1 May 2017

Pantaskah Saya Marah?

Saya marah, benar-benar marah. Hingga saya tidak tahu bagaimana melampiaskan amarah ini, hingga saya memilih menyendiri, menangis dalam hati. Saya merah, teramat marah. Jika saya melampiaskan amarah saya, maka sahabat yang lain akan merasa sedih, maka itu saya tak tahu harus bagaimana. Sejujurnya saya menulis hanya untuk menuangkan uneg-uneg, dan sejujurnya hari ini saya melampiaskan amarah saya disini sembari menangis.

Bagaimana bisa seseorang yang telah saya anggap sebagai sahabat ternyata mengatakan hal yang menyakitkan. Saya tidak peduli jika yang mengatakan orang lain, karena saya tahu benar mereka tidak mengenal kehidupan saya, mereka hanya melihat dari cover. Tapi jika ternyata yang melakukannya adalah sahabat yang tahu benar bagaimana cara berpikir saya? Lalu tuluskah ia bersahabat dengan saya? Saya terlalu lama memendamnya, terus memasang senyum di hadapannya, menerima ia dengan pelukan hangat. Tapi kenapa semakin menyakitkan, dan dampaknya saya tidak tahan mendengar bullian orang lain, bahkan selama ini saya selalu tidak peduli dengan bullian orang lain karena saya tahu benar sahabat-sahabat saya menerima saya, mendoakan yang terbaik tentang saya. Jika orang lain membully saya tidak peduli karena akan selalu ada doa terbaik dari para sahabat saya. Tapi jika kali ini sahabat yang membully, apa lagi yang saya harapkan?

Saat saya marah, sahabat yang lain terkena imbasnya. Saat saya curhat, nanti dikira saya terlalu baper. Saya tidak tahu mengapa ia melakukan ini, jika orang lain yang melakukannya saya terima karena ia memang bukan orang terdekat saya, dan mereka ingin diakui. Tapi sahabat saya? Yang sudah saya akui sahabat, yang mengerti seluk beluk saya, yang paham akan pemikiran saya. Atau saya yang tidak memahami cara berpikirnya, yang hanya menerimanya dengan pelukan terbuka. Di belakang saya? Bahkan di depan saya? Saya tetap tersenyum, meski sebenarnya hati saya marah, sangat marah. Begitu entengnya dia mengatakan hal itu, bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Saya yang tulus menganggapnya sahabat, saya yang tulus menerima dia dalam pelukan saya. Mungkin, sekali lagi mungkin, dia orang lain yang berkedok sahabat. Saya yang terlalu mudah menganggapnya sahabat, tapi jika ini mudah? Perlukah waktu bertahun-tahun hingga dia menyakiti hati saya, padahal dia satu-satunya yang mengerti benar bagaimana saya down saat ini. Bahkan dia tahu benar bagaimana semua pihak memojokkan saya, jika memang tidak bisa bersimpati minimal jangan lah mengatakan hal yang menyakitkan. Toh saya juga mengatakan kepadanya setelah tahu semua ini, bersikaplah seperti biasa. Tapi bukan berarti dia ikut menjadi salah satu pihak yang membulli saya.

Entahlah, saya tidak tahu. Saya teramat marah, hingga ingin menutup semua akun sosmed. Hingga tidak ingin bertemu dengan beberapa orang.

23 Mar 2017

Review Buku: Trilogi Soekram

0


Judul : Trilogi Soekram
Penulis :  Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015
Halaman : 283
Bintang : ★★☆☆☆

"Saudara, saya Soekram, tokoh sebuah cerita yang ditulis oleh seorang pengarang. Ia seenaknya saja memberi saya nama Soekram, yang konon berasal dari bahasa asing yang artinya - ah, saya lupa. Tapi sudahlah. Apa pun nama saya, saya harus menerimanya, bukan? Pengarang itu sudah payah sekali kesehatannya, kalau tiba-tiba ia mati, dan cerita tentang saya belum selesai, bagaimana nasib saya - yang menjadi tokoh utama ceritanya? Saya tidak bisa ditinggalkannya begitu saja, bukan? Saya mohon Saudara berbuat sesuatu.

14 Mar 2017

Review Novel: Seri Dilan

1

Ini sebenarnya aku baca buku dalam bentuk digital, jadi aku dikasih e-book sama adikku, katanya dia dapat dari salah satu kawan sekolahnya dan katanya lagi kawannya ini dapat e-booknya beli. Oke, walaupun sebenarnya aku lebih suka baca buku aslinya tapi no problemo laah, kali lain mungkin aku bakal beli buku aslinya meski saat ini masih baca versi e-booknya.

4 Mar 2017

Review Buku: Dear Nathan

0

Judul : Dear Nathan
Penulis : Erisca Febriani
Penerbit : Best Media
Tahun Terbit : 2016
Harga : Rp. 99.000
Bintang : ★★★★☆

"Berawal dari keterlambatan mengikuti upacara pertama di sekolah baru, Salma Avira bertemu dengan seorang cowok yang membantunya menyelusup lewat gerbang samping. Selidik punya selidik, cowok itu ternyata bernama Nathan, murid nakal yang sering jadi bahan gosip anak satu sekolah.
Beberapa rangkaian kejadian pun terjadi, yang justru mengantarkan Salma untuk menjadi kian lebih dekat dengan Nathan. Dua kepribadian yang saling bertolak belakang, seperti langit dan bumi, yang tidak bisa bersatu tapi saling melengkapi.
Novel ini mengisahkan tentang masa indah putih abu-abu, persahabatan, pelajaran kehidupan, dan pentingnya untuk selalu menghargai perasaan."

Review Buku: Merajut Rahmat Cinta

1


Judul : Merajut Rahmat Cinta
Penulis : Hasyim El-Hanan
Penerbit : Bunyan
Tahun Terbit : 2013
Harga : -
Bintang : ★★☆☆☆

"Sebagai seorang muslimah, aku menyadari bahwa diriku harus menjaga pandangan. Tetapi, menatapnya sekilas tanpa sengaja membuat hatiku bergemuruh. Lelaki itu, santri kesayangan Abah, yang tutur katanya santun, tetapi suaranya menggelegar saat berceramah. Lelaki itu telah mencuri hatiku. - Tazkiya
Gadis itu bahaikan bidadari yang membuatku terpesona. Aku nyaris tak mampu mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Kurasa aku telah jatuh cinta. Tetapi takdir mempertemukan aku dengan perempuan lain yang wajib kujaga, sang muhajirah. - Fatih
Lelaki itu penyelamat hidupku. Dialah yang membantuku berdamai dengan masa lalu dan menuntunku kembali ke jalan-Mu. Betapa pun aku mencintainya, tetapi aku sungguh tak ingin menjadi beban baginya. Karena sesungguhnya cinta yang paripurna adalah mencintai karena-Mu. - Shilvi"

6 Feb 2017

Review Buku : Guitar Notes

0


Judul : Guitar Notes
Penulis : Mary Amato
Penerbit : Noura Books
Tahun Terbit : 2013
Harga : -
Bintang : ★★★☆☆

""Gitar bukan teman. Carilah teman sesungguhnya!"
Uh, siapa bilang Tripp butuh teman kalau udara saja bisa dia gantikan dengan petikan gitar?
Hari-harinya berubah saat dia menerima notes sindiran dari Lyla, cewek pemain selo Cewek populer yang ingin semua hal sempurna. Memang, sih, mereka berbagi pakai ruangan musik kecil: Tripp di tanggan ganjil dan Lyla di tanggal genap.
Namun, ternyata Lyla tidak seperti yang Tripp kira. Lyla bukan cewek yang menaikkan dagu saat berjalan di hadapan Tripp. Lyla bahkan jadi lebih sering berlatih gitar daripada selo. Tripp penasaran alasannya. Semenjak saat itu, notes yang bernada sindiran mulai berganti menjadi nada kedekatan.
Semenjak saat itu, ruangan kecil jadi pendengar setia lagu-lagu yang mereka ciptakan."

Curhat #3

0

Hatiku tak lagi mempedulikannya

Entah akan kau sebut apa Dia, aku tak peduli. Pria atau wanita, aku sudah tidak peduli. Karena aku tak ingin peduli lagi. Siapa Dia, Bagaimana Dia, Dimana Dia, Mengapa Dia. Aku tak ingin peduli. Namun, sekeras apapun aku tidak ingin mempedulikannya. Dia, selalu menemukan jalan menuju ke hatiku. Seteguh apapun aku tidak ingin mempedulikannya. Dia, selalu punya cara untuk menarik perhatianku lagi, kemudian aku peduli lagi. Begitulah dia.

27 Jan 2017

#Day9: Sebuah Surat

0

Surat ini tertulis tanpa pernah terkirim

"Tulislah sebuah surat untuk seseorang."

Entah kenapa aku tersenyum saat membaca tema no. 9, selama ini aku sering menulis surat tapi tak pernah terkirimkan. Sempat untuk mengambil salah satu surat tersebut untuk dipublish disini, tapi ada sekelebat perasaan yang menghalangi. Itu surat tidak fresh, jadi aku menulis surat yang lebih fresh, untuk seseorang, yang dulu pernah membuatku merasa hanya dia lah duniaku.

25 Jan 2017

#Day8: Fakta Tersembunyi

0


Seperti yang sudah diketahui khalayak umum, bahwa orang lain lah yang lebih mengetahui dan mengenal tentang pribadi seseorang. Namun terkadang ada yang orang lain tak diketahui bahwa pribadi yang dikenal ramah senyum itu bisa saja memasang fake smile di hadapan mereka. Hanya diri sendiri lah yang mengenal lebih dalam tentang pribadi sendiri. Yang nampak hanya di luar, yang tersembunyi tak diketahui.

24 Jan 2017

#Day7: Tidak Apa-Apa

0

Terus kuatkanlah dirimu, kita adalah motivator terhebat didunia ini.

"Tulislah tulisan yang dapat membuatmu merasa kuat."

Tulisan? Tulisan yang bisa membuat saya merasa kuat? Saya pernah membaca dari sebuah artikel seorang sahabat blog saya bahwa "Menulis adalah terapi jiwa." Saya tidak tahu siapa yang awalnya mengatakan kalimat itu, tapi satu kalimat itu membuat hidup saya lebih mudah. Saya yang notabene pribadi yang suka uring-uringan, galau sendiri, suka baper, memegang kuat satu kalimat itu dalam pikiran saya. Awalnya saya menulis untuk menuangkan kegundahan saya, untuk memperbaiki mood saya, untuk menghilangkan semua kepekatan dalam jiwa saya. Lalu, setelahnya saat saya berhasil menuangkannya dalam sebuah tulisan saya membacanya, dan ajaibnya saya merasa lepas begitu saja. Mood saya yang acak-acakan bisa normal kembali. Saat hati saya patah, saya menulis lalu membuangnya. Saat saya berada di titik terbawah, saya menulis lalu menyimpannya. Saat saya merasa saya bukan apa-apa, saya menulis untuk membesarkan hati saya sendiri.

23 Jan 2017

#Day6: Sebelah Mata Terbuka

2

Saya bangga dengan diri saya yang mereka remehkan.

Memasuki hari ke-6, Oh Tuhaaann..... semakin berat saja pertanyaannya. Ceritakan hal dimana kamu pernah membanggakan sesuatu sementara orang lain justru meremehkan. Meremehkan, saya tersenyum sekilas membaca kata itu. Meremehkan adalah salah satu makanan sehari-hari di hidup saya, diremehkan adalah salah satu motivasi saya menjadi lebih baik. Ya... saya kerap diremehkan, mereka kerap meremehkan saya. Dalam hal apapun itu.

22 Jan 2017

#Day5: Film Yang Tak Terlupakan

0


Sudah hari ke-5, dan temanya adalah menulis tiga film yang berkesan disertai penjelasan. Tiga film, semuanya sudah ada di dalam pikiran. Tidak butuh waktu lama untuk berpikir, tiga film ini berkesan sekali, film lama dan tentu saja saya diingatkan oleh kenangan-kenangan lama yang indah.

21 Jan 2017

Di sela-sela 2014: Testing Paralayang

1

Sebenarnya ini terjadi di sela-sela tahun 2014, dimana saat itu saya sering melangkahkan kaki seperti pada cerita disini, Agustus-September-Oktober dan perjalanan-perjalanan kecil lainnya diantaranya. Inilah salah satu perjalanan kecil itu, terjadi karena satu moment yaitu testing sepeda motor baru milik sahabat backpaker saya. Dia baru saja membeli motor baru dan mencobanya, kita langsung memilih Kota Batu, setidaknya tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat. Lagipula sahabat saya sudah pernah ke Paralayang jadi terpilihlah tempat itu.

Sayangnya kita berangkat kesiangan, pukul 08.00 daan sialnya lagi hari itu adalah hari libur dimana jalanannya yang ke arah Malang ampun macetnya. Saking capeknya karena macet, kita sempat memilih minggir ke ruko-ruko pinggir jalan untuk beristirahat sebentar. Apalagi motor baru, gasnya masih berat jadi terasa banget capeknya.

Lanjut jalan, sesampai di alun-alun Batu itu sudah terik banget, kita memilih makan dulu di pinggir jalan dekat alun-alun. Orangnya sudah mau tutup sebenarnya, tapi untuk dua porsi nasi pecel masih ada lah. Kita sambil tanya ke orang yang jual apakah masih jauh ke Paralayang, katanya masih lurus aja. Sahabat saya sih sebenarnya sudah tahu, cuma dia sedikit lupa jalannya belok ke arah mana.

Next. Abis makan kita menuju ke tujuan dengan menggunakan Google Map. Weleh, baru sekali itu tersasar gegara menuruti Google Map, jadi arah ke Paralayang diberitahu Google Map itu melewati tebing-tebing 😂 laah jadi kita naik motor tersasar sampai jalan setapak pinggir tebing, sumpah ngakak waktu itu sambil memundurkan motor. Gimana enggak, lahwong udah gak ada jalanan lagi. Iya bener sih cepat ke Paralayangnya tapi lewat tebing, huwahahaha.

Kita puter balik, cari jalan lagi sambil sahabat saya mengingat-ingat jalannya. Taraaa.... kita berada di jalan yang benar dan bukan jalan yang sesat 😂

Skip.




Sampai disana, saya memilih duduk di pinggir sekali, rada kebawah dari tempat nongkrong di paralayang. Hanya kita berdua disana, makan jajan yang dibawa dari rumah, mendengarkan musik lewat ponsel, sambil bercerita random. Sayangnya beberapa menit kemudian hujan datang, kita cepat-cepat ke warung-warung yang ada disana. Habis minum kopi dan makan mie, saya memilih tidur, capek banget.

Entah berapa lama saya tertidur, saat bangun hujan sudah reda, kita memilih berfoto sebentar sebelum akhirnya memilih kembali ke Surabaya.

#Day4: Kenangan Usang

0

Pertemuan pertama dengan kenangan yang usang

Khusus untuk tema hari ini sungguh membuat saya berpikir keras. Bukan karena saya bingung 'dia' yang dimaksud dalam pertanyaan itu siapa, bukan. Saya tipe orang yang mudah melupakan moment, apapun itu. Jadi yang membingungkan saya adalah pertemuan pertama saya dengan 'dia' itu yang mana? Dimana? Dan bagaimana terjadinya? Alasannya satu, saya lupa.

20 Jan 2017

#Day3: Resolusi Yang Tertunda

0

Apa yang paling aku inginkan?

Resolusi, saya baru mengenal kata ini beberapa tahun silam, saat tidak sengaja saya melalangbuana di artikel-artikel bertema tahun baru. Saya menyelidiki artinya, mengetahui kemudian. Sebelum-sebelumnya saya tidak pernah memberi resolusi pada hidup, saya hanya membatin tiap keinginan yang seharusnya bisa saya wujudkan di tahun-tahun itu, saya kira mungkin itulah resolusi meski saya tidak mengenalnya waktu itu.

19 Jan 2017

#Day2: Saya Histeris?

0


Kenapa harus saya kasih tanda tanya? Karena sejujurnya saya bukan tipe seseorang yang bisa dengan mudahnya berteriak histeris kala bertemu dengan idolanya. Bukan seperti itu, saya tipikal orang yang menyimpan semua histeria dalam batin. Bukan perkara jaim hanya saja saya tidak tahu bagaimana harus berteriak sehisteris seperti mereka karena entahlah saat melihat mereka semua berteriak saya merasa ngilu, bukan karena suaranya tapi setelah kehisterisan itu selesai yang tersisa hanya rasa capek dan bisa jadi kehilangan suara.

18 Jan 2017

Review Buku : Senja, Hujan & Cerita Yang Telah Usai

0

Tahun 2017 ini saya mencoba hal baru, mungkin bagi sebagian orang ini bukan hal yang baru, tapi bagi saya ini hal yang baru di blog ini. Sebelum-sebelumnya sih saya emang sudah suka sekali membaca, bahkan dari sejak di bangku SMP saya suka membaca, awalnya dari komik (tertular kakak yang suka baca komik) laluuu pas masuk SMK eh ternyata di perpustakaannya banyak buku yang ceritanya bagus-bagus yang gak cuma cerita seram (maklum pas SMP kakakku cuma beli novel horror). Dari situlah saya kenal dengan novel lalu mencoba membeli 1-2 novel, eh keterusan sampai sekarang.

#Day1 : Kekasih Yang Didambakan

0

Saya pernah sangat mendambakannya.

Saat saya membaca tulisan 'Kekasih yang Didambakan', entah kenapa mata saya berkaca-kaca, semua memori berkelebatan tak terarah. Tentang dia, tentang kamu, tentang saya, tentang semuanya. Saya pernah mendambakannya, sesosok lelaki yang tak patut diidam-idamkan. Bagaimana tidak? Saya yang mendambakannya sebegitu rupa, ternyata hanya sebuah persinggahan untuknya mereguk cinta yang menurutnya lebih indah. Dia yang saya dambakan, sesosok lelaki, tinggi, penuh cinta, perhatian, selalu membuat saya tersenyum. Ah, seperti kriteria yang saya dambakan, atau yang cocok mereka bilang sebagai tipe yang saya sukai.

11 Jan 2017

Air Terjun Irenggolo Kediri

1

Ini cerita saya lupa kapan, tapi seingat saya sewaktu ada liburan panjang di Tahun 2014 (kalau gak pas natal atau sebelum tahun baru), saya diajak sahabat saya ke desanya di Kediri. Sebenarnya desa ibu saya juga di Kediri, namun berhubung waktu lebaran sebelumnya gak pulang ke desa yasudah aku iyain ajah ajakan sahabat saya.

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com