23 Dec 2015

Bukan Nama Za

0

Nama siapa yang kini engkau gurat di hatimu, Tuan?

Za terpaku di tempat duduknya. Dua meja di depannya, duduk seorang lelaki, sendiri, hanya diam dengan tatapan mata kosong. Secangkir kopi diletakkan pelayan di meja lelaki tersebut, namun lelaki itu tetap diam, bahkan mengangguk kecil saja tidak. Za terus memperhatikan, terpaku. Ada sesuatu pada lelaki itu yang membuat Za tak berkedip.

Sudah tiga puluh menit Za terpaku di tempat duduknya, dan lelaki itu masih saja diam. Secangkir kopi yang diletakkan pelayan masih tergeletak disana, tak tersentuh, dingin. Lelaki itu masih saja diam, bahkan berkedip saja tidak. Za masih memperhatikan, terpaku. Ada sesuatu pada lelaki itu yang membuat Za ingin tahu.
*
Apa yang membuatmu terdiam?
Bahkan engkau memilih menyendiri di dalam keramaian.
Apa yang membuatmu membisu?
Bahkan engkau memilih tersedu di dalam hiruk pikuk.

Lihat Tuan.
Lihat sekelilingmu.
Bahagia seakan takut untuk mendekatimu.
Angin seakan takjub dengan sendirimu,
ia memilih melewatimu.

Lihat Tuan.
Lihat sekelilingmu.
Ada senyum yang menari-nari di udara.
Ada tawa yang berkejaran dalam cerita.
Dan kau memilih bungkam.

Apa yang membuatmu terpaku?
Bahkan engkau memilih mematung di dalam elastisitas hidup.

Kemarilah Tuan.
Duduk disini, bersamaku.
Aku ingin sekali mendengar ceritamu.
Tentang nama wanita yang aku baca di pantulan sinar matamu.
*
Tiga puluh menit, kali kedua. Lelaki itu berdiri, menghampiri kasir, membayar, lalu beranjak keluar. Za mengikutinya lewat ekor mata, dan ekor matanya benar-benar berhenti tepat saat lelaki itu berdiri diluar jendela kaca sebelahnya. Tatapan mata Za bertumbukan dengan lelaki itu. Za mengangkat telapak tangannya, tanpa sadar. Namun tangannya hanya menempel pada jendela kaca, bergerak, berusaha meraih sinar mata itu.

Siapa wanita itu, Tuan?

Za terpaku di tempat duduknya. Tangannya masih menempel di jendela kaca. Tatapan matanya bertumbukan dengan tempat yang sedetik lalu ditempati mata lelaki tadi. Napasnya tertahan. Za mengetahui satu hal. Nama yang ia baca pada pantulan sinar mata lelaki itu bukanlah namanya.
***

Surabaya
10/12/2015-14:43

Related Posts:

  • Perihal Rindu Aku tak lagi merindukanmu Rindu mengetuk hatimu, sekelebat. Kamu tak menggubrisnya, membiarkan ia tergeletak tak bertuan. Aku memungut rindu, di … Read More
  • Nona Kesepian #2 Tetaplah berdiri didepanku, membelakangi dan jangan menoleh. Hei kamu yang ada disana. Iya, kamu yang lagi berdiri dengan pongahnya, si Tuan Bes… Read More
  • Luka Aku ingin mengusirnya pergi, tapi luka itu semakin lekat. Rei kembali melirik jam di tangannya. Jarum panjang terlihat bergerak perlahan, satu men… Read More
  • Nona Kesepian #3 Kopi itu untukmu, bukan kopi pahit. Manisnya berasal dari kerinduan yang menumpuk. Hai Tuan Besar yang suka tertawa. Sudahkah kamu bercerita perih… Read More
  • Nona Kesepian #5 Kamu sudah tidak lagi hadir. Membiarkan Nona semakin kesepian, memeluk diri sendiri, menangis di ujung senja. Kamu sudah tidak lagi hadir. Membiark… Read More

0 orang yang sudi mengomentari:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com