ia campur dalam kopi itu, namun kerinduannya padamu Tuan yang terus menumpuk hingga ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain mencampurnya pada kopi dan menyajikannya untukmu.

Nona Kesepian #2

1

Tetaplah berdiri didepanku, membelakangi dan jangan menoleh.

Hei kamu yang ada disana. Iya, kamu yang lagi berdiri dengan pongahnya, si Tuan Besar yang merasa dunianya selalu benar, si Tuan Besar yang dunianya tak pernah sepi, si Tuan Besar yang tidak menyadari telah menjatuhkan hati Nona hingga berkeping-keping, si Tuan Besar yang kemudian memilih pergi setelah itu. Tidak sadarkah kamu Tuan, ada wanita yang menunggumu disini, menunggu kamu berjalan ke arahnya, tapi nyatanya kedua kakimu seakan tertancap erat disitu, di tempatmu berdiri sekarang.

16 Jan 2016

31 Dec 2015

Desember Berlalu

1

Desember berlalu, dan aku masih menunggu.

Aku mohon, menetaplah disini. Desember. Hujan. Aku mohon jangan pergi. Tetaplah bersamaku, atau bawa aku pergi juga bersamamu. Hujan. Desember. Jangan berlalu. Bahkan aku merindukanmu disaat bersamamu. Bagaimana nanti jika kau tak bersamaku, rinduku akan mengepul di setiap senja terbenam.

29 Dec 2015

Cerita Perjalanan : Air Terjun Grenjengan (Pacet)

6

Tanggal 10 Agustus 2014, tepat satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri 2014. Setelah dari Pantai, aku dan temanku berencana pergi ke Pacet, Mojokerto. Awalnya aku bertanya kepada temanku yang rumahnya di Mojokerto, tempat wisata apa yang ada disana. Dia bilang ada air terjun di Pacet. Oke, Hari Minggu tanggal 10 Agustus aku berangkat bersama temanku pukul 07.00 pagi.

28 Dec 2015

2016 Nanti

0

Setahun sudah terlewati, 2016 sebentar lagi. Entah kenapa, kali ini aku tidak seantusias tahun kemarin, kali ini aku ingin waktu bergerak lambat. Desember 2015, aku masih ingin disini. Ada ketakutan yang tidak nyata akan kenangan-kenangan yang tercipta di 2015, apakah nanti kenangan-kenangan itu akan berakhir sama dengan kenangan lainnya, menjadi pahit saat diputar ulang.
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com