8 Dec 2015

Nona Kesepian #1

0

Akulah Sang Nona Kesepian
 Akulah Sang Nona Kesepian, hanya menghabiskan waktu menekuri perasaan. Sudah tak terhitung lagi berapa detik kuhabiskan hanya untuk menggurat wajah Tuan di desau angin. Tak kupedulikan tatapan orang yang mencoba ingin tahu, tak kuhiraukan rentetan pertanyaan yang berisi kalimat-kalimat prihatin. Telingaku telah kebas dengan makian, cacian, pertanyaan atau apapun itu.

Akulah Nona Kesepian itu, yang lebih memilih untuk memeluk rindu kepada Tuan Besar yang entah ada dimana. Meski mereka menjulukiku sebagai Nona Kesepian, tapi duniaku berbanding terbalik. Mereka mungkin tak mendengarnya, tapi ada suara yang dengan lantangnya berteriak memekakkan telingaku, menyebut nama Tuan Besar. Mereka mungkin tak melihatnya, tapi ada rombongan orkestra yang selalu menyanyikan musik klasik yang indah seiring detak jantungku yang berirama.

Akulah Si Nona Kesepian yang masih menunggu kepulangan Tuan Besar, yang terus bermain-main dengan prasangka-prasangka, yang terus bercerita tentang harapan-harapan kepada Yang Maha Kuasa. Memang benar, akulah Nona Kesepian, yang kini bahkan mulai bertanya-tanya di dalam sepi. Benarkah yang aku lakukan Tuan, terus melukis rindu di kanvas hati? Benarkah semua perasaan ini Tuan, terus menunggumu pulang meski kau tak ingin pulang?

Bicaralah Tuan, katakah salah jika aku salah, jangan hanya terdiam bak patung kayu. Bahkan sebuah patung pernah hidup hanya untuk membahagiakan pemahatnya, itulah si pinokio. Bicaralah Tuan, meski kau tak sanggup bicara. Akulah yang akan tetap menjadi Nona Kesepian, yang tetap membiarkan waktu berlari tanpa pernah menitipkan rindu untuk hati, apalah gunanya? Toh aku tetap akan menjadi Si Nona Kesepian.


Surabaya
03/10/2015-21:11
Note di Ponsel Pintar

Related Posts:

  • Nona Kesepian #2 Tetaplah berdiri didepanku, membelakangi dan jangan menoleh. Hei kamu yang ada disana. Iya, kamu yang lagi berdiri dengan pongahnya, si Tuan Bes… Read More
  • Nona Kesepian #3 Kopi itu untukmu, bukan kopi pahit. Manisnya berasal dari kerinduan yang menumpuk. Hai Tuan Besar yang suka tertawa. Sudahkah kamu bercerita perih… Read More
  • Nona Kesepian #6 Ia tetaplah si Nona Kesepian, ada atau tidak adanya dirimu Tuan. Halo Tuan, sudah lama aku tidak melihatmu. Waktu itu kamu datang sekejap, aku men… Read More
  • Nona Kesepian #4 Ia menunggumu untuk melihat rumput yang bergoyang Apa kabar Tuan? Apakah harimu masih sesibuk hari kemarin? Apakah kali ini kamu sudah mencoba mel… Read More
  • Nona Kesepian #5 Kamu sudah tidak lagi hadir. Membiarkan Nona semakin kesepian, memeluk diri sendiri, menangis di ujung senja. Kamu sudah tidak lagi hadir. Membiark… Read More

0 orang yang sudi mengomentari:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com