21 Jan 2017

#Day4: Kenangan Usang

0

Pertemuan pertama dengan kenangan yang usang

Khusus untuk tema hari ini sungguh membuat saya berpikir keras. Bukan karena saya bingung 'dia' yang dimaksud dalam pertanyaan itu siapa, bukan. Saya tipe orang yang mudah melupakan moment, apapun itu. Jadi yang membingungkan saya adalah pertemuan pertama saya dengan 'dia' itu yang mana? Dimana? Dan bagaimana terjadinya? Alasannya satu, saya lupa.


Saya berpikir, 'dia' yang dimaksud adalah 'dia' yang sulit dilupakan. Hmm.... 😂 dia sudah terlupa, bahkan momentnya saja sudah terlupa. Saya terus menggali kenangan, mencari sesuatu yang bisa mengingatkan saya pertemuan pertama. Pertemuan pertama, Oh Tuhan.... saya benar-benar lupa. Namun entah kenapa, salah satu kenangan menarik-narik ingatan saya, memaksanya untuk melihat satu kenangan itu. Kenangan yang usang bergabung dengan kenangan baru.

'Dia' yang ada dalam kenangan itu adalah seorang kawan lama yang bahkan baru saja saya kenal, yang sempat sesekali menarik mata saya untuk melihat cahaya terang dari sinar matanya, yang sempat menghipnotis saya untuk terus masuk ke dalam gulungan cahaya matanya. Saya sempat terpukau, saya mengingatnya, ya... saya mengingatnya, kenangan itu mengingatkan saya.

Kenangan itu berputar-putar dalam ingatan saya, saya menyerah. Iya, saya akan ceritakan. Saya melihatnya saat semester awal kuliah. Sebelumnya saya sempat mendengar dia berbicara, ada ciri khas dari gayanya berbicara. Lalu saya dipertemukan saat akan masuk ke kelas, karena kelas masih dipakai saya memilih menunggu di tangga depan kelas. Duduk sembari menunggu kawan saya, dia bersama temannya duduk di tangga belakang saya. Dia berbicara, saya tahu itu adalah seseorang yang punya ciri khas saat berbicara, saya menoleh bertanya "Asalnya mana?" Dia menjawab salah satu kota di Jawa Timur (saya merahasiakannya karena takut dia membaca 😁)

Beberapa tahun kemudian, saya kembali lagi bertemu dengan dia. Ciri khasnya sama, gayanya sama, namun ada yang berbeda, sinar matanya tajam. Saya masih ingat pernah bertemu dulu sewaktu semester awal namun tidak tahu namanya. Saya memperhatikannya saat dia berbicara dengan kawannya, tertawa, dengan ciri khas yang kental sekali. Kita hanya berbincang sambil lalu, dan saya tetap tak tahu namanya.

Tapi entah kenapa di sore itu, pertemuan pertama saya setelah saya hijrah. Saya diseret masuk ke sinar mata yang tajam itu, saya sempat tertegun saat dia tersenyum ke arah saya. Saya hanya tersenyum sekilas, merasa malu. Tak ada pembicaraan, hanya pandangan mata yang sesekali tercuri. Saya baru mengenal namanya saat malam harinya ketika salah satu sahabat saya menyebut sebuah nama yang ternyata itu miliknya. Saya baru mengetahui tentang dia beberapa hari kemudian, dengan minat yang sama, dengan kegemaran yang sama, impian yang sama. Namun satu hal yang membuat saya tidak berani menguntai harapan bahwa ternyata dia terkenal di kalangan wanita.

Semoga, dimanapun kamu berada, saat kamu merasa bahwa tokoh yang saya ceritakan itu adalah kamu. Saya harap kamu menjadi lebih bijak.

PS: tulisan ini diikutsertakan pada event #10Days Writing Challenge yang diadakan oleh Kampus Fiksi.

0 orang yang sudi mengomentari:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com