17 Dec 2009

Di Bangku Sudut Taman itu

48


Aku menunggumu, selalu menunggumu, disini di bangku taman ini. Walau hari ini kau tak datang lagi seperti hari-hari sebelumnya, tapi aku tetap keras kepala untuk terus menunggumu. Meski kata orang menunggu itu menyakitkan, tapi bagiku lebih menyakitkan jika aku melihatmu yang menungguku. Kita berjanji untuk tetap menunggu meski salah satu dari kita datang terlambat melebihi waktu yang telah dijanjikan dan aku menyanggupinya karena aku tau terkadang aku yang datang terlambat ke tempat yang dijanjikan. Tapi kali ini aku gak mau terlambat lagi, aku akan menunggumu meski kau terlambat sampai seabad sekalipun, aku tetap akan menunggumu disini.


Bangku taman ini sudah berlumut karena hujan yang terus-terusan mendera, global warming memberi efek cuaca yang gak beraturan. Bangku di sudut taman yang sudah kita janjikan, hari ini aku menunggumu lagi disini. Aku yakin kau gak akan lupa akan janji kita, hari minggu di bangku sudut taman. Aku gak akan salah dengan tempat yang sudah kita janjikan, di taman ini hanya ada satu bangku yang berada di sudut taman. Bangku yang bisa membuat kita melihat kendaraan yang lalu lalang di jalan raya, bangku yang bisa membuat kita bercerita tentang kehidupan kita tanpa takut terdengar orang lain karena memang tempatnya berada di sudut taman yang jarang dilalui orang.

Hari minggu, banyak orangtua dan anak mereka yang bermain di taman ini. Aku sudah berada disini jauh sebelum mereka datang karena aku gak mau terlambat dan melihatmu menungguku di bangku ini sambil terus-terusan melihat jam tanganmu, aku gak mau melihat wajah protesmu yang membuatku semakin gemas untuk mencubiti pipimu, aku gak mau melihatnya meski aku selalu bahagia kala aku memandangi wajah imutmu itu.

Sudah waktunya untuk menepati janji tapi kau tetap tak terlihat di ujung jalan itu, apa kau lupa akan janji kita? Tidak mungkin kan jika kau melupakan janji untuk bertemu di bangku sudut taman ini di hari minggu. Apa kau memang berniat untuk terlambat dan menutup mataku dari belakang seperti yang sudah kau lakukan padaku sebelumnya kala aku datang terlebih dahulu di tempat yang kita janjikan dan menunggumu. Aku tersenyum mengingat kelakuanmu yang seperti itu, kau selalu melakukannya, menutup mataku dari belakang dan mengecup pipiku.

Aku yakin kau pasti datang ke taman ini untuk menepati janji kita, janji untuk bertemu di bangku di sudut taman ini. Aku harus tetap menunggumu karena keyakinanku bahwa kau akan datang di hari minggu ini sungguh sangat kuat, bukankah keyakinan seorang kekasih tidak bisa diragukan lagi.

Matahari yang sudah berada di sebelah barat membuat bayangan bangku taman ini terlihat bagus dengan background warna jingga-jingga keemasan. Ternyata aku masih disini, masih berada di bangku di sudut taman ini. Aku masih menunggumu dan keyakinanku ini mengatakan bahwa sebentar lagi kau akan datang. Aku gak ingin melewatkan saat-saat kedatanganmu, aku ingin melihat wajah yang selalu memaksakan senyum itu datang dan melambaikan tangan dari jauh.



Tentu saja kau pasti datang karena keyakinanku mengatakan kau akan datang ke taman ini, aku melihatmu berlari-lari kecil sambil melambaikan tanganmu. Kau memaksakan senyum itu, aku sungguh merindukanmu.

Aku tau kau pasti datang, meski ternyata bukan untukku. Kau datang untuk mereka, istri dan anakmu. Aku tau kau tidak melupakan janji kita, karena kau menungguku disini hingga waktu yang kita janjikan kadaluwarsa selama sehari. Aku telah melanggar janji kita, aku meninggalkanmu dari dunia fana ini. Sebuah kereta telah membuat tubuhku hancur karena aku tau aku terlambat, aku menerabas palang kereta api dan berharap bisa menepati janji kita. Tapi aku sungguh menyesal telah membuatmu menungguku selama sehari, aku menyesal dan bertekad untuk menebus dosaku padamu. Aku menunggumu disini di bangku sudut taman ini dan sudah 10 tahun ini aku menunggumu. Kau tetap seperti dulu, setiap hari minggu kau kemari dan aku selalu bisa melihat senyum dan lambaian itu.

Selama 10 tahun ini kau selalu datang ke taman ini setiap sore, dan selama 10 tahun ini juga aku berada disini di tempat yang sudah kita janjikan di bangku sudut taman hanya untuk melihatmu meski kau sudah tak bisa melihatku lagi.

48 comments:

  1. Wah..tragis amat ceritanya non, kalo gitu ada benernya juga tuh pepatah jawa yang mengatakan alo-alon asal kelakon...he..he

    ReplyDelete
  2. kasihan amat sih disuruh menunggu melulu

    ReplyDelete
  3. "Matahari yang sudah berada di sebelah barat membuat bayangan bangku taman ini terlihat bagus dengan background warna jingga-jingga keemasan"
    aduuuhhhh saya bisa membayangkannya deh.... mantap ceritanya, mbak!

    ReplyDelete
  4. menunggu memang pekerjaan paling "menyebalkan" didunia............

    kirain bangku taman ntu yg nunggu!! ternyata hantu ya?!?!?!............bagus vit!!!

    ReplyDelete
  5. saya sepertinya udah pernah baca cerita seperti ini, tapi dimana yah?? apakah saya dejavu???

    ReplyDelete
  6. hikz.. :( cerpennya keren. membuatku hanyut dan terharu.. uwaaaaaaaaaaaaaa, mama :((

    ReplyDelete
  7. @rangga, ia nih sama, saya juga pernah baca cerita ini, ^_^ tp gpp emang ceritanya bagus koq :)

    ReplyDelete
  8. hayaahh endingnya gg diduga hahah kereen kaak fit :)

    ReplyDelete
  9. Penantian yang panjang..kayaknya belum berakhir..moga penantian itu ada makna kebaikan...nice cerita vie..

    ReplyDelete
  10. waahh.. yg ini keren banget neh fit!! sumpee deehh,, hehe... keep writing yah!!

    ReplyDelete
  11. jangan tunggu lama lama, nanti lama lama bisa diambil orang??

    hehehe nyambung gak sih?

    ReplyDelete
  12. bunuh diri di tabrak kereta?
    ngeri amat >.<



    btw, sungguhkah dia meninggal karna kebanyakan makan mie? *ngeri mode on* mie instant kan tapinya bukan mie basah mie ayam gitu?

    ReplyDelete
  13. arwah kesasar ya mak, hihhh seremmmmm

    ReplyDelete
  14. ak sering ngebayangin kalau aku yg mati, apa ada yg tau ya klo ak ud ga ada wkkwkwk

    ReplyDelete
  15. wah jadi ditaman itu ada hantunya.. ngeri ah.. hehehe..

    ReplyDelete
  16. Diksi *gak* buat kesan seramnya agak hilang, vit.. (mulai lagi cerewetnya....)

    Tapi, udah bagus kok, neng. :)
    Ga papa sibuk, gek juga.. (T.T)

    ReplyDelete
  17. Menyedihkan, sekaligus seram vie
    dia selalu menepati janji
    Tapi Tuhan berkehendak lain

    ReplyDelete
  18. hiiiiiy... koq saya jadi merinding ya Vie baca cerpen kamu kali ini, masak uda kelindas kereta mash bisa cerita?

    Jadi hantu ya dia? hiiiiiiy... takut...

    ReplyDelete
  19. hiiiiiy... koq saya jadi merinding ya Vie baca cerpen kamu kali ini, masak uda kelindas kereta mash bisa cerita?

    Jadi hantu ya dia? hiiiiiiy... takut...

    ReplyDelete
  20. salam sobat
    wah duduk sendiri di sudut taman itu,,rasa bosan dan pastinya serem kalau ada hantunya.
    siip banget VIE_,,kisahnya.

    ReplyDelete
  21. asik2an baca postingmu mo komen... tengtong... kotak komennya ngga bisa.. yaudah deh reload...

    huhu.. aku baca cerpen yang kamu link di kata menyesal aaaahhhhh......


    jangan-jangan ada yang nungguin aku tiap aku pulang kampus malem-malem huaaaa!!! *mlayu

    ReplyDelete
  22. ngeri membacanya....
    kuntilanak nih di jalur kereta..

    ReplyDelete
  23. aku kok seperti masuk dalam dunia kisah ini sedih banget menunggu dan terus menunggu

    ReplyDelete
  24. Wah sedih endingnya viet.
    Terharu bacanya.

    ReplyDelete
  25. Buset.. Nggak pernah nyerah tuh orang.....

    Jgn sampe lumutan gara2 nungguin janji...


    btw met tahun baru mbak....

    ReplyDelete
  26. kunjungan rutin pagi hari.. saat sang surya menampakan hajatnya dari timur... hembusan udara pagi yang menyejukan ku hingga dalamnya tulang, dan suara bising knalpot yang terus mengajarkan ku untuk tetep sibuk memandangi kendaraan yang berlalu lalang di depan ke dua bola mata ku yang indah.. hahhaa.. kunjungan balik siap di terima...

    ReplyDelete
  27. wah... bagus.. bagus... :)
    i like it mbak..

    ReplyDelete
  28. aku paling benci menunggu.... huhuhuh.... keren viet....

    ReplyDelete
  29. sedih endingnya.. bagus ceritanya..

    untungnya saya ga bermasalah dengan sad ending.. kalo ga saya minta pertanggungjawabannya membuat saya sedih.. hehe

    ReplyDelete
  30. kata orang menunggu itu nyebelin tapi kalo nunggunya nyambi baca buku, makan es krim atau lagi i-net an gak ngebosenin kali yah

    tapi kalo nunggu janjinya orang aaarrhhhh....

    ReplyDelete
  31. suara, dengarkanlah akuuu... aku menunggmuuu.. didalam hatikuuu.. #halah #malahnyanyi

    ReplyDelete
  32. menunggu itu derajatnya lebih terhormat dari ditunggu lho.
    hehehe.

    ReplyDelete
  33. TIGAPULUH KELIAMKSSS!!!!


    *cabut dulu aahhhh*

    ReplyDelete
  34. halo halo... mampir lagi di sini...

    oiya, ada award buat mbak dr blog aku... liat dan ambil di sini : http://ferdifauzan.blogspot.com/2009/12/berbagi.html

    makasih banyaaakkk....

    ReplyDelete
  35. datang untuk duduk di Blog ini menyapa teman

    ReplyDelete
  36. Waduh lama banget gk berkunjung kemari ternyata tetep menungguku ta hahaha

    ReplyDelete
  37. Selamat Pagi…selamat berhari senin yang INDAH..hehehe
    kunjungan perdana nich...hehehehe
    salam kenal dalam persahabatan
    great posting

    ReplyDelete
  38. Dapat masalah apa lagi vi, rasanya kamu hebat banget meski tak putus dirundung malang tetap senyum

    ReplyDelete
  39. wah..setia sekali menunggunya...

    ReplyDelete
  40. Huhuhu... twist yang bagus, cuma cerita seperti itu menyakitkan... huhuhuhu....

    ReplyDelete
  41. Whew... kisah nyata nih? mudah-mudahan nggak.

    blog saya, Blog Bisnis

    ReplyDelete
  42. hiks... :'( sedih amatt cerita nya...
    I Love It :)

    ReplyDelete

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com