3 Mar 2016

Luka

2

Aku ingin mengusirnya pergi, tapi luka itu semakin lekat.

Rei kembali melirik jam di tangannya. Jarum panjang terlihat bergerak perlahan, satu menit lagi telah terlewati. Rei menghembuskan napas, berat, semua yang terjadi padanya terlalu berat untuk ia pikul. Stasiun Kota mulai ramai, seorang ibu-ibu sibuk menenangkan anaknya yang terus menangis, sekumpulan pemuda tertawa sambil berdiri. Rei mengalihkan pandangannya ke sudut lainnya, terlihat seorang pria dan wanita yang terdiam di kursi tunggu, menciptakan jeda, terlihat indah. Rei tersenyum, ia mulai teringat.


Rei menunduk, melihat kembali ke jam tangannya. Satu menit lagi terlewati sia-sia. Ia memilih untuk menyandarkan kepalanya ke belakang, menarik napas berat sekali lagi, lalu memejamkan mata. Kenangan itu berkelebat di hadapannya seperti slide-slide pada proyektor. Rei membiarkan semuanya terus berkelebat. Hari ini, hanya hari ini. Untuk kemudian ia akan melupakannya.

Rei membuka matanya, terkejut karena suara pemberitahuan yang mengatakan Kereta akan datang. Ia memperbaiki posisi duduknya. Stasiun semakin ramai, banyak orang yang mulai datang ke Peron, menunggu kereta yang akan datang. Seorang pria duduk di sebelah kanannya, Rei menoleh sekilas. Pria yang sama dengan pria-pria lainnya.

"Kopi?"

Rei terkejut, menoleh, ia menggeleng sekilas lalu kembali memperhatikan suasana ramai di depannya.

"Oke. Aku juga tidak suka kopi."

Rei menoleh lagi ke arah pria di sebelah kanannya, ia tidak mengerti bagaimana pria ini menawarinya kopi sedangkan dia sendiri tidak menyukainya. Rei penasaran.

"Kopi selalu bisa membuatku mengingat seseorang. Meski aku tidak suka dengan rasanya, tapi hanya dengan ini aku bisa terus mengingatnya."

"Mengapa kamu ingin mengingatnya?"

"Karena dia mengenalkanku kepada luka."

"Mengapa kamu ingin mengingatnya?"

"Karena dia telah membuatku rapuh."

"Mengapa kamu terus mengingatnya?"

"Karena aku ingin berdamai dengan luka."

Rei terdiam. Ia melihat ada riak gelombang di dalam mata pria itu. Gelombang cahaya. Terlihat sangat indah. Rei masih terdiam, ketika pria itu berdiri dan melangkah ke arah kereta yang baru saja datang. Rei menoleh, mencari pria itu, ingin bertanya. Terlambat, pria itu telah masuk ke dalam gerbong kereta.

Berdamai dengan luka, itu berarti aku harus menerima semua rasa sakit ini.

Dua butir air mata menetes tanpa Rei sadari. Terasa sakit. Sangat sakit. Inikah rasanya terluka? Seperti inikah luka itu? Begitu menyakitkan.

*

Surabaya 19/12/2015-23:49

Related Posts:

  • Nona Kesepian #3 Kopi itu untukmu, bukan kopi pahit. Manisnya berasal dari kerinduan yang menumpuk. Hai Tuan Besar yang suka tertawa. Sudahkah kamu bercerita perih… Read More
  • Desember Berlalu Desember berlalu, dan aku masih menunggu. Aku mohon, menetaplah disini. Desember. Hujan. Aku mohon jangan pergi. Tetaplah bersamaku, atau bawa aku… Read More
  • Dimana hatimu? Kau letakkan dimana hatimu? Aku melihatnya, terpasang indah di dekat leher. Kemudian aku mengaguminya, terlihat menyatu dengan auramu. Lalu aku te… Read More
  • Luka Aku ingin mengusirnya pergi, tapi luka itu semakin lekat. Rei kembali melirik jam di tangannya. Jarum panjang terlihat bergerak perlahan, satu men… Read More
  • Nona Kesepian #2 Tetaplah berdiri didepanku, membelakangi dan jangan menoleh. Hei kamu yang ada disana. Iya, kamu yang lagi berdiri dengan pongahnya, si Tuan Bes… Read More

2 comments:

  1. pit, jangan lupain betadine mu

    ReplyDelete
  2. Wooow... suka sekali sama tulisannya...
    Berdamai dengan luka, itu berarti aku harus menerima semua rasa sakit ini.
    salam kenal mbak

    ReplyDelete

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com