13 May 2016

Hijrah - Perjalanan Hati

3

Aku memilih hijrah bukan karena apa atau karena siapa, tapi karena aku ingin lebih dekat dengan Allah.
Sebenarnya ini hanya curhat saja sih, mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada. Selama hampir beberapa hari ini hanya menatap laptop kosong, akhirnya saya berani menulis juga. Sebenarnya niatnya ingin menulis kali saja bisa menangis, hehe. Beberapa waktu lalu sebuah kenyataan menghantam saya hingga mencipta kernyit di dahi kiri. Saya bercerita kepada salah seorang sahabat saya, lalu menertawakan nasib saya, anehnya di tengah tawa saya justru menangis. Kemudian saya oleng, bahkan tidak ingat apakah yang terjadi adalah sebuah kenyataan atau hanya imajinasi saya, tapi sahabat saya yang lainnya lagi menemani saya bercerita, membuat saya menceritakan tentang kenangan, tiba-tiba saya terisak.

3 Mar 2016

Luka

2

Aku ingin mengusirnya pergi, tapi luka itu semakin lekat.

Rei kembali melirik jam di tangannya. Jarum panjang terlihat bergerak perlahan, satu menit lagi telah terlewati. Rei menghembuskan napas, berat, semua yang terjadi padanya terlalu berat untuk ia pikul. Stasiun Kota mulai ramai, seorang ibu-ibu sibuk menenangkan anaknya yang terus menangis, sekumpulan pemuda tertawa sambil berdiri. Rei mengalihkan pandangannya ke sudut lainnya, terlihat seorang pria dan wanita yang terdiam di kursi tunggu, menciptakan jeda, terlihat indah. Rei tersenyum, ia mulai teringat.

25 Jan 2016

Nona Kesepian #3

1

Kopi itu untukmu, bukan kopi pahit. Manisnya berasal dari kerinduan yang menumpuk.

Hai Tuan Besar yang suka tertawa. Sudahkah kamu bercerita perihal perasaanmu kepada Nona? Tidakkah kamu tahu Tuan? Nona memeluk erat duri rindu di setiap malamnya, membuat dinding-dinding hatinya robek, membuatnya bermimpi buruk. Ia selalu gelisah menunggumu Tuan, yang hanya datang di Hari Senin. Ada apa Tuan dengan Hari Senin? Mengapa engkau hanya muncul di Hari Senin. Menciptakan kehangatan di hati Nona, hanya sekejap, karena engkau menghilang sepekan kemudian. Dimana engkau bersembunyi Tuan? Tidakkah engkau mendengar namamu yang terus diucapkan Nona di setiap penghujung harinya? Ia yang terus mengaduk kopi, tidakkah engkau ingin mencicipi kopi itu Tuan? Terasa sangat pahit, karena bukan gula yang ia campur dalam kopi itu, namun kerinduannya padamu Tuan yang terus menumpuk hingga ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain mencampurnya pada kopi dan menyajikannya untukmu.

Nona Kesepian #2

1

Tetaplah berdiri didepanku, membelakangi dan jangan menoleh.

Hei kamu yang ada disana. Iya, kamu yang lagi berdiri dengan pongahnya, si Tuan Besar yang merasa dunianya selalu benar, si Tuan Besar yang dunianya tak pernah sepi, si Tuan Besar yang tidak menyadari telah menjatuhkan hati Nona hingga berkeping-keping, si Tuan Besar yang kemudian memilih pergi setelah itu. Tidak sadarkah kamu Tuan, ada wanita yang menunggumu disini, menunggu kamu berjalan ke arahnya, tapi nyatanya kedua kakimu seakan tertancap erat disitu, di tempatmu berdiri sekarang.
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com