4 Mar 2017

Review Buku: Merajut Rahmat Cinta

0


Judul : Merajut Rahmat Cinta
Penulis : Hasyim El-Hanan
Penerbit : Bunyan
Tahun Terbit : 2013
Harga : -
Bintang : ★★☆☆☆

"Sebagai seorang muslimah, aku menyadari bahwa diriku harus menjaga pandangan. Tetapi, menatapnya sekilas tanpa sengaja membuat hatiku bergemuruh. Lelaki itu, santri kesayangan Abah, yang tutur katanya santun, tetapi suaranya menggelegar saat berceramah. Lelaki itu telah mencuri hatiku. - Tazkiya
Gadis itu bahaikan bidadari yang membuatku terpesona. Aku nyaris tak mampu mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Kurasa aku telah jatuh cinta. Tetapi takdir mempertemukan aku dengan perempuan lain yang wajib kujaga, sang muhajirah. - Fatih
Lelaki itu penyelamat hidupku. Dialah yang membantuku berdamai dengan masa lalu dan menuntunku kembali ke jalan-Mu. Betapa pun aku mencintainya, tetapi aku sungguh tak ingin menjadi beban baginya. Karena sesungguhnya cinta yang paripurna adalah mencintai karena-Mu. - Shilvi"


Buku Ketiga yang selesai terbaca di Tahun 2017, buku islami. Masih buku hasil pinjam ke sahabat saya, sehingga harganya tidak tercantum. Dalam review saya, saya memberikan bintang tergantung dari selera saya sebagai pembaca. Jadi, ketika saya merasa ceritanya kurang suka atau monoton, terkadang saya masih mencari kelebihan buku tersebut, misalkan pelajaran apa yang ada dalam buku tersebut. Seperti kali ini, jujur ceritanya tidak menarik, tapi ada banyak hikmah yang diambil sehingga saya kasih bintang 2 untuk mewakili pelajaran-pelajaran yang ada dalam buku ini.

Bercerita tentang perjalanan hidup Fatih, seorang santri di Raudhatul Muhtadin, pesantren tua di Cipare, Serang. Membaca buku ini seperti mempelajari kesabaran seorang santri, mempelajari dalam berteman dengan yang bukan muhrim, mempelajari bagaimana seseorang memilih percaya kepada Allah SWT, menebalkan iman kita. Banyak pelajaran yang ada di dalam buku ini, hanya saja untuk semua kejadiannya seakan-akan terlalu dipaksakan.

Di dalam kehidupan Fatih, setelah keluarganya meninggal dunia disebabkan musibah badai, ia bekerja mencari nafkah sendiri yang akhirnya membuatnya harus meninggalkan pesantren. Di Jakarta, ia bertemu Shilvi, seorang gadis penjaja cinta yang memilih hijrah menjadi lebih baik. Shilvi yang menikah dengan Fatih kemudian harus merasakan kepahitan lagi, ia diculik oleh anak buah mucikari, dan meninggal dunia di tangan si penculik. Fatih yang sudah mencari, akhirnya memilih kembali ke pesantren karena dipanggil oleh Kyai di Pesantren untuk kemudian menikahkannya dengan Tazkiya anaknya.

Menurutku, cerita dalam buku ini membuat capek pembaca, seakan-akan dalam hidup Fatih kebahagiaan hanya datang di akhir cerita.

Beberapa kalimat yang membekas di hati adalah tutur kata Fatih kepada Rahmah, seorang santriwati yang menyukai Fatih. Sebenarnya Rahmah ini diceritakan sebagai saudara kembar Shilvi, hanya saja dalam buku ini tidak diceritakan secara mendetail. Seandainya Rahmah dan Shilvi dipertemukan maka pasti buku ini akan mengundang tangis haru pembaca, sayangnya tidak, sehingga cerita Rahmah dan Shilvi adalah cerita yang berbeda meskipun keduanya mempunyai hubungan dengan Fatih. Dan Fatih yang tidak bisa menangkap kesamaan Shilvi dengan Rahmah tidak mengetahui fakta tersebuh, hanya saja di dalam cerita pembaca harus menduga-duga sendiri.

"'Alaikissalam. Maaf, aku baru baca SMS2-mu. Kalo blh aku sarankan, luruskan hatimu, cinta hanya memanjangkan angan. Sebaiknya simpan cintamu, dan berikan kpd seseorang yang Allah jodohkan untukmu kelak. Itu akan menjaga kemuliaanmu... Semoga Allah bersamamu!" (Hal. 96)

"Jatuh cinta adalah hak, sementara memelihara diri adalah kewajiban. Aku hanya merasa diriku ini adalah makhluk dhaif. Kapan saja, kelemahan bisa melalaikanku dari kewajiban. Aku hanya bisa berusaha memelihara diriku di mata Allah. Dan, bagiku tidak ada cinta yang diturunkan Allah di antara sepasang manusia, selain kepada sepasang suami istri." (Hal. 104)

Dari buku ini saya jadi mengerti arti sebenarnya dari Ta'aruf, apalagi mengingat sekarang banyak sekali yang memplesetkan makna sebenarnya dari Ta'aruf. Mereka berkata ta'aruf tapi berdua-duaan seperti orang berpacaran. Sungguh, ironis sekali.


"Taaruf itu dilakukan oleh muhrim kedua belah pihak. Keluarga, kerabat, atau sahabat yang memfasilitasi perkenalan. Biasanya diawali dengan cerita mengenai orang yang bersangkutan, kemudian menunjukkan foto. Setelah keduanya bersedia, mereka dipertemukan untuk menyepakati hubungan selanjutnya. Ada juga yang langsung melakukan pinangan. Tidak ada interaksi langsung berdua-duaan seperti muda mudi zaman sekarang. Taaruf bertujuan untuk menjaga kemuliaan hubungan antara lelaki dan perempuan sebagai awal terbentuknya rumah tangga yang sakinah." (Hal. 13)

Saya garis tebal pada kalimat Tidak ada interaksi langsung, memang seharusnya seperti itu. Tapi saya menghargai benar pendapat sahabat-sahabat saya yang memilih mengenali calonnya dengan berduaan, asalkan menuju ke kebaikan. Tujuannya sama, hanya caranya yang berbeda. Kalau bisa, diperbaiki lagi caranya. 😁

0 orang yang sudi mengomentari:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com