23 Mar 2017

Review Buku: Trilogi Soekram

0


Judul : Trilogi Soekram
Penulis :  Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015
Halaman : 283
Bintang : ★★☆☆☆

"Saudara, saya Soekram, tokoh sebuah cerita yang ditulis oleh seorang pengarang. Ia seenaknya saja memberi saya nama Soekram, yang konon berasal dari bahasa asing yang artinya - ah, saya lupa. Tapi sudahlah. Apa pun nama saya, saya harus menerimanya, bukan? Pengarang itu sudah payah sekali kesehatannya, kalau tiba-tiba ia mati, dan cerita tentang saya belum selesai, bagaimana nasib saya - yang menjadi tokoh utama ceritanya? Saya tidak bisa ditinggalkannya begitu saja, bukan? Saya mohon Saudara berbuat sesuatu.


Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono berkisah tentang tokoh Soekram yang tiba-tiba loncat keluar dari cerita dan menggugat sang pengarang. Mengapa ia tak selesai ditulis. Mengapa ia tak bisa menentukan jalan ceritanya sendiri. Mengapa ia tak bisa menjadi pengarang. Mengapa kisah cintanya disusun dengan rumit. Antara Soekram dan Ida, Soekram dan Rosa, Soekram dan istrinya (tentu saja). Sejumlah pertanyaan itu membungkus kisah Soekram yang mengambil latar di kampus, rumah tangga, dan peristiwa huru-hara Mei 98. Novel karta penyair besar Indonesia ini menunjukkan hubungan paling kompleks sekaligus paling sejati antara pengarang dan tokoh di dalam tulisannya."

Sebelumnya maafkan saya yang memang kapasitas otak dibawah rata-rata sehingga tidak bisa mencerna tulisan sastra dari Bapak Sapardi dengan baik. Saya membaca buku ini dari Aplikasi iJak, perpustakaan digital Jakarta secara gratis. Jadi sistemnya, kita minjam buku, jika buku tidak sedang banyak yang antri maka kita bisa langsung pinjam, didownload dalam bentuk pdf tapi masih di dalam aplikasi tersebut. Dibatasi waktu tiga hari, setelah tiga hari maka kita tidak bisa membaca lagi karena otomatis daftar buku kita menghilang.

Skip tentang iJak, jadi saat saya membaca Buku Trilogi Soekram, awalnya saya kira ada tiga buku ternyata Trilogi Soekram menceritakan tiga kisah dengan tokoh utama yang sama yaitu Soekram dalam satu buku. Terdapat tiga bab juga yaitu Pengarang Telah Mati, Pengarang Belum Mati, Pengarang Tak Pernah Mati.

Cerita pertama mengisahkan Soekram, tokoh utama yang tidak terima bahwa pengarangnya mati, bahkan sudah dikuburkan. Ia mendatangi sahabat pengarang untuk melihat dan meneruskan cerita, tentu saja atas usul cerita dari Soekram sendiri. Sehingga di cerita pertama adalah cerita dari pengarang yang belum selesai, tentang Soekram yang seorang dosen, sudah menikah, namun mempunyai hubungan gelap dengan Ida. Ia juga mulai menyukai mahasiswanya bernama Rosa. Ah Soekram disini, adalah sesosok lelaki biasa yang mudah jatuh cinta namun memegang kuat idealismenya. Dia tidak mau ikut-ikutan, karena settingnya saat Mei 98. Aku lebih suka Soekram di cerita pertama ini, karena Soekram disini digambarkan sebagai lelaki yang bijak, tidak melulu menuruti nafsu dan lingkungan yang huru-hara, ia lelaki yang masuk akal, menurutku.

"Suasana di tanah air terasa semakin panas. Kami di sini seperti hanya melakukan tindakan demi tindakan, tanpa sepenuhnya tahu untuk apa. Dan ke mana arahnya. Dan apa kelanjutannya. Dan mahasiswaku, anak-anak cerdas yang selalu tampak bersemangat itu. Mereka nanti mendapat apa dari itu semua?" (Hal. 71-72)

Berikut cuplikan dari surel Ida yang dikirimkan ke Soekram.

"Aku mencintaimu, Kram. Tidak peduli kau sudah beristri dan punya anak. Aku punya hak untuk mencintaimu, seperti halnya-tentu saja-istrimu." (Hal. 42)

"Aku mencintaimu, Kram. Ah, film. Tapi aku memang mencintaimu dan tidak ingin kau menceraikan istrimu dan meninggalkan anakmu. Kau tahu itu. Dan aku juga merasakan kau mencintaiku, meskipun sama sekali tidak ingin menceraikan istrimu karena kau memang mencintainya. Mungkin benar, laki-laki bisa mencintai beberapa perempuan sekaligus, tapi aku tak bisa. Aku perempuan. Dan akan tetap hanya mencintaimu." (Hal. 42)

Dan berikut jawaban Soekram kepada Ida.

"Kau tentu tahu makna sebuah keluarga, setidaknya dari apa yang sering diocehkan profesor sinting itu. Oasis yang dengan sabar menunggu pengembara yang menempuh perjalanan dan mungkin tersesat, di padang pasir. Pengembara selalu saja membayangkan oasis semacam itu, meskipun sering kali hanya, sayang sekali, menemukan oasis lain." (Hal. 71)

Cerita kedua berkisah tentang Soekram yang masih menjadi mahasiswa sekaligus aktivis. Sebenarnya saya tidak begitu memahami isi cerita kedua, disini Soekram harus mencari sebanyak-banyaknya orang untuk masuk ke dalam organisasinya. Idealismenya masih ada namun mulai terkikis, karena secara realita terkadang memang idealisme itu tidak diperlukan masyarakat kebanyakan. Itu yang saya tangkap disini, terkadang kita hanya perlu melakukan apa yang sudah tradisi.

"Tidak ada apa pun di dunia ini selain yang kosong, sebab hanya dalam yang kosong itulah kita menemukan isi. Isi, dengan demikian hanya bisa ada bersama yang kosong, wadahnya. Bukankah langit kosong tetapi isi? Dan bukankah hatimu penuh dengan isi tetapi kosong?" (Hal. 112)

"Ucapkan terima kasih kepada jalan, meskipun tidak akan pernah membawamu ke suatu tujuan yang jelas." (Hal. 100)

Lalu beranjak ke cerita ketiga, disini Soekram benar-benar tidak setuju dengan cerita kedua. Ia mengambil alih penuh cerita ketiga, ia ingin menjadi pengarangnya sendiri. Ia bahkan menghadirkan Datuk Maringgih (atau Datuk Meringgih), Siti Nurbaya, Kartini, Sena, Parta, bahkan Marah. Namanya juga Soekram, tokoh utama cerita yang membuat ceritanya sendiri, jadi ya suka-suka dia. Dikisahkan Soekram yang mulai menyukai Siti Nurbaya, namun Siti Nurbaya telah jatuh hati kepada Datuk Meringgih karena perjuangannya. Ketika justru Siti Nurbaya dan Datuk Meringgih memilih pergi bersama, disinilah Marah muncul menghentikan usaha Soekram yang mengejar mereka. Ia mengatakan bahwa Siti Nurbaya dan Datuk Meringgih itu sudah mati, janganlah dicari lagi.

Intinya dari buku ini yang saya tangkap, bahwa kita tidak bisa memaksakan keinginan kita seenak jidat. Ada aturan yang berlaku, ada "Pengarang Yang Agung" yang sudah menentukan cerita kita. Kita hanya perlu melakukan tugas kita, jangan sok-sok membuat jalan cerita sendiri, itu sudah ada pengarangnya sendiri. Entah saya yang lagi down atau apa, tapi saya memahami buku ini seperti itu. Terlepas dari ceritanya, saya suka gaya bahasa Bapak Sapardi, tentu saja, tak diragukan lagi. Serta ide yang diambil, bagaimana bisa seorang tokoh utama sebuah cerita malah mengarang kisahnya sendiri. Jadi teringat sama Drama Korea W, yang pecinta Drakor pasti tahu.😂

0 orang yang sudi mengomentari:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com