14 Mar 2017

Review Novel: Seri Dilan

0

Ini sebenarnya aku baca buku dalam bentuk digital, jadi aku dikasih e-book sama adikku, katanya dia dapat dari salah satu kawan sekolahnya dan katanya lagi kawannya ini dapat e-booknya beli. Oke, walaupun sebenarnya aku lebih suka baca buku aslinya tapi no problemo laah, kali lain mungkin aku bakal beli buku aslinya meski saat ini masih baca versi e-booknya.


Review kali ini langsung aku jadikan satu post, ada tiga buku dalam seri dilan ini. Berarti kalau dihitung-hitung, sampai sini aku sudah membaca 7 buku. 😀 Eh katanya sih ya, tokoh Milea pada buku ini ada aslinya dan cerita ini diambil dari kisah nyata remaja SMA di Tahun 1990-an, kalau begitu pas aku berumur 1 tahun dong. Namun entah kenapa cara berbicara tokoh-tokohnya tidak menyiratkan tahun 90-an, menurutku pribadi nih... tidak ada istilah-istilah 90-an yang dipakai, padahal awalnya aku kira bakalan membaca buku yang banyak istilah remaja 90-an. Tapi justru lebih ke jaman sekarang, atau emang Pidi Baiq menyesuaikan dengan jaman sekarang. Meski begitu, mengena banget ceritanya. Aku suka karena ada ilustrasinya juga, dan ilustrasinya itu khas 90-an banget. Aku juga suka puisi-puisi yang dibuat Dilan, puisinya khas puisi Dilan, jadi gak menye-menye banget, lucu, tapi mengena di hati.

#1. Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990

Judul : Dilan dia adalah Dilanku tahun 1990
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Mizan
E-book didistribusikan oleh Mizan Digital Publishing (MDP)
Halaman : 333
Bintang : ★★★★☆

"Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan." (Pidi Baiq. 1972-2098)

Dalam buku pertama menceritakan tentang Milea Adnan Hussain atau biasa dipanggil Dilan sebagai Milea Saddam Hussain. Jadi Milea ini seakan bercerita kepada Pidi Baiq untuk kemudian dituliskan ulang oleh Pidi Baiq, sehingga jadilah buku yang bisa kita nikmati kisah-kisahnya bersama Dilan. Aku suka gaya berceritanya, seakan aku mendengar langsung Milea bercerita, dan aku gak bosan. Tapi dalam buku pertama ini masih cerita-cerita awal bagaimana Dilan melakukan pendekatan-pendekatan ke Milea.

Milea ini pindah ke Bandung, murid pindahan dari Jakarta. Yang aku suka cara kenalannya Dilan itu langka banget, pakai acara meramal segala. Naah, Dilan itu siswa di Sekolah baru Milea di Bandung, dia anak motor. Jadi, cara-cara Dilan untuk melakukan pendekatan ke Milea itu benar-benar cara-cara yang langka. Dari Dilan yang datang ke rumah Milea mengundang Milea untuk sekolah selama enam hari berturut-turut, datang ke rumah Milea sebagai perwakilan kantin hanya untuk menemui ayahnya, menjatuhkan papan pembatas kelas hanya karena Dilan ingin mengintip Milea di kelas sebelahnya. Dan percakapan-percakapan yang dilakukan Milea dan Dilan itu seakan gak ada matinya.


Cara mengungkapkan jatuh cintanya ke Milea juga unik banget menurutku. Benar-benar Pidi Baiq mengemas cerita yang keren dengan karakter Dilan yang unik dan dambaan. 😂

"Pemberitahuan: Sejak sore kemaren, aku sudah mencintaimu - Dilan!" (Hal. 38)

"Selamat Ulang Tahun, Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu, aku tidak mau kam pusing karena harus mengisinya. Dilan!" (Hal 72)

Bayangin, Milea ulang tahun malah dikasih kado TTS yang udah diisi semuanya dengan tulisan seperti itu. Aku bacanya aja lumer banget, beruntung banget jadi Milea. Iya aku sampai mikir kayak gitu. Atau yang ini :

"Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu. Nanti, besoknya, orang itu akan hilang!" (Hal. 96)

Di buku ini kita jadi tahu sudut pandang Milea, karena dia membeberkan semuanya. Dia yang tidak suka dengan geng motor yang menurutku alasanya memang masuk akal, tapi dia juga memberikan alasan lain kalau misal ada yang tidak setuju dengannya. Jadi berasa kayak ngobrol sama Milea.

Selain tokoh Dilan, aku juga suka tokoh Bunda disini. Beliau adalah tokoh yang bijaksana dan menyenangkan menurutku. Bunda ini ibunya Dilan, dan pemikirannya (menurutku kalau memang settingnya 90-an) itu modern banget, mengingat terkadang pemikiran ibu-ibu jaman itu masih kolot. Ibunya Milea juga, atau mungkin karena Keluarga Milea dan Keluarga Dilan adalah keluarga angkatan sehingga para ibu-ibu ini adalah ibu-ibu yang bijaksana.

Buku ini selesai dengan akhir cerita yang bikin senyum ini gak mau lepas dari bibir, karena akhirnya mereka jadian dan jalan-jalan meski Dilan kudu bertengkar hebat dulu sama Anhar karena Anhar sudah berani nampar Milea. Aw, so sweet banget Dilan, aku suka gayamu.

#2. Dilan dia adalah Dilanku Tahun 1991
 Judul : Dilan dia adalah Dilanku tahun 1991
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books
E-book didistribusikan oleh Mizan Digital Publishing (MDP)
Halaman : 345
Bintang : ★★★★☆

"Aku tidak ingin mengekangmu, Terserah! Bebas kemana engkau pergi! asal aku ikut." (Pidi Baiq. 1972-2098)

Untuk buku kedua, ceritanya tentang Milea dan Dilan yang sudah pacaran. Dan uniknya, cara Dilan meresmikan hubungan mereka adalah dengan proklamasi bermaterai lengkap dengan tandatangan Dilan dan Milea.

Proklamasi
Hari ini, di Bandung, tanggal 22 Desember 1990, Dilan dan Milea, dengan penuh perasaan, telah resmi berpacaran.
Hal-hal mengenai penyempurnaan dan kemesraan akan diselenggarakan dalam tempo yang selama-lamanya.

Disini hubungan mereka diuji, disini dibutuhkan pengorbanan yang besar. Dan disini pula kita tahu sifat masing-masing. Di buku kedua Milea meminta pemakluman atas apa yang sudah diperbuatnya kepada Dilan. Saya maklum sih, karena mempunyai pacar yang ikut geng motor terus tawuran, nyerang sekolah (meski untuk mempertahankan harga diri), Milea pasti cemas dan kecemasan itu ia ceritakan secara mendetail disini. Saya juga maklum dengan Dilan, seorang remaja laki-laki yang mempunyai letupan-letupan emosi yang sedikit sulit dikendalikan.

"Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah." (Pidi Baiq. 1972-2098)

"Asal kamunya tetep ada di bumi. Udah cukup, udah bikin aku seneng." (Hal. 24)

"Kalau aku jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf, aku pasti tidak bisa karena aku cuma suka Milea." -Dilan (Hal. 30)

"Cukup Tuhan, Orangtua, dan Kamu (tambah nasi tutug)." (Hal. 226)


Jadi disini Dilan serasa dikekang sama Milea, jadi disini semua pemikiran mereka tidak selaras lagi, dan akhirnya mereka berpisah. Yang membuatku sebagai pembaca merasa gemas adalah ketika Dilan tidak lagi mencoba menghubungi Milea lagi, padahal Milea seringkali menghubungi Dilan. Meski saya maklumi juga dengan apa yang dilakukan Dilan, tapi saya toh juga merasa gemas ketika akhirnya Milea kembali ke Jakarta dan memilih orang lain di tempat kuliahnya untuk menjadi kekasihnya hanya demi melupakan Dilan. Meski Dilan masih belum mempunyai kekasih saat itu, dan masih memikirkan Milea. Tetapi mereka justru bertemu saat reuni, mengobrol lagi ketika Milea sudah mempunyai tunangan. Ah, itulah jodoh, misterinya justru terungkap di akhir cerita. Milea dan Dilan tidak ditakdirkan berjodoh, meski sempat merencanakan segalanya.

#3. Milea Suara dari Dilan
  Judul : Milea Suara dari Dilan
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books
Halaman : 355
Bintang : ★★★☆☆

Buku ketiga yang bisa jadi buku terakhir dari seri Dilan. Ini adalah cerita versi Dilan, di buku ini kamu akan lebih mengenal Dilan dari gaya berceritanya. Dilan itu memang orangnya nyeleneh, kalau ngomong suka ceplas-ceplos, dan menyenangkan. Di buku ini kamu akan memahami mengapa Dilan seperti itu dan seperti ini, kamu akan lebih memaklumi dengan keputusan Dilan saat itu. Disini kamu akan lebih mengenal sahabat-sahabat Dilan, kehidupan Dilan layaknya remaja yang lebih mementingkan sahabat ketimbang pacar.

"Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu." (Pidi Baiq)

Dalam buku ketiga ini, tidak semua cerita yang diceritakan oleh Milea diceritakan ulang sama Dilan. Tidak, disini Dilan hanya memberi tambahan cerita dari sudut pandangnya dan hal-hal yang belum dicritakan Milea serta perasaan-perasaan Dilan ke Milea. Jadi ada banyak puisi Dilan di buku ini, untuk Milea. Serta ada satu puisi untuk pacar baru Dilan waktu itu, namanya Cika.

HAI
Kamu memiliki semuanya
Seorang gadis di hujan September
Tetap cantik meskipun bersin!
Tapi harus kamu yang mau ke aku
Seorang lelaki bergerak di atas tanah
Otaknya lebih besar dari simpanse
Semua milikmu untuk siapa, Nona?
Untuk dia yang bisa membuat kamu senang
Karena dia yang aku maksud adalah aku
Jadi mari kita kerja sama
untuk sebuah rencana asmara.
(Hal. 129)

KEKUATAN
Kalau kamu adalah kekuatan, aku adalah Dilan
Kamu sudah masuk ke mataku, meskipun aku ngantuk
Masuk lebih jauh semakin membantuku
Itu membuat darahku jadi berani kepadamu
aku ingin tenang membawamu kalau kau mau
berdua bersama kerak telor gratis
Kamu boleh pilih di Dago atau di Sorga
(Hal. 132)

JUMAT SORE
Rindu sudah sampai di kepala,
menyerang jantung dan sampai usus.
Aku dalam keadaan darurat,
Hai, Scooby-Doo, jangan bercanda
Bisakah aku bertemu dengan Lia?
Memberi aku tempat berlindung
Dari godaan sunyi yang terkutuk.
(Hal. 171)

PENELITIAN
Menurut hasil penelitianku sendiri
kecepatan rindu menjadi sangat tinggi
dari waktu ke waktu menjadi lebih kuat
menjadi lebih cepat dari kecepatan cahaya
untuk memasukkan sebagian besar dirimu
ke dalam kepalaku!
(Dilan, 1991)
(Hal. 333)

CIKA
Cika, Cikawao. Cika, Cikalong Wetan.
Cika, Cikadut Atas. Cika, Cikarang Selatan. Cika,
Cikaso Banjarsari. Cia, Cikahuripan. Cika, Cikajang
Garut. Cika, Cikakak Sukabumi. Cika, Cikao Purwakarta.
Cika, Cikaomuning. Cika, Cikampek Pantura.
Cika, Cikande Serang. Cika, Cikapundung Electronic
Centre. Cika, Cikapayang Dago.
Cika, Cikawung Pandeglang. Cika, Cikawao Motor.
Cika ada di mana-mana. Cika juga di dalam kepalaku.
Cika juga di dalam semua perasaan riangku.
(Hal. 341)

Di buku ketiga ini hanya aku beri bintang tiga, karena memang seperti hanya berisi klarifikasi dari Dilan dan pelengkap cerita Milea yang kurang-kurang, sehingga semua puzzle atau pertanyaan-pertanyaan yang muncul terjawab di Buku ketiga. Seandainya buku ketiga tidak muncul pun, menurutku Buku 1 dan 2 sudah benar-benar mengena di hati, sehingga pertanyaan yang tidak terjawab tentang kehidupan Dilan dan Milea lebih lanjut memberi kesan misterius, dan aku pribadi lebih suka cerita yang seperti itu seakan-akan mengajak pembaca untuk berimajinasi sendiri bagaimana kehidupan mereka selanjutnya. Tapi, dengan adanya buku ketiga kita seperti diajak untuk lebih bersikap bijak dalam mencerna cerita Dilan dan Milea, memaklumi atas apa yang telah terjadi, memaklumi keputusan-keputusan remaja. Aku juga pernah remaja, dan aku maklum. Toh, yang namanya jodoh tidak bisa dipaksa.

0 orang yang sudi mengomentari:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com