20 Dec 2014

Pemikiran Saya (Seorang Introvert) Untuk Kamu (Seorang Ekstrovert)

2


Terkadang aku heran, darimana kalian bisa mendapatkan begitu banyak energi. Bersosialisasi, ke pesta, bercerita, seakan-akan dunia kalian begitu luas dan terlalu banyak energi yang terkuras sia-sia tapi anehnya kalian seperti tak kehabisan energi. Dan entah mengapa, aku merasa iri.


Kemudian aku mengenal kamu, seorang ekstrovert sejati. Selalu dikelilingi oleh banyak teman, tak pernah bisa diam di satu tempat dalam waktu lebih dari 10 menit, selalu banyak energi hingga sepertinya tak akan pernah habis. Seorang pekerja keras, bahkan aku tak pernah sekalipun mendengarmu mengeluh meski kamu baru pulang dari dinas luar kota lalu langsung kerja dan pulangnya kuliah. Aku hanya sekali melihat muka letihmu, tapi kamu lagi-lagi sepertinya tak kehabisan tenaga karena kamu terus bercerita tentang segala hal hingga aku lupa untuk memberitahumu apa yang telah kulihat. Aku hanya bisa mengirimimu pesan sms bahwa aku melihat keletihanmu, seperti yang pernah kukatakan matamu tak pernah bisa berbohong dihadapanku. Dan kamu hanya tertawa setelah melihat pesan sms itu, sungguh aku masih heran darimana asal energi itu.

Aku pernah merasa cemburu, ketika melihatmu berjalan menghampiri ke teman-teman wanitamu padahal saat itu aku masih ingin bersamamu. Aku juga pernah merasa tersisihkan ketika aku datang ke tempatmu bercengkerama dengan teman-temanmu, aku berharap kita bisa mengobrol waktu itu tapi ternyata aku melihatmu lebih fokus kepada teman-temanmu dan seakan tak mempedulikan aku. Aku lebih memilih pergi saat itu, karena aku merasakan terlalu banyak energi disekitarmu, aku merasa tertekan. Aku masih cemburu ketika kamu pergi mendatangi seorang wanita yang memanggil nickname'mu lalu menyuruhku untuk pulang duluan padahal waktu itu aku masih ingin mendengarmu bercerita sambil berjalan ke arah parkir motor. Dan aku masih cemburu meskipun aku tahu bahwa kamu adalah seorang ekstrovert sejati, seharusnya aku memaklumi semua kelakuanmu. Tapi yaa.... aku hanyalah aku, seorang intovert yang masih belum memahami tentang duniamu, dunia ekstrovert.

Aku masih suka mendengarmu bercerita, aku mendengarkan setiap detail ceritamu, memperhatikan bahasa tubuhmu, menikmati sinar matamu, entahlah aku suka melihat matamu karena terlihat begitu jujur. Aku merasa terpukau ketika kamu mulai bercerita tentang pengetahuanmu, duniamu, dan segala tetek bengek permasalahan yang ada di lingkunganmu.

Kamu pernah mengatakan ingin sekali mengetahui cara berpikirku, saat itu aku hanya diam menatapmu tak percaya dan kemudian aku berkelit. Sungguh, aku tak ingin kamu memasuki duniaku, aku sudah cukup senang hanya dengan melihat duniamu tanpa perlu kamu mencoba mengetahui cara berpikirku. Itu sama saja menelanjangiku, dan aku tak mau.

Terkadang, aku merasa marah ketika aku tahu kamu terlalu sibuk dengan lingkunganmu. Ketika kita hanya berdua saja, aku merasa sangat istimewa karena bisa merasakan energimu untukku sendiri. Lagi-lagi kamu bercerita, namun malam itu terasa berbeda. Kamu tidak bercerita tentang tetek bengek permasalahan yang ada di lingkunganmu, kamu bercerita tentang aku dan kamu, kamu bercerita tentang perasaan. Malam itu sungguh malam istimewa untukku, aku melihatmu fokus hanya untukku seorang, sinar matamu teramat indah, dan energimu lagi-lagi tak terkuras meski saat itu kamu baru saja selesai bermain basket dengan teman-temanmu. Malam itu merubah segalanya.

Aku mulai berkutat dengan segala pemikiranku, menganalisa segalanya tentang kamu, cerita-ceritamu, kelakuanmu. Bahkan aku membutuhkan waktu yang lama untuk menganalisa semua fakta yang ada, aku memilih menarik diri.

Aku masih ingat tentang pernyataanmu yang ingin mengetahui cara berpikrku, aku tak akan mengijinkanmu masuk ke duniaku. Jika memang perasaan itu serius seperti yang kamu ungkapkan, maka cukuplah kamu berada di sisiku tanpa berusaha untuk lebih dalam masuk kedalam duniaku, kamu bercerita apa saja seperti yang selama ini terjadi, lalu aku akan merasa bahwa semua akan baik-baik saja.

Tapi semua sudah terlanjur, aku lebih memilih menarik diri. Aku tak akan mencoba untuk mengorbankan segala kenyamananku untuk dimasuki oleh seorang ekstrovert seperti dirimu. Namun, sampai detik ini aku masih mengagumi energimu yang seakan-akan tak pernah habis. Aku masih ingin berada didekatmu, mendengarkan ceritamu, melihat sinar matamu, merasakan energimu, mengamati setiap gerak tubuhmu ketika bercerita. Tapi sepertinya aku tak akan lagi bisa mendengarmu bercerita, karena aku dan kamu sama-sama menarik diri.

2 comments:

  1. Sedih bacanyaaaa.....
    Extrovert dan Introvert sebenernya bisa saling melengkapi loh. Tapi butuh pengertian dan momen yang banyak untuk bisa sampai ke titik itu. hehehehe...

    -Ninneta-
    http://moody-ninneta.blogspot.com/2014/12/almost-there.html

    ReplyDelete

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com